Artikel Terbaru Fiksi

 

Pelangi Retak (Bag. 24)

Oleh Dewi Anjani
17 Jul 08 15:04 WIB

Apa, Hil? Kamu nggak salah ucap kan?
Jadi… inilah sebabnya kenapa selama ini Mas Indra tak pernah menyentuhku sebagai seorang isteri?

Pelangi Retak (Bag. 23)

Oleh Dewi Anjani
14 Jul 08 13:11 WIB

Dadaku tiba-tiba bergemuruh. Suara itu membuat aliran darah di tubuhku seakan mengalir dua kali lebih deras. Suara itu… Ah, aku tidak mungkin salah. Itu suara Hilma! Darimana dia tahu kalau aku sudah menikah?

Pelangi Retak (Bagian 22)

Oleh Dewi Anjani
10 Jul 08 16:03 WIB

Taman kastil ini menjadi istimewa karena dilatarbelakangi persaingan Catherine de Medici dan Diane de Poitiers dalam memperebutkan cinta Raja Henry II.

Pelangi Retak (Bagian 21)

Oleh Dewi Anjani
7 Jul 08 16:38 WIB

Terengah-engah aku megimbangi langkah suamiku. Tangannya yang kekar seakan menambah kekuatanku untuk bisa mencapai puncak bangunan itu, dan... wow indahnya di bawah sana...

Pelangi Retak (Bag. 20)

Oleh Dewi Anjani
3 Jul 08 14:35 WIB

Kenapa mas Indra tak pernah menyentuhku sebagai seorang isteri? Hingga akhirnya malam-malam kami cukuplah berlalu dengan menikmati mimpi masing-masing. Adakah yang salah?

Pelangi Retak (Bag. 19)

Oleh Dewi Anjani
30 Jun 08 11:31 WIB

Acara sakral itu dilangsungkan secara sederhana. Aku sudah memohon dengan hormat kepada keluarga mas Indra untuk tidak menampakkan kemewahan apapun di kampungku yang masih terlalu lugu.

Pelangi Retak (Bag. 18)

Oleh Dewi Anjani
26 Jun 08 15:21 WIB

Kucing tetangga yang memang dari tadi duduk manis di atas tembok itu seakan mengerti apa yang kami bicarakan. Dia menjatuhkan pot bunga itu tepat setelah Mas Indra menyelesaikan kalimatnya.

Pelangi Retak (Bag. 17)

Oleh Dewi Anjani
23 Jun 08 10:08 WIB

Dan aku ingin kau bersedia mendampingiku untuk menemukan kacamata pelangi itu. Agar aku benar-benar mampu melihat sulaman indah itu dalam mahligai suci...

Pelangi Retak (Bag. 16)

Oleh Dewi Anjani
19 Jun 08 12:32 WIB

Sabar dan syukur kan telaga yang tak pernah kering.

Pelangi Retak (Bag. 15)

Oleh Dewi Anjani
16 Jun 08 14:25 WIB

Sejak pengiriman kue itu, Pak Aan jadi sering ke kosku. Yah, mesti mampir hanya beberapa menit dan sedikit berbasa basi. Sikapnya tak lagi sesombong dulu. Dan akupun mulai bersikap lunak padanya.

Pelangi Retak (Bag. 14)

Oleh Dewi Anjani
12 Jun 08 17:16 WIB

Hari kematian? Bukankah itu satu-satunya kepastian dalam kehidupan. Selain kematian, semuanya hanyalah jalinan dari begitu banyak benang kemungkinan yang kadang terpintal tak karuan. Begitu rumit menguraikannya.

Registrasi | Login

Kontak | Redaksi | Iklan | Lowongan
© 2000-2008 eramuslim.com