Ketika Perempuan Harus Menjadi Buruh Migran

Senin, 19/09/2011 11:15 WIB | Arsip | Cetak

Oleh Ryan Muthiara Wasti, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Indonesia

Sudah berkali-kali berita tenaga kerja migran perempuan mendapat perlakuan yang tidak berkemanusiaan terdengar. Bahkan hingga telinga pun bosan mendengarnya. Bentakan, tindak kekerasan, hingga pelecehan seksual menjadi makanan sehari-hari mereka. Pemerintah seperti pemadam kebakaran, baru bertindak setelah ada korban, baru meminta maaf tatkala media mulai bersuara… atau hanya sekadar alasan masih banyak permasalahan bangsa yang mesti diselesaikan?

Sulit untuk mencari siapa yang salah, bahkan kalaupun secara hukum telah nyata siapa yang salah, bisa dipastikan pemerintah hanya akan berkilah dan menuding pihak lain seolah dirinya tak bersalah. Sulit untuk mengubah tingkah polah para policy maker yang tampak bersahaja namun penuh retorika, hanya memberikan janji buta pada mahasiswa bahwa mereka akan berusaha memperjuangkan rakyat jelata.

Maka, kali ini tak usahlah melihat ke atas ataupun ke bawah, lihatlah layaknya seekor ayam memandang 180 derajat untuk bisa waspada akan musuh yang akan datang tiba-tiba. Waspada di sisi kiri kemiskinan menjadikan perempuan Indonesia seolah berubah tangkas dan harus “berotot” menghadapi segala resiko yang mungkin terjadi di lingkungan kerja yang tidak selamanya bersahabat. Waspada di kanan masih banyak perempuan belum paham dengan kodratnya sebagai perempuan. Dan sekarang, di depan mata ternyata belum terselesaikan juga permasalahan migran yang sejak dahulu sampai sekarang seakan sedikitnya data korban menjadi alasan untuk tidak sesegera mungkin menyelesaikannya.

“Mereka juga manusia," kata salah seorang mahasiswa ketika perwakilan dari kemenakertrans menyampaikan bahwa TKI yang bermasalah itu hanya tidak sampai 1% dari ribuan TKI yang ada. Yah, mereka juga manusia, bahkan kalaupun hanya satu orang saja yang menjadi korban maka bisa disimpulkan bahwa ada kesalahan disana. Proses pengiriman, mulai dari penyeleksian hingga penempatan seharusnya dievaluasi dan diperbaiki baik sistem maupun oknum yang terlibat di dalamnya.

Permasalahan terbesar sebenarnya adalah kemiskinan. Negara kita belum bisa menjamin keberlangsungan hidup dari warga negaranya, padahal sudah jelas salah satu hak asasi manusia dalam UUD 1945 adalah hak untuk hidup, mendapat penghidupan yang layak dan hak mendapat pekerjaan.

Lagi-lagi yang terlihat adalah negara yang belum siap dengan jumlah warganya yang begitu besar dan permasalahan yang begitu kompleks. Ini berdampak pada perlindungan terhadap para “tiang negara” yaitu perempuan. Kewajiban memberi nafkah dalam keluarga hanya ditujukan bagi suami (laki-laki). Perempuan (istri) ketika memberikan penghasilan kepada keluarga dianggap sebagai sedekahnya, maka yang bertanggungjawab terhadap keuangan keluarga seharusnya adalah suami.

Namun, permasalahannya adalah dengan lapangan pekerjaan yang sedikit serta kemampuan yang tidak seberapa mengakibatkan para suami belum mendapat penghasilan yang mencukupi keluarganya, masih banyak yang berada di bawah garis kemiskinan yang akhirnya “memaksa” perempuan untuk ikut terjun ke dunia kerja bahkan dalam lapangan yang “tidak ramah ” perempuan. Salah satunya adalah menjadi buruh migran. Walaupun hanya janji yang diucapkan PJTKI maupun dari calo yang ilegal yang tidak pasti, perempuan akhirnya bersemangat untuk meraup rezeki yang masih fatamorgana, ada atau khayalan belaka yang berselimut ketidakpastian.

Maka, kunci dari permasalahan ini adalah, adanya jaminan sosial terhadap seluruh warga negara akan kehidupan yang layak yang diberikan negara terhadap warga negaranya, serta kembali kepada fitrah bahwa tanggungjawab nafkah dalam keluarga adalah dari suami bukan istri sebagai wujud balasan terhadap kelebihan yang dimilikinya namun tidak dimiliki oleh perempuan.

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka telah memberikan nafkah dari hartanya…” (QS An-Nisa’ 34).

Wallahu’alam bishshowab..

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Muslimah

Terkait


Manajemen dan Disiplin

Ketika aku memasak dan mengiris bawang, aku berpikir bahwa seorang ibu harus punya thinking skill dan juga managerial skill, agar hal ini tidak membuat hari-harinya habis hanya untuk urusan rumah ta …

LKC Dompet Dhuafa Latih Kader Pos Sehat Ke-27

CIPUTAT – Sebanyak 15 orang Kader Pos Sehat Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Jawa Barat mendapatkan pelatihan persiapan pembukaan  Pos Sehat LKC dompet Dhuafa. Pelatihan ini sebaga…

ACT Kirim Tim Trauma Healing ke Aceh

          Gempa yang mengguncang Aceh memang berkekuatan besar, 8,5 skala Richter cukup untuk mengulang kisah kelam saat gempa berkekuatan sama memicu Tsunami 2004 silam. Ke…

Jangan ambil nyawaku…, sebelum berhasil mengambil air

Awalnya Musrifah, istri mantan Kepala Pusat Penelitian dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Husein, tidak percaya kalau ada sumber air di Gua Pego Dusun Tlogo Warak, Desa Giri Purwo, Kecama…

Pak Boih, ”Memperbaiki Hidup Melalui Program Misykat”

Skenario Allah swt memang selalu mengagumkan. Unik. Dan terkadang tidak pernah terpikir sedikitpun oleh kita. Melalui jalan yang sulit maupun yang mudah. Yang panjang maupun yang singkat. Selalu ada…


BSM Terima Penghargaan Service Excellence Award 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) kembali menoreh prestasi sebagai  Award Service Excellence Award 2012. Penghargaan kali ini diberikan oleh  Carre Customer Satisfaction & Lo...

Bedah Film Negeri 5 Menara di Universitas Mercubuana
Karya Anak bangsa yang mulai tayang perdana 1 Maret 2012 ini terus mendapat apresiasi yang luar biasa dari masyarakat Indonesia. Salah satunya melalui Bedah Film Nasional N5M ...

Baso Jadi Nominator di Festival Film Bandung
Alhamdulillah, Film Negeri 5 Menara yang disponsori oleh  iB Perbankan Syariah bank Indonesia mendapatkan apresiasi dari masyarakat Indonesia baik dalam maupun luar negeri . ...

Ekonomi Syari’ah, Kunci Atasi Krisis Global
Berbagai kelemahan yang terdapat pada bank konvensional menjadi isu utama penyebab krisis keuangan global. System ekonomi syari’ah memiliki daya tahan yang kuat terhadap kri...


Peluang