Di Balik Operasi Caesar

Senin, 05/07/2010 14:22 WIB | Arsip | Cetak

"Sudah lahir anakmu, Sul?" SMS Ibu Ria pada supirnya yang sudah 2 hari minta izin tidak masuk karena istri pertamanya akan melahirkan anak pertama. Semua serba pertama, dan tentu saja Samsul, supir keluarga Ibu Ria yang hanya bergaji 1,5 juta saja sebulan menjadi gelisah tidak karuan, maklum peristiwa pertama yang menegangkan baginya.

Dan ketegangan terus berlanjut, sampai akhirnya, Samsul mendatangi rumah Ibu Ria, majikannya. Dengan wajah pucat, nampak kusut dan lecek, Samsul memohon bantuan Ibu Ria untuk meminjamkan uang sebesar 8 juta rupiah, agar operasi caesar anaknya tidak ada masalah, dan operasi harus dilakukan segera, karena sudah 8 jam, anaknya belum juga keluar, sedangkan air ketuban sudah pecah sejak 8 jam yang lalu. Perkiraan dokter, bila dalam 2 jam tidak lahir juga, maka Samsul harus menandatangani izin operasi caesar, kalau tidak maka anaknya tidak dijamin bisa hidup sehat begitu keluar. Karena bila air ketuban sudah habis, siapa yang berani menanggung resiko keselamatan anaknya, apalagi anak pertama...

"Duh..beratnya hidup ini..," pikir Samsul.

Dengan biaya 8 juta yang harus dicari dalam waktu 2 jam saja, maka pikiran Samsul langsung membawa dirinya dan sepatunya melangkah ke rumah Ibu Ria. Tentu saja Ibu Ria juga tidak semudah itu meminjamkan. Tidak mudah bagi Ibu Ria menyediakan uang sejumlah itu untuk dipinjamkan, namun, melihat wajah supirnya yang sudah bekerja beberapa tahun lamanya membuat Ibu Ria akhirnya mengeluarkan gumpalan uang kertas sejumlah 3 juta.

Lalu, dengan setengah berlari, Samsul menjumpai suster bagian administrasi dan berjanji akan melunasi sisanya, setelah operasi caesar selesai, yang penting baginya, anaknya selamat dan tidak keracunan air ketuban, begitu pikirnya, seperti keterangan dokter yang diterimanya mentah-mentah dari suster. Padahal air ketuban itu apa dan gunanya apa, Samsul tetap tidak tahu.

“Yang penting, istriku dioperasi caesar dan anakku selamat,” hanya ada dua kalimat yang mengisi benak Samsul pada saat itu. Tanpa mengetahui bagaimana akan terbelahnya perut sang istri dan si anak dikeluarkan dari perut yang terbuka dan berongga dan kemudian perut istrinya yang lembut akan dijahit kembali dan dirapatkan kembali, dan untuk urusan jahit-menjahit perut itu, diperlukan minimal Rp 8 juta, dan bagi seorang supir seperti Samsul dengan gaji sebulan hanya Rp 1,5 juta, sungguh suatu beban yang sangat mencekik leher.

Aku sendiri teringat kisahku ketika melahirkan anak pertamaku, dan sama seperti istrinya Samsul, supir Ibu Ria. Air ketuban pecah ketika sholat isya baru 2 rakaat, dan terus merembes sepanjang malam, dan dengan santainya, Midwife, panggilan untuk seorang bidan yang menerapkan sistem natural, membantuku melahirkan tanpa bantuan obat-obatan penahan sakit, tanpa bantuan operasi caesar, dan lahir dengan normal dan natural. Karena prinsipnya, setiap bayi akan lahir dengan normal lewat tempatnya, sebagaimana bayi kucing, kelinci dan binatang mamalia lainnya. Dan itu sudah fitrah dari sejak zaman Nabi Adam sampai zaman Facebook melanda manusia.

Aku menghitung dalam hati, Subhanalloh, sejak air ketubanku pecah semalam, sampai akhirnya anakku lahir normal pada jam 7 malam keesokan harinya, sekitar 23 jam sudah, hampir 3 kali waktu dari deadline yang dokter berikan pada Samsul, supir Ibu Ria, untuk menyegerakan operasi caesar pada istri Samsul yang tergolek lemah tak berdaya.

Haruskah keputusan untuk operasi caesar diberikan dengan begitu mudah, tidakkah pasien dengan keluarganya menuggu dahulu dan mencoba cara lain dan mengusahakan melahirkan normal?! Karena bila sudah dioperasi caesar, maka dampak akan terasa bagi para wanita muslimah, seperti tidak bisa memiliki anak banyak.

"Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya." [QS. ar-Ra'd (13) : 8]

Bayangkan bila perut harus dibelah berkali-kali, berapa banyak sayatan harus dilakukan pada perut wanita, ketika sayatan itu sudah tidak punya tempat lagi, maka bayi akan dikeluarkan lewat mana lagi?

Tentu keterbatasan wanita muslimah dalam memiliki anak menjadi sangat terbatas. Padahal Rasululloh menganjurkan umat memiliki anak yang banyak, kecuali bila sang wanita memiliki penyakit yang tidak boleh memiliki anak dan suaminya belum mampu menikah lagi. Maka, operasi caesar, kalau bisa, menjadi pilihan yang sangat amat terakhir dan tidak dilakukan dengan tergesa-gesa, apalagi dengan sengaja, dengan alasan untuk menjaga hubungan suami istri.

"Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi." [QS. ar-Ra'd (13) : 9]

Saran saya yang terakhir dalam artikel ini: diperlukan pendamping yang lebih dewasa dan beriman bagi seorang suami yang baru melalui masa kelahiran istri dengan anak pertama, agar bisa dibantu membuat keputusan dengan lebih baik, karena biasanya sang suami, bila baru pertama menghadapi kelahiran anak pertama, biasanya agak panik dan belum bisa berfikir dengan jernih.

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Wanita Bicara

bersama Mam Fifi
(Founder & Conceptor Jakarta Islamic School)
www.jakartaislamicschool.com
www.bundafe.com

Terkait


Manajemen dan Disiplin

Ketika aku memasak dan mengiris bawang, aku berpikir bahwa seorang ibu harus punya thinking skill dan juga managerial skill, agar hal ini tidak membuat hari-harinya habis hanya untuk urusan rumah ta …

LKC Dompet Dhuafa Latih Kader Pos Sehat Ke-27

CIPUTAT – Sebanyak 15 orang Kader Pos Sehat Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Jawa Barat mendapatkan pelatihan persiapan pembukaan  Pos Sehat LKC dompet Dhuafa. Pelatihan ini sebaga…

ACT Kirim Tim Trauma Healing ke Aceh

          Gempa yang mengguncang Aceh memang berkekuatan besar, 8,5 skala Richter cukup untuk mengulang kisah kelam saat gempa berkekuatan sama memicu Tsunami 2004 silam. Ke…

Jangan ambil nyawaku…, sebelum berhasil mengambil air

Awalnya Musrifah, istri mantan Kepala Pusat Penelitian dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Husein, tidak percaya kalau ada sumber air di Gua Pego Dusun Tlogo Warak, Desa Giri Purwo, Kecama…

Pak Boih, ”Memperbaiki Hidup Melalui Program Misykat”

Skenario Allah swt memang selalu mengagumkan. Unik. Dan terkadang tidak pernah terpikir sedikitpun oleh kita. Melalui jalan yang sulit maupun yang mudah. Yang panjang maupun yang singkat. Selalu ada…


BSM Terima Penghargaan Service Excellence Award 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) kembali menoreh prestasi sebagai  Award Service Excellence Award 2012. Penghargaan kali ini diberikan oleh  Carre Customer Satisfaction & Lo...

Bedah Film Negeri 5 Menara di Universitas Mercubuana
Karya Anak bangsa yang mulai tayang perdana 1 Maret 2012 ini terus mendapat apresiasi yang luar biasa dari masyarakat Indonesia. Salah satunya melalui Bedah Film Nasional N5M ...

Baso Jadi Nominator di Festival Film Bandung
Alhamdulillah, Film Negeri 5 Menara yang disponsori oleh  iB Perbankan Syariah bank Indonesia mendapatkan apresiasi dari masyarakat Indonesia baik dalam maupun luar negeri . ...

Ekonomi Syari’ah, Kunci Atasi Krisis Global
Berbagai kelemahan yang terdapat pada bank konvensional menjadi isu utama penyebab krisis keuangan global. System ekonomi syari’ah memiliki daya tahan yang kuat terhadap kri...


Peluang