Budaya Pecundang dan Problem Peradaban

bangsa pengekorOleh: Qosim Nursheha Dzulhadi

“Orang yang kalah sangat suka “mengekor” kepada pihak pemenang: dalam motto hidupnya, pakaiannya, cara beragama, bahkan cara hidup dan kebiasaannya”

’Abd al-Ramān ibn Khaldūn

Peringatan sosiolog Muslim kesohor, Ibn Khaldūn (w. 808 H) di atas patut direnungkan. Apalagi jika sekarang disematkan kepada kaum Muslimin: yang dimana-mana dijajah oleh motto hidup, mode dan trend pakaian, religiusitas ala Barat, bahkan dari sisi kebiasaan mereka. Semuanya dapat disimpulkan “membeo” kepada produk Barat.

Ibn Khaldūn, dalam al-Muqaddimah, kemudian menjelaskan bahwa sebab terjadinya “pembeoan” oleh pihak pecundang terhadap pemenang adalah: karena jiwa manusia selalu meyakini bahwa “kesempurnaan” (al-kamāl) berada di pihak pemenang. Bisa jadi karena pihak pemenang terlalu diagungkan atau karena ada kerancuan berpikir bahwa sikap tunduk kepada pihak pemenang dianggap sebagai hal biasa saja. Karena demikian itu maka terjadi berbagai bentuk imitasi dalam segala bentuknya oleh para pecundang. Itu lah yang disebut dengan al-iqtidā’ (sikap bersuri-tauladan).

Pengarang kitab al-Muqaddimah untuk kitab al-‘Ibar wa Dīwān al-Mubtada’ wa al-Khabar fī Ayyām al-‘Arab wa al-‘Ajam wa al-Barbar wa Man ‘Āarahum min Dzawī al-Sulān al-Akbar itu juga menyebutkan bahwa pihak pencundang (al-maghlūb) selalu meniru pihak pemenang (al-ghālib) dalam: pakaian (mode), kendaraan, dan senjata, bahkan dalam segala tindak-tanduknya. Kesimpulannya seperti dalam peribahasa al-‘Āmmah ‘alā dīn al-mālik (rakyat jelata biasanya ikut hukum sanga raja).

Umat Islam hari ini memang tengah menjadi al-maghlūb (kalah) sementara barat dapat dikatakan al-ghālib (menang), khususnya dari sisi teknologi. Mungkin lagi zamannya Firman Allah berlaku, wa tilka al-ayyām nudāwiluhā baina al-nās (demikianlah hari-hari itu Kami (Allah) pergilirkan diantara manusia, Qs. 3: 140). Saat ini umat Islam berada “di bawah” dan negara-negara (bangsa) barat sedang berada “di atas”. Mereka superior, umat Islam inferior. Mereka mendominasi sementara umat Islam baru bisa mengimitasi.

Problem Peradaban

Kondisi di atas pula mengingatkan kepada satu pertanyaan yang diajukan oleh Shakib Arselan: Limādzā Ta’akhkhara al-Muslimūn wa Limādzā Taqaddama Ghairuhum? (Mengapa Umat Islam Terbelakang Sementara Bangsa Lain Maju?) Satu pertanyaan penting namun mengganggu perasaan yang paling dalam. Pertanyaan yang cukup menyentil kesadaran siapa saja yang masih merindukan kemajuan dan kebangkitan Islam dimasa mendatang. Namun di sini pula problemnya: umat Islam belum massif menghargai dan menjunjung tinggi peradaban agamanya.

Shakib Arselan kemudian memberikan satu jawaban penting bahwa ada kematian ilmiah dalam tubuh umat Islam. Karena mereka tidak lagi menganggap ilmu sebagai satu bagian hidup yang terpenting di dalam Islam. Di sini kita diingatkan oleh Allah Swt. tentang wahyu perdana yang turun kepada Nabi Muhammad di Gua Hirā: Iqra’! Inilah persoalan internal yang sesungguhnya.

Jadi, problem sesungguhnya adalah problem keilmuan. Dari problem ini kemudian menanjak kepada problem peradaban. Di titik ini sejatinya umat Islam dipermainkan oleh musuh-musuh mereka. Karena peradaban Islam tengah berada di gerbong peradaban modern yang sangat sekular dan liberal. Tapi anehnya, peradaban ini pula yang menjadi panutan hari ini.

Untuk mendongkrak peradaban itu perlu ada, dalam istilah Iqbal, “Revolusi Akal”. Dalam bait syairnya, Iqbal mengingatkan:

Kususun balatentara dari Kerajaan Cinta

Sebab Revolusi Akal kian mengancam Masjidil Haram

Tabiat nyata Majenun ini tak dikenal oleh dunia

Dunia hanya pantas menjadi pakaian Intelek

Tapi sambil memakai jubah ini ku sampai ke stasiun 

Menyambut kedatangan Intelek yang akan tawaf di rumah suci

 

Jangan kira Intelek bebas dari ketentuan pengadilan

Lewat orang beriman ia akan ditimbang seperti di Hari Perhitungan

(Mohammad Iqbal, Pesan Kepada Bangsa-bangsa Timur, Terj. Abdul Hadi, W.M (Bandung: Mizan, hlm. 21).

Di sini memang penting untuk melihat “akal” kita: nalar sehat untuk bisa melihat kondisi umat Islam hari ini. Karena kata Iqbal, “Akal manusia adalah upaya alam untuk melakukan kritik diri.” (Lihat, Javid Iqbal, Hafeez Malik, Linda P. Malik, dan Muhammad Daud Rahbar, Sisi Manusiawi Iqbal, Terj. Ihsan Ali Fauzi & Nurul Agustina (Bandung: Penerbit Mizan: 1412 H/1992, hlm. 105).

Siapa pun harus “gelisah” melihat kondisi umat Islam hari ini. Satu kondisi yang dapat dikatakan nyaris tanpa etika ilmiah. Karena Islam tidak boleh didefinisikan sebatas kumpulan ibadah yang dikerjakan oleh seorang manusia namun jauh dari etika amaliah. Sehingga memungkinkan seorang manusia menghadap Allah – dengan penuh keikhlasan – ketika beribadah, lalu menghadap kepada selain Allah ketika berhadap dengan urusan duniawi yang lain.

Padahal Islam yang dipahami, dimaknai, dan dihayati oleh Rasulullah Saw. dan para sahabatnya serta pengikutnya adalah: menundukkan seluruh jiwa hanya kepada Allah. Dimana seluruh jiwa-raga manusia dihadapkan kepada Allah. Artinya: seluruh pemikiran manusia, perasaan, dan etika praksisnya berada di bawah kendali undang-undang yang ditetapkan oleh Allah. (Lihat, Muḥammad Quṭb, Hal Naḥnu Muslimūn? (Kairo: Dār al-Syurūq, 1426 H/2005 M, hlm. 13-14).

Terakhir, penting direnungkan nasehat Iqbal dalam syairnya yang berjudul ‘Hikmah Fir’aun’ berikut ini:

Kearifan umat beriman telah kulepaskan

Kini kupelajari kearifan umat yang murtad.

Kearifan umat yang murtad adalah kebohongan dan tipu muslihat

Apakah kebohongan dan tipu muslihat? – Perusak jiwa dan penegak tubuh.

 

Inilah kearifan yang membebaskan diri dari tali iman

Dan tersesat jauh dari rumah Cinta.

Orang-orang yang mengikuti jalan Fir’aun ini

Berpikir seperti budak mengikuti kehendak majikannya.

Dengan cara yang memikat, pendeta dan ulamanya

Menafsirkan agama menurut kemauan kaisarnya.

Kesatuan umat dipecah belah dengan progam pembeoannya

Tak ada yang berani menentang kecuali Musa dan Tongkatnya

 

Malanglah umat yang terperangkap tipu muslihat golongan lain

Yang menghancurkan diri sendiri dan membangun untuk kepentingan orang lain.

Mereka memperoleh kecakapan ilmiah dan keterampilan seni

Namun tak menyadari kepribadiannya sendiri.

Mereka menghapuskan ayat Tuhan dari cincinya.

Cita-cita di hatinya bangkit cuma untuk tenggelam.

Mereka tak diberkati keturunan yang diresapi rasa hormat

Jiwa dalam tubuh anak-anak mereka seperti bangkai dalam kuburan.

 

Generasi tuanya congkak luar biasa

Yang muda sibuk berias seperti wanita kampungan.

Kemauan yang muncul dari hati mereka tak pernah mantap

Mereka dilahirkan mati dari rahim ibu-ibu mereka.

Gadis-gadisnya terjerat oleh mode pakaian

Dan bermacam-macam alat kecantikan

Mereka senang berpakaian mewah

Alis matanya dirias seperti sepasang pedang

Perhiasannya gemerincing menyilaukan mata

Buah dadanya dipamerkan seperti ikan di kolam

Itulah bangsa yang abunya yang tak mengandung bara lagi

Dan pagi harinya lebih gelap dari malam.

Yang diburu hanya kekayaan dunia

Hidupnya diliputi kecemasan dan ngeri menghadapi kematian.

Kekayaan membuatnya kikir dan cinta kesenangan dunia

Yang diburu adalah kulit kerang, lupa akan mutiara yang terpendam.

 

Kekuasaan rajanya adalah tujuan pemujaan

Sebagai ganti dari hilangnya iman kepada Tuhan.

Pandangannya tak mampu menembus tembok masa kini

Dan karenanya tak pernah mampu menciptakan masa depan.

Sejarah anak cucunya di dalam genggaman tangannya

Tapi sayang, apa yang diucapkan tak diamalkan dalam perbuatan.

 

Syahadatnya adalah mengabdi kepada kekuasaan asing

Dan candi dibangun dengan batu bata rerontok mesjid.

Sungguh malang bangsa yang menjauhkan diri dari Tuhan dan wahyu-Nya

Ia adalah bangsa yang mati, namun tak sadar bahwa mati.

 

*) Penulis adalah guru Pesantren di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah. Penulis juga Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMU) Sumut. Menulis buku ‘Membongkar Kedok Liberalisme di Indonesia’ (Jakarta: Cakrawala Publishing, 2012).