Politik Islam Terhadap Perempuan

Selasa, 13/07/2010 10:29 WIB | Arsip | Cetak

Oleh


Politik memang lapangan yang khas karena sangat terkait dengan masalah kebijakan, kekuasaan, dan secara praktik banyak disalah gunakan oleh kelompok masyarakat. Pada era ini iklim perpolitikan memberikan tempat bagi kaum perempuan untuk berkiprah.

Hal ini merupakan tantangan bagi para Muslimah untuk berpartisipasi didalamnya. Sekaligus merupakan peluang untuk menerjemahkan konsep-konsep Islam secara riil kedalam bidang-bidang kehidupan. Bagaimana sebuah kebijakkan yang lahir nantinya sesuai dengan nilai-nilai Islam, mampu mengangkat aspirasi dan kepentingan kaum perempuan yang tertindas, adalah harapan yang muncul dari tampilannya perempuan didalam lembaga-lembaga semacam parlemen.

Kaum perempuan memiliki eksistensi yang tak pernah dinomorduakan Islam. Kaum perempuan memiliki harkat keluhuran yang diakui Islam. Bahwa kebaikan tidak bergantung kepada jenis kelamin, tetapi lebih kepada kedalaman iman dan amal shalih masing-masing individu yang akan melahirkan keshalihan pribadi dan keshalihan sosial.

Politik dan Perempuan

Untuk memahami peran politik perempuan, pada awalnya bisa dilihat dari penghargaan Islam kepada kaum perempuan yang tampak nyata pada realitas penerapan ajaran dan sejarah kaum Muslimin sejak generasi pertama. Orang pertama yang mengimani Kerasulan Nabi Muhammad SAW adalah Khadijah. Orang pertama yang gugur dalam membela kebenaran adalah Sumayyah. Islam juga menetapkan penghormatan tiga kali kepada Ibu, kemudian kepada Ayah. Bahkan surga diberikan dibawah telapak kaki kaum Ibu.

Elaborasi panjang dalam wacana sosial dan politik tetap diperlukan dalam upaya menemukan jati diri perempuan dan laki-laki dibidang ini dengan rambu-rambu bahwa landasan sistem politik dalam Islam adalah keimanan kepada Allah.

Perluasan Kerja Dakwah Dalam Politik

Ibadah adalah motivasi yang mengikat semua pihak dalam pekerjaan bidang politik.
Kerja diranah politik harus dipahami sebagai upaya menebar dakwah sejak dari masyarakat hingga kepusat pengambilan keputusan. Ketika kaum perempuan terlibat dalam dunia politik, maka perluasan medan dan jaringan kerja dakwah diharapkan semakin mengembang. Keterlibatan perempuan sebagai anggota legislatif adalah prosesi perluasan mimbar-mimbar dakwah.

Demikian pula upaya pencarian suara dalam Pemilu oleh parpol Islam harus dipahami sebagai meneguhkan dan memperluas jaringan kerja dakwah. Dengan perolehan suara maksimal, semakin banyak pelaku dakwah yang akan dikirim ke lembaga legislatif. Semakin banyak perwakilan partai Islam di lembaga legislatif, akan semakin kuat pula pengaruh dakwah didalamnya.

Keberadaan Perempuan di Medan Perang

Peperangan adalah salah satu bentuk partisipasi politik dalam urusan kedaulatan suatu negara. Laki-laki dan perempuan di zaman keemasan Islam telah berpartisipasi aktif membela kebenaran dan menegakkan supremasi daulah. Rasulullah SAW tidak menolak keterlibatan para Akhwat Muslimah dalam berbagai macam peperangan, untuk berbagai peran yang mungkin mereka lakukan.

Sebagaimana Ar Rubayyi’ binti Mu’awwidz, bersama Nabi dalam peperangan dan bertugas memberi minum prajurit, melayani, mengobati yang terluka dan mengantarkannya ke Madinah. Juga Ummu Sulaim pada perang Hunain. Diperang Uhud ada Ummu Imarah yang melindungi Rasulullah SAW dengan senjatanya.

Hal ini menunjukkan para sahabiat yang semata-mata bekerja disektor logistik dan kesehatan, akan tetapi berperan dalam perlindungan diri dan bahkan perlindungan terhadap Nabi SAW. Serta Ummu Imarah binti Ka’ab, seorang perempuan Banu Mazin dan Asma’ binti Amr bin Adi, perempuan Bani Salamah, dalam Bai’at Aqabah kedua bersama tujuh puluh tiga kaum laki-laki.

Kisah Asma’ binti Abu Bakar yang menentang Al Hajjaj menjadi salah satu kisah monumental bagaimana peran mereka dalam menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar, serta keterlibatan mereka dalam urusan kebaikan negara. Dan masih banyak sahabiah lainnya yang patut di tauladani.

Kesadaran dan Partisipasi Sosial dan Politik

Dalam konteks peran politik ini, perempuan Muslimat bahkan memiliki peluang yang lebih luas lagi.Perempuan Muslimah seperti halnya kaum laki-laki, dituntut untuk peduli terhadap masalah-masalah sosial dan politik yang berkembang dalam masyarakat. Kaum Muslimah dituntut untuk ambil bagian sesuai dengan batas-batas kemampuan dan kondisinya dalam membangun masyarakat melalui kegiatan amar ma’ruf wa nahi munkar serta memberikan nasehat, atau dengan mendukung usaha-usaha yang positif dan menentang hal-hal yang negatif.

Hal ini dipengaruhi juga dengan sasaran pendidik bagi anak-anak laki-laki maupun perempuan dalam rumah tangga kaum Muslimin harusnya mencakup pembekalan mereka dengan pengetahuan-pengetahuan dasar mengenai kondisi sosio politis dan menumbuhkan rasa kepedulian mereka terhadap masalah-masalah tersebut, termasuk penyadaran akan peran yang wajib mereka lakukan dalam bidang sosial dan politik.

Perempuan memiliki peran signifikan tatkala menjadi Ibu, untuk memerankan fungsi pendidikan sosial dan politik dalam rumah tangga. Suasana keluarga memegang peran yang penting dalam pendidikan politik. Cinta, kasih sayang dan kemesraan hubungan yang diperoleh dalam keluarga merupakan sesuatu yang dapat mencetak jiwa dan perilaku sosial serta politik mereka. Wallahu a’lam

Penulis adalah Direktur HELEN (Konsultan PAUD)
Dapat di hubungi melalui e-mail
yoeni_38@yahoo.com

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Muslimah

Terkait


Manajemen dan Disiplin

Ketika aku memasak dan mengiris bawang, aku berpikir bahwa seorang ibu harus punya thinking skill dan juga managerial skill, agar hal ini tidak membuat hari-harinya habis hanya untuk urusan rumah ta …

LKC Dompet Dhuafa Latih Kader Pos Sehat Ke-27

CIPUTAT – Sebanyak 15 orang Kader Pos Sehat Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Jawa Barat mendapatkan pelatihan persiapan pembukaan  Pos Sehat LKC dompet Dhuafa. Pelatihan ini sebaga…

ACT Kirim Tim Trauma Healing ke Aceh

          Gempa yang mengguncang Aceh memang berkekuatan besar, 8,5 skala Richter cukup untuk mengulang kisah kelam saat gempa berkekuatan sama memicu Tsunami 2004 silam. Ke…

Jangan ambil nyawaku…, sebelum berhasil mengambil air

Awalnya Musrifah, istri mantan Kepala Pusat Penelitian dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Husein, tidak percaya kalau ada sumber air di Gua Pego Dusun Tlogo Warak, Desa Giri Purwo, Kecama…

Pak Boih, ”Memperbaiki Hidup Melalui Program Misykat”

Skenario Allah swt memang selalu mengagumkan. Unik. Dan terkadang tidak pernah terpikir sedikitpun oleh kita. Melalui jalan yang sulit maupun yang mudah. Yang panjang maupun yang singkat. Selalu ada…


BSM Terima Penghargaan Service Excellence Award 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) kembali menoreh prestasi sebagai  Award Service Excellence Award 2012. Penghargaan kali ini diberikan oleh  Carre Customer Satisfaction & Lo...

Bedah Film Negeri 5 Menara di Universitas Mercubuana
Karya Anak bangsa yang mulai tayang perdana 1 Maret 2012 ini terus mendapat apresiasi yang luar biasa dari masyarakat Indonesia. Salah satunya melalui Bedah Film Nasional N5M ...

Baso Jadi Nominator di Festival Film Bandung
Alhamdulillah, Film Negeri 5 Menara yang disponsori oleh  iB Perbankan Syariah bank Indonesia mendapatkan apresiasi dari masyarakat Indonesia baik dalam maupun luar negeri . ...

Ekonomi Syari’ah, Kunci Atasi Krisis Global
Berbagai kelemahan yang terdapat pada bank konvensional menjadi isu utama penyebab krisis keuangan global. System ekonomi syari’ah memiliki daya tahan yang kuat terhadap kri...


Peluang