Tayangan TV untuk Anak Muslim, Adakah yang Peduli?

Magdalena – Senin, 9 Rajab 1431 H / 21 Juni 2010 10:23 WIB

Pernah melihat tayangan film anak di salah satu saluran TV swasta yang isinya tentang ajaran agama tertentu? Isinya menggambarkan dan mengenalkan dewa dewi agama bersangkutan, yang dikemas dan dipadupadankan dengan binatang-binatang lucu, yang pada akhirnya menarik perhatian anak. Saya memprediksikan (walau mungkin tidak akurat), bahwa rating film tersebut dapat menggeser film monumental Upin dan Ipin, dilihat dari tayangan iklannya yang padat.

Saya pernah beberapa kali memperhatikan alur ceritanya, menarik memang.
Dalam salah satu alur cerita, diceritakan sang tokoh sentral, yang notabene masih kanak-kanak, diculik oleh dewa kejahatan (maaf, saya tidak ingat namanya), yang mempunyai postur raksasa, kira- kira sebesar rumah, tapi karena kesaktian anak tersebut, sang raksasa berhasil dikalahkan, dan kembalilah sang anak ke pangkuan ayah bundanya.
Adegan mengalahkan kejahatan ini beberapa kali terjadi berkat bantuan dewa (konon seperti itu).

Di pertengahan filim ini, untuk lebih menarik, kadang diselingi oleh nyanyian lengkap dengan dansa-dansinya, dimana karakter-karakter binatang ikut bergoyang, tapi mirisnya, isi lagunya adalah berupa puji-pujian dari ajaran agama tersebut.

Saya tertarik untuk mengangkat masalah ini, karena saya berpikir, dari sekian puluh juta keluarga yang hidup di Indonesia, berapa persen sih yang sudah berhasil mengalihkan anak- anaknya dari tayangan- tayangan ke arah yang lain, atau berhasil disensor oleh orang tuanya? (termasuk saya pribadi masih agak susah untuk dapat seratus persen mengontrol tayangan TV bagi anak- anak).

Artinya, film- film seperti yang saya ceritakan di atas, tidak perduli muatannya tentang ajaran agama lain yang dapat merusak akidah anak, atau apa, keluarga di seluruh Indonesia dapat menikmati tayangannya dengan suka cita, tanpa memperhitungkan akibat kedepannya bagi anak. Ditambah rating iklan yang berjubel, yang dapat menaikan omset bagi TV yang menayangkannya, akan terus menyebabkan tayangan film bersangkutan tetap dipertahankan.

Jelas kita tidak mungkin meminta menyetop tayangan film seperti itu (atau bisakah?), karena yang hidup di Indonesia bukan hanya agama Islam, entahlah. Tapi, yang pasti, saya memikirkan sebuah solusi.

Teringat dulu, saya pernah aktif dalam sebuah sanggar boneka, saya beserta tim (3 orang), keliling dari sekolah ke sekolah, memenuhi undangan kenaikan kelas, untuk menghibur anak- anak. Tidak ada biaya yang dipatok, asalkan cukup untuk naik taksi mengangkut perlengkapan, itu sudah cukup bayaran untuk kami. Semua senang, anak- anak pun sangat antusias.

Tapi, karena managemen yang ala kadarnya, dan personil yang semakin disibukan oleh semakin bertambahnya anak, maka sanggar boneka ini mulai vakum, dan berhenti total.

Saat ini, kegiatan mendongeng di kalangan aktivis pendidikan mulai digiatkan kembali, melalui kegiatan-kegiatan yang lebih professional. Nah, saya berpikir, jika saja ada pihak-pihak yang kelebihan rezeki, dan kebingungan untuk menyalurkan dana infaq dan shodaqohnya kemana (adakah?), bukankah bisa dialokasikan untuk bidang kesenian?

Eits, jangan berfikir kesenian yang macam- macam, maksudnya, dakwah melalui hiburan, seperti membuat film- film untuk konsumsi anak, yang menarik. Seperti yang pernah digagas oleh Ust.Yusuf Mansur dengan “Wisata Hati” nya yang untuk kalangan dewasa, maka perlu juga digarap hiburan untuk konsumsi anak. Apakah mengangkat kisah kepahlawanan, dengan menampilkan sosok Sayyidina Ali Bin Abi Tholib, misalnya. Ataukah mengangkat kisah perjuangan hidup, yang dapat diwakili oleh sosok sahabat lainnya ….

Mungkin pihak- pihak yang mengetahui betapa mahalnya untuk memproduksi sebuah film, apalagi film yang bermutu dan menarik, pesimis dengan tulisan saya, tapi percayalah, jika kita ada keinginan kearah sana, dan kita berusaha dan berikhtiar menyatukan langkah, mulai dari mencari sumber daya berupa tim kreasi, sampai produser filmnya, pastilah Allah Swt. akan membukakan pintu, dan terwujudlah apa yang diharapkan. Bukankah dahulu, salah satu wali songo (Sunan Kalijaga) berdakwah melalui sarana kesenian berupa wayang?

Mungkin, semua dari kita paham betul, jika sekarang, adalah zamannya ghozul fikr, perang pemikiran, jadi tidak semua lapisan masyarakat dapat dicekoki dengan dakwah ala kebanyakan, apalagi anak- anak kita yang hidup dikelilingi oleh semua yang berbau pengerdilan akidah.

Memang, pastilah membutuhkan profesionalisme dalam hal ini, jika kita ingin muatan syiar Islam diterima kalangan luas dengan kemasan menarik. Kalau tidak kita coba, mana kita tahu ikhtiar kita akan berhasil atau tidak?

Jadi, adakah pihak- pihak yang tergerak untuk mendukung tayangan bebas syirik, dan memuat unsur pendidikan agama?

Penulis: Yuyu Latifah, ibu rumah tangga, tinggal di Vila Mutiara Cikarang, Bekasi.

Muslimah Terbaru

blog comments powered by Disqus