Kegundahan Para Bunda

23 Jun 07 18:38 WIB

Kirim teman

Oleh Seriyawati

Tinggal di Negeri Matahari Terbit yang terkenal dengan bunga Sakuranya, membutuhkan usaha dan kesabaran lebih besar dalam mendidik anak. Selain pendidikan formal juga yang paling utama adalah pendidikan agama Islam.

Teman-teman saya yang baru beberapa bulan datang ke Nagoya berkeluh, "Kami mempunyai masalah dalam hal mengajari anak-anak membaca Al-Quran. "
Masalah yang dialami teman-teman saya itu, juga saya rasakan di awal menjalani kehidupan di Jepang dan mungkin dirasakan pula oleh sebagian besar para ibu yang tinggal sementara atau menetap di luar negeri.

Dikatakan oleh teman saya bahwa masalah itu berkaitan dengan waktu dan tenaga sebagai ibu rumah tangga yang terbatas.
Di mana waktu dan tenaga yang tersisa setelah mengerjakan urusan rumah hampir tak bersisa untuk mengecek kemajuan anak-anak mereka membaca Al-Quran. Mereka yang sewaktu di tanah air biasa mengerjakan urusan rumah tangga sendiri pun masih merasakan repot apalagi mereka yang mendapatkan bantuan pembantu rumah tangga. Meskipun ibu rumah tangga yang tinggal di Jepang terbantu dengan alat-alat rumah tangga yang serba praktis, tetapi di sini segala sesuatunya mesti dikerjakan sendiri. Sehingga waktu untuk mengajari anak-anak mengaji pun terbatas.

Selain itu tinggal di Jepang dengan fasilitas minim untuk belajar Islam juga lingkungan yang kurang mendukung membuat para Bunda khawatir.
Maka dari itu perlu siasat dan kreatifitas ibu dalam mendidik dan mengajarkan agama Islam kepada anak-anaknya. Hal ini sangat berbeda dengan di Indonesia di mana ada guru mengaji yang bisa didatangi atau didatangkan ke rumah.
Kegiatan mengaji untuk anak-anak bisa dijumpai di masjid-masjid,
musholla-musholla, bahkan sangat terbantu dengan adanya TPA (Taman Pendidikan Al-Quran).

Seperti yang diceritakan seorang teman yang baru beberapa bulan tinggal di Jepang, karena kesibukan berbenah dan beradaptasi,
anaknya menjadi jarang mengaji dan malah lupa hapalan surah pendeknya.
Padahal waktu di Indonesia, anaknya rajin mengaji dan sudah hapal beberapa surat pendek Juz-Amma.

***

Untuk mengurangi kegundahan para Bunda dan menjawab keinginan agar anak-anak bisa belajar tentang agama Islam bersama-sama,
ada kegiatan belajar untuk anak-anak yang kami adakan tiap hari Sabtu di Masjid dan hari Minggu keempat tiap bulan di lobby kampus.
Dua kegiatan tersebut memang dirasakan masih belum mencukupi. Akan tetapi bila rutin datang ke kegiatan tersebut sedikitnya anak-anak pun menjadi terbiasa pergi ke Masjid dan merasa dekat dengan masjid, mereka takkan lupa apalagi lalai dalam belajar tentang agama Islam.
Apalagi sejak tahun 2004, kami mengadakan Sanlat (Pesantren Kilat)
rutin tiap tahun dan sejak tahun lalu di bulan Ramadhan kami mengadakan lomba menghapal surat pendek Juz-Amma bagi anak-anak.
Dan insyaAllah kegiatan-kegiatan tersebut akan lebih bervariasi lagi.

Kegundahan-kegundahan para Bunda tersebut sedikit demi sedikit kita hilangkan, dan kita coba mencari celah waktu yang bisa dibagi untuk anak-anak di antara waktu untuk mengurus rumah.

Saya berharap suatu ketika kegiatan yang kami bangun sedikit demi sedikit dan dari yang kecil di kemudian hari bisa menjadi besar, kokoh dan meluas. Semoga harapan akan adanya sekolah Islam di Nagoya bisa terwujud, amiin.

Nagoya, Juni 2007 http://junjungbuih. Multiply. Com

Redaksi menerima kiriman artikel untuk rubrik Oase Iman. Kirimkan artikel anda melalui FORM yang kami sediakan.

Oleh Penulis yang Sama

Artikel lainnya (10)
Daftar Penulis

Artikel Sebelumnya

Arsip

Registrasi | Login

Kontak | Redaksi | Iklan
© 2000-2008 eramuslim.com