Wahai Wanita, Jangan Pergi Dari Rumah Suamimu

Lalu tiba-tiba saya mendengar suara gelas dibanting, karena saya takut Adilla terkena pecahan gelas, saya nekat masuk ke dalam rumah dan naik ke lantai atas. Di sana saya melihat bapak duduk di sofa sambil menghisap rokok.

Jawaban Masuk:

Agung Darmawan — Senin, 26/07/2010 16:57 WIB

Syukur kunci keikhlasan

Hidup akan terasa ringan kalau kita menjalaninya dengan penuh keikhlasan, hidup terasa berat karena kita tidak pernah mensyukuri nikmat yang Allah swt berikan kepada kita, berapa banyak ayat al-quran yang menjelaskan dalam surat-Nya : ”sedikit saja dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur”, (QS. Saba : 13).

apakah kamu tidak bersyukur?. Hidup akan terasa indah jika kita menikmati setiap detik dan episode dengan bersyukur, bersyukur dan bersabar tidak mengenal kaya atau miskin orang tersebut, bersyukur dan bersabar adalah karakter pribadi orang.

Bahkan imam Al-Ghazali dalam kitabnya ’al-ihya ’ulumuddin dalam babnya tersendiri tentang sabar dan syukur dikategorikan sebagai dua bagian iman, ada juga yang menyebutkan sabar separuh agama dan separuhnya lagi terdapat pada rasa bersyukur.

Saya sangat bersyukur diamanati dan dikaruniai seorang istri yang bersabar, karena isteri bagi saya perhiasan dunia. Mungkin anda sering mendengar kata-kata :” kenapa ya isteri saya tidak solehah, dulu saya mengenalnya tidak seperti itu”. Isteri soleha atau tidak sebenarnya tergantung suami mendidiknya.

Teringat dengan pesan guru di pengajian bahwa meraih sesuatu lebih mudah dan gampang dibandingkan dengan memelihara, merawat dan menjaga, karena ketiga perlakuan tadi sangat sedikit orang bisa menjalaninya, diperlukan kesabaran yang tiada henti dari pihak suami.

Orang lebih sibuk mengenal pribadi orang lain dibandingkan dengan kepribadian sendiri, maka jangan heran kalau ada suami isteri yang sudah lama menikah tetapi tidak mengenal siapa pasangannya.

Bagaimana kita mau mengenal orang banyak, mengenal satu manusia saja kita tidak pernah tahu, padahal kalau kita mau menggali ilmunya Allah swt itu terdapat pada diri pasangan kita, maka saat ini mari kita sempatkan untuk terus mengenal, mengeksplor, menggali siapa pasangan hidup kita.

Kita sering terjebak pada idealisme-idealisme yang sebenarnya itu tidak ada. Mana ada didunia ini yang sempurna.


siwa — Senin, 26/07/2010 17:07 WIB

menyadari setiap perahu yg berlayar tdk begitu saja mencapi tujuan, akan selalu ada gelombang bahkan badai. yang terpenting bagaimana qt menempatkan kecintaan Allah lbh dari apapun juga sehingga kita tak mudah kecewa, marah ataupun putus asa jika menghadapi masalah. Sadarilah suami kita adalah manusia bukan malaikat sama seperti kita, suatu saat mungkin juga pernah melakukan kesalahan. saling menasehati & memaafkan kesalahan itu adalah menu wajib dalam keluarga.


Eddi Nugroho — Senin, 26/07/2010 17:49 WIB

JIka hati sudah dikuasai oleh nafsu amarah maka bersegeralah untuk berwudhu sekaligus sholat sunnah dan berdoa mohon ampun pada Allah SWT agar diberikan kelapangan hati untuk bersikap sabar & sabar sehingga hati akan tenang kembali


rizki — Selasa, 27/07/2010 08:06 WIB

Idealnya memang bersyukur dan bersabar. Akan tetapi relitanya yang namanya amarah apalagi dalam pertengkaran suami istri termasuk hal yang paling sulit untuk ditaklukkan, apalagi mengharapkannya untuk mereda di momen ketika si istri merasa paling sakit hati. Terlebih kalau istrinya lagi hamil atau PMS dan suami sama sekali tidak peka akan kondisi istri.

Kalau melihat kasus diatas hingga bisa terjadi pertengkaran separah itu, tidak adil rasanya apabila semata-mata menyalahkan istri yang keluar dari rumah. Sebelum ada asap pasti ada api. Jadi apa masalahnya sampai istri merasa rumah sudah segerah neraka hingga ia harus kabur untuk menyelamatkan diri?

Sebelum buru-buru menuding istri sebagai wanita yang dilaknat, ada baiknya melihat dulu dari sisi suami. Kalau dipikir-pikir tugasnya sebagai qawwam dalam rumah tangga tidak bisa dipandang sebelah mata dan besertanya ada tanggung jawab yang berat. Sudahkah dia menjalankan tugasnya dengan baik sebagai pemimpin di dalam rumah tangganya?

Kalau dipikir-pikir, yang namanya rumah tangga itu memang wilayah yang penuh gejolak selain sebagai tempatnya kita bisa merasakan ketentraman jiwa. Wajar lah kalau sampai ada pertengkaran. Seharusnya setelah semua episode amarah, masing-masing pihak baik suami dan istri saling instrospeksi diri agar bisa berbaikan. Tentu saja dukungan dari semua pihak sangat diperlukan dalam hal ini. Oleh karena itu, tingkah pembantu yang tukang bergosip tersebut adalah yang paling harus dimusuhi! Jangan sampai suami-istri yang tadinya hanya berantem biasa gara-gara dikompori oleh gosip akhirnya terpaksa harus cerai beneran.

Tidak seorang manusia pun sempurna di muka bumi ini, baik suami maupun istri.

Wallahu'alam bisshawab.


Rieka Arrakika — Selasa, 27/07/2010 08:55 WIB

Wah namanya juga perempuan, makhluk Allah yang diberi 9 nafsu dan 1 akal, serta diciptakan dari tulang rusuk yan memang sudah bengkok, ya memang sudah begitulah adat kaum perempuan, mareka lebih banyak memaki perasaan dan memang mudah marah dan emosi. Naah... karena laki-laki memiliki 9 akal dan 1 nafsu, maka Kesimpulannya adalah para suami jelas yang harus mengerti para isteri. Suami harus lebih banyak memberikan cinta dan kasih sayang pada isteri, manjalah isteri anda dan beri perhatian yang besar padanya, maka para isteri pun pasti akan lebih mencintai anda para suami. Jika istri sampai pergi dari rumah, berarti ada yang salah dari suaminya.

Mohon opini saya ini jangan di-reject ya...


khadijah — Selasa, 27/07/2010 09:55 WIB

Assalamu'alaykum,
Selayak seorang muslimah, bila menghadapi ujian dalam rumah tangga (berselisih paham) dengan suami, kuncinya hanya satu : SABAR & ISTIGHAFAR setelah itu dilakukan diikuti dengan SHOLAT.
fungsi sabar : meredam amarah suami.
fungsi ISTIGHFAR : memberi dampak kepada hati istri untuk tenang, tidak terbawa situasi "panas" dari suami.
fungsi Sholat : untuk mencari ketenangan dan mohon petunjuk dari Allah SWT.
Insya Allah semua masalah dalam rumah tangga akan menjadi mudah & selesai jika sang Istri adalah wanita sabar,tawaqal.
Saya sharing pengalaman rumah tangga kami yang telah memasuki 25 tahun. Alhamdulillah....pasang surut pernikahan dapat saya lalui hanya karena pertolongan Allah SWT.


kiptiah — Selasa, 27/07/2010 11:21 WIB

Assalamu'alaikum...

Mungkin jawaban yang akan terlontar dari orang-orang yang diberi pertanyaan seperti itu adalah bersabar. Tapi bagi orang yang sedang dilanda kemarahan, kesabaran adalah hal yang tidak/belum terfikirkan. Hendaknya jika kita dalam keadaan marah, jangan mengambil keputusan apapun, jangan melakukan hal-hal apapun yang dapat berakibat fatal. Jadi intinya kepala boleh panas tapi tetap dingin. Anak juga dapat sebagai obat bagi orang tua. Anak adalah titipan. Dengan mengingat anak, yang notabene kita adalah tokoh terdekat yang dijadikan panutan mereka. Maka berbuatlah yang sepatutnya dapat dicontoh oleh anak.
Berpikirlah sebelum bertindak.
Wallahua'lam


andhie28 — Selasa, 27/07/2010 12:34 WIB

Assalamu'alaikum...

semua dilandasi dengan ilmu, u/ mencapai bahagia dunia dengan ilmu, bahagia akhirat dgn ilmu merih kebahagian keduanya dengan ilmu. Insya Allah dengan pemahaman ilmu yang senantiasa kita gali & peroleh sesuai tuntunan Al-Qur'an & sunnah Insya Allah membawa kebahagian duni & akhirat. Sebesar apapun gelombang yg menerpa bahtera Rumah Tangga manakala ilmu kita melampaui gelombang tersebut Insya Allah dapat kita lalui. Jadilah air pada saat pasangan menjadi api Insya Allah semuanya terasa indah dalam koridor ilmu ALLAH (al-Qur'an & Sunnah). Tuntulah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat..(al-Hadist_) jadi jgn bosan sellau belajar wallahu 'alam bishawab

wassalam


yuni — Rabu, 28/07/2010 15:11 WIB

Assalamu'alaykum wr.wb
Mungkin 2 jawaban yang saling bertautan. Apalagi kalau bukan sabar dan syukur.Dg sabar insyaAlloh kita bersyukur.
Dg bersyukur akan memperkokoh kesabaran kita.
Itulah makna kehidupan berumah tangga.
dimana ada saling menghormati, menyayangi, kerja sama dan pemahaman masing2.Jika pasangan kita ada kekurangan itupun sama dg kita. Jika ia ada kelebihan kitapun sama.
Wallohu'alam bishowab.


fajar rini — Kamis, 29/07/2010 19:15 WIB

Kembali ingat alasan kenapa kita menikah dulu?jika memang dulu menikah tanpa tujuan, karena 'kecelakaan', karena paksaan, ato hanya sekedar pelarian.mungkin inilah moment yang diberi Allah agar suami dan istri menjadi orang yang lebih beriman lagi.Sekaliber Rasulullah saja diuji dengan isyu perselingkuhan, apatah lagi manusia biasa seperti kita. Boleh keluar rumah asal pergi ke t4 yang tepat.orang sholeh bijak yang akan bantu pecahkan masalah. Selain itu yang paling penting adalah anak. Inilah waktu akan terlihat seberapa besar jiwamu sebagai ibu. Cintailah anakmu dengan tulus, maka kau tak kan mampu meninggalkannya begitu saja apa pun yang terjadi.karena seperti yang kau lihat bagaimana pun, lelaki tak sama dengan wanita. Karenanya kitalah yang dikaruniai rahim kokoh.Perihal kaum al lahab, yakin lah selama kau benar, Allah bersamamu. Maka muslimah janganlah takut dan bersedih.Sekali lagi ingat kembali dan luruskanlah niat mu


ika — Jumat, 30/07/2010 16:12 WIB

kesepakatan yg berlaku di rumah tangga saya, kalau lagi marah harus dikomunikasikan dan bilang "bi, umi lagi marah karena abi begini begitu, bla bla bla.." sampai tuntas. Habis itu baru sadar kalau kita ternyata sama-sama salah. Meskipun awalnya berlinang air mata atau ada nada tinggi, alhamdulillah perselisihan insyaAllah akan berakhir dengan senyum dan semakin cinta.....mari jadikan perselisihan yg ada sebagai perselisihan dalam bingkai cinta. moga bermanfaat :)


Bunda rara — Jumat, 30/07/2010 16:53 WIB

Assalamu'alaikum

Paling setuju dengan saudara/i Rizki. Sebagai seorang pemimpin Suami seharusnya tahu posisinya dan tahu bagaimana menyikapi kesalahan orang2 yg dipimpinnya ( istri dan anak2 ).

Tapi sebagai Istri sebaiknya juga mengerti dengan kondisi suami. Dan sebenarnya pertengkarang itu tidak akan terjadi bila salah satu diantaranya diam. jadi ada baiknya bagi istri bila seorang suami mulai emosi lebih baik kita menghindar dan diam, begitu pula sebaliknya. Dan masalahnya mulai dibicarakan kembali dengan tenang bila masing2 diri sudah bisa menguasai emosinya.

Menangislah bila anda ingin menangis, itupun sangat membantu bagi wanita, jadi lebih baik berbaring dan menangis dari pada meninggalkan rumah dan masalah rumah bisa dilihat orang luar.


vina noviana — Sabtu, 31/07/2010 06:13 WIB

Komunikasi...masalah apapun dikomunikasikan dengan baik, jika ada ganjalan walau hanya sedikit, sampaikan dengan baik jangan ditahan-tahan. Bila ada masalah kecil namun tidak disampaikan, kemudian menumpuk dan akhirnya akan tumpah bermasalah. Jika terlanjur berkonflik, bersabar dan minta perlindungan pada Allah SWT.


Kirana Devi — Sabtu, 31/07/2010 21:40 WIB

Sebisa mungkin ingat Alloh d diri sndiri. Kendalikan emosi. Kmd lgs ISTIGFAR tenangkan diri cari t4 yg tak diganggu siapapun jgn pergi dari rmh sebab godaan akan lbh bsr berbau negatf. Tp keluar rmh bs kehalaman blkng rmh. Diam sndiri dsn rekam ulang ttg emosi td. Pikirkan dampak2nya buat diri sndiri keluarga terutama anak2. Byangkanlah keluarga kcl qt tanyai diri bgm akibat emosi yg tak terkndali. Bila teringat smua itu Istigfarlah terus menerus yakinkan diri klau smua msh bs dibcrkan dg tenang.


Abu Kautsar — Senin, 02/08/2010 08:21 WIB

Memang tidak mudah untuk menjalani kehidupan rumah tangga yang Islami terutama di bumi Indonesia. Terlalu banyaknya informasi sampah yang masuk kefikiran kita, hampir tiap detik kita dengar berita mengenai konflik rumah tangga terutama melalui media tv. Bagaimanapun informasi ini secara sadar maupun tidak sadar akan mengendap di alam bawah sadar para pelaku rumah tangga dan setiap saat bisa menjadi rujukan kita bahkan tindakan yang dibenci Allah SWT, cerai. Penelitian membuktikan bahwa cerai itu menular.
Para pelaku rumah tangga, sebagus apapun dan secanggih apapun tv anda sebaiknya menghindarai untuk menonton berita-berita sampah yang di blow-up dari kasus rumah tangga. Istigfar dan lebih baik waktu digunakan untuk membaca Quran and Hadis, mengkaji isinya dan meneladani kisah-kisah yang ada didalamnya sebagai rujukan dalam menjalankan rumah tangga kita. Selamat mematikan tv......


ummu abdillah — Senin, 02/08/2010 08:37 WIB

siapapun itu, suami atau istri, harusnya memang segera sadar diri setiap merasa sedang puncak2nya emosi. jadi nggak sempat berkata atau berbuat kasar. yang menghadapi juga harus sama nyadarnya, biar nggak salah ucap atau salah tingkah yang bikin tambah emosi. amannya sih, diam dulu. setelah agak reda, baru bisa saling bicara.


Ikut Menjawab Kuis

Usahakan untuk menjawab hanya sekali dan bukan untuk mengomentari jawaban orang lain

Nama


Email


Website (opsional)


Jawaban



 
 
 
 
   
 
Share
 

PELUANG

 
 
 

Danamon Syariah Akan Kembangkan Produk Franchise
  Prospek pertumbuhan bisnis franchise di Indonesia dinilai sangat bagus sehingga Unit Usaha Syariah PT Bank Danamon akan mengembangkan produk pembiayaan khusus untuk bis...

Syakir Sulla : Syariah Punya Baitul Maal
Sosok Syakir Sulla merupakan sosok yang tidak asing lagi dalam dunia industry syariah. Ia adalah seorang praktisi dan akademisi syariah yang sudah malang melintang dalam berba...

Danamon Syariah Luncurkan Pembiayaan Otomotif dan Haji Khusus Kopkar
  Unit Usaha Syariah PT Bank Danamon meluncurkan pembiayaan otomotif dan layanan haji bagi anggota Koperasi Karyawan (Kopkar) Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha...

Danamon Syariah Agendakan Spin Off 2012
Unit Usaha Syariah PT Bank Danamon mengagendakan spin off pada 2012 mendatang. Agenda menjadi Bank Umum Syariah ini telah dalam perbincangan dengan pihak internal dan segera a...

 
Education Corner

Ada Apa Dengan Anak Remaja Kita

Waduh, bagaimana ini, Rina malas, Anto menolak, apa Ibu liburan berdua saja dengan Ayah, kalau gitu Ibu langsung ke Bali saja naik pesawat, enak gak usah capek-capek lewati Jogja, Ayah saja yang bic...

 
Dompet Peduli Kemanusiaan

Semua Rakyat Berhak Jaminan Sosial

JAKARTA – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa (LKC-DD) menyelenggarakan DIskusi Indonesia Sehat Dompet Dhuafa dengan Topik ; “Ada Apa dengan Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nas…

 
Dompet Peduli Kemanusiaan

Tatap Masa Depan di RBA Kampung Muka

Siang itu, ruang baca Rumah Belajar Anak (RBA) Kampung Muka, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, kembali diramaikan  oleh suara riuh riang anak-anak. Ruang baca yang sekaligus berfungsi sebagai …