Khatib Piawai
13 Mar 07 07:38 WIB
Oleh A. Muttaqin
Hujan mengguyur hari Jum’at pekan kemarin amat lebat. Cuaca mendung sejak Shubuh hari itu, akhirnya tumpah membasahi setiap inci tanah yang belum lagi kering sisa hujan kemarin. Angin yang menderu-deru menambah gemuruh hujan makin riuh-rendah. Kekuatan hembusannya, mampu merobek pori-pori baju dan menusuk sensitifitas kulit. Dingin. Butir-butir halus air langit itu menerpa wajahku. Semakin dingin dan lembab. Rasa kantuk yang sejak tadi menyerang hebat, spontan hilang. Aku beringsut ke tengah melewati beberapa jama’ah menghindari percikan air hujan yang semakin banyak melompati beranda masjid.
"Jika anda berbuat baik terhadap orang lain, pahatlah di atas pasir. Tapi, pahatlah kebaikan orang lain yang anda terima di atas batu cadas."
Baru kali ini menu ikhlas disajikan dalam khutbah Jum’at yang kunikmati hampir tak tersisa. Apalagi menjelang berakhir ritual khutbah, khatib itu masih menyimpan satu poin.
"Ciri orang ikhlas itu adalah orang yang gampang lupa sekaligus selalu ingat. Orang ikhlas itu gampang sekali melupakan kebaikan yang telah dia tanamkan pada siapapun, tetapi selalu mengingat kebaikan orang lain yang pernah diterimanya. Dia juga adalah pribadi yang gampang melupakan kesalahan orang lain pada dirinya, tetapi selalu mengingat setiap kesalahan-kesalahan yang pernah ia lakukan."
Islam menasehatkan pada kita agar pandai-pandai menjaga ruang keikhlasan agar tidak disesaki material asing yang mengotorinya. Biarkan ia tetap bersih dan resik. Siapapun yang berada di ruang yang bersih, tentu betah berlama-lama. Siapapun yang memiliki ketajaman naluri ikhlas, akan disenangi Allah dan disayangi sesama.
***
Masjid dan khutbah adalah dua sisi dari satu mata uang. Masjid seyogyanya menjadi pusat pusaran yang menarik setiap energi kaum muslimin menuju Allah dan Dunia-Akhirat yang hasanah. Masjid mesti menjadi tempat perumpamaan; bagai ikan di dalam aquarium" bukan perumpamaan "bagai burung dalam sangkar." Juga masjid, bukan tempat yang di jadikan ajang tarik-menarik kepentingan duniawi. Beberapa kasus, sering tidak disadari masjid dijadikan sebagai arena "kampanye" tidak sehat.
Ciputat, 09 Maret 2007
Redaksi menerima kiriman artikel untuk rubrik Oase Iman. Kirimkan artikel anda melalui FORM yang kami sediakan.
Oleh Penulis yang Sama
Artikel Sebelumnya
- Tabula Rasa (Kinkin Mirajul Muttaqien)
- Pesawatku yang Malang (Kinkin Mirajul Muttaqien)
- Yang Selalu Muda (Yon's Revolta)
- Kejujuran Tukang Cukur (A. Muttaqin)
- Filosofi Menanam (Sus Woyo)
- Cinta di Hari Tua (Sakti Wibowo)
- Terimakasih Ibu (Kinkin Mirajul Muttaqien)





