Gaza : Antara Mitos dan Fakta

Kalau ke Gaza akan menemukan pemandangan yang khas. Kafiyeh yang menutupi wajah-wajah, senapan, batu, barikade, dan roket-roket yang ada dipundak para pejuang. Pemandangan khas ini, pasti akan membentuk persepsi siapa saja yang berkunjung ke Gaza.

Tetapi, apa yang tepat untuk mendifinisikan antara mitos dan fakta kemanusiaan, yang ada pada pejuang Hamas, yang sekarang menguasai Gaza. Apakah muslim Gaza tidak lebih hanyalah kelompok militan? Di mana mereka sekarang sedang menghadapi agresi militer rejim Zionis-Israel, dan semuanya itu akan menentukan nasib dan masa depan mereka. Dari mana dan bagaimana semua itu dimulai?

Pertama. Apakah Hamas Organisasi Teroris?

Dan, ini akan selalu mengundang perdebatan, sampai kapanpun.Tentu, sampai hari ini, belum ada yang dapat disepakati tentang difinisi teroris. Dan, tindakan apa sebuah kelompok dapat disebut teroris? Dan, apa yang menjadi ukuran yang menentukan kelompok itu adalah teroris?. Memang, sangatlah mudah memberikan label ‘teroris’, dan pemberian label ini, juga sangat mudah disalahgunakan untuk keuntungan dan kepentingan politik. Ada orang yang menuduh ‘teroris’, tapi ada pula yang menyatakan, bahwa mereka adalah kelompok pejuang ‘pembebasan’, dan menolak tuduhan teroris. Tapi, sejak peristiwa yang terjadi di New York, Amerika, yaitu perisitwa 11 September, lalu siapa saja, sangat mudah mengatakan dan menuduh ‘teroris’, dan umumnya ditunjukkan terhadap kelompok Islam, yang terang-terangan menentang agresi Amerika dan Israel.

Kembali, Pew Global Attitude Survey, melakukan survey, dan dipublikasikan di tahun 2007, di mana 62%, orang Palestina telah memilih Hamas. Mereka menilai Hamas kelompok yang selama ini telah melakukan kerja-kerja sosial, yang sangat bermanfaat bagi mereka. Dan, ketika diselenggarakan pemilihan anggota parlemen, Januari 2006, secara mayoritas, rakyat Palestina telah memilih Hamas, dan mengalahkan kelompok al-Fatah. Namun, Amerika, Israel, Kanada, dan Jepang, menuduh Hamas adalah kelompok ‘teroris’.

Dalam wawancara dengan Der Spiegel, sebuah Koran yang terbit di Jerman, Kepala Biro Politik Hamas, Khaled Mish’al, menegaskan : ” Kami adalah gerakan perlawanan nasional, bukan organisassi teroris. Kami mempunyai hak menolak pencaplokan dan penjajahan Israel”, tegasnya. Hal senada juga dikemukakan oleh tokoh senior Hamas, Mahmud al-Zahar, yang menulis di Washington Post, antara lain :“Gerakan perlawanan kami adalah kami tidak mengizinkan kejahatan Israel – negara Yahudi itu mencaplok tanah kami, mengusir rakyat Palestina dari tanah kelahiran kami, dan kami menjadi pengungsi, dan dunia internasional membiarkannya”, tulis Zahar. Hamas, tak lain sebuah entitas yang ingin memperjuangkan hak-hak atas tanah kelahiran mereka Palestina, yang kini dirampas dan dirampok serta dikuasasi rejim Zionis-Israel.

Kedua. Apakah Hamas Sah Mengambilalih Gaza?

Dengan membuat kejutan, terutama bagi al-Fatah yang sudah lama berkuasa, dan para pengamat politik internasional, Hamas berhasil mengambil alih seluruh Gaza. Hamas tak hanya mengambil alih wilayah Gaza, tapi kelompok pejuang Palestina itu, berhasil mengambil sebagian besar suara di parlemen, yang selama ini di kuasai al-Fatah. Kemudian, membentuk pemerintahan baru, yang berkuasa atas Gaza dan Tepi Barat. Namun, semenjak kemenangan Hamas dalam pemilu, Januari 2006, terus berlangsung ketegangan dengan al-Fatah, yang masih belum dapat menerima kenyataan atas kemenangan yang diraih Hamas. Konflik terus berlangsung sampai medio 2007, dan kemudian terjadi perang terbuka antara Hamas melawan al-Fatah, dan akhirnya Hamas menguasai seluruh Gaza. Hamas bukan hanya berhasil menguasai ‘teritori’, tapi Hamas menguasai perangkat negara, yang ditinggalkan Mahmud Abbas, yang mengungsi ke Ramallah, Tepi Barat. Tentu, Hamas mendapatkan ‘ghonimah’ yang tidak sedikit berupa senjata yang ditinggalkan al-Fatah, di gudang-gudang, yang baru mereka terima dari Israel dan Amerika.

Faktor keberhasilan Hamas mengambil alih Gaza ini yang banyak menimbulkan pertanyaan yang mendasar, khususnya bagi Israel, yang tidak memprediksi, bahwa Hamas, mengalami percepatan yang luar biasa dibidang politik dan militer. Sampai tahap ini, para pemimpin Israel, Amerika, Uni Eropa, dan Kanada,serta negara-negara donor, berpikir bagaimana caranya melemahkan kekuatan Hamas, yang sekarang telah menguasai Gaza. Maka, langkah yang diambil kelompok ‘kwartet” itu, yang memang tak lain adalah skenario Zionis-Israel, yang ingin melemahkan, dan menghancurkan Hamas, kemudian mengenakan sanksi ekonomi, serta blokade terhadap Hamas. Hampir setahun lebih Hamas diblokade, seluruh akses pintu masuk menuju ke Gaza ditutup. Termasuk Mesir mempunyai andil, yang menyengsarakan rakyat Gaza, karena negeri Fir’aun ini, lebih menghormati Israel, dibanding dengan mencintai sesama muslim. Maka, penduduk Gaza mulai tercekik, secara ekonomi. Kebutuhan dasar mereka dihentikan oleh Israel. Tapi, para pemimpin Hamas tak mau menyerah dengan tekanan Israel, Amerika, dan Uni Eropa, serta negara donor.

Bulan Februari 2007, pemerintah Kerajaan Saudi, di bawah Raja Abdullah, berusaha menyatukan kembali, antara Hamas dan al-Fatah. Kerajaan Saudi mencoba mengkompromikan, di mana semua fortopolia kabinet dibagi rata antara faksi di Palestina. Mereka sepakat membentuk pemerintahan persatuan nasional. Hamas sudah sepakat. Namun, yang menjadi faktor kegagalan rujuk, dan pemerintahan persatuan nasional, tak lain adalah Israel dan Amerika, yang terang-terangan menolak pemerintahan baru itu. Israel, Amerika, dan Uni Eropa, tetap menyatakan ‘boikot’ atas pemerintahan persatuan nasional. Mereka tetap menolak Hamas, yang sudah mendapatkan label ‘teroris’ di dalam pemerintahan baru itu. Memang, tuntutan Israel kepada Hamas, sesuatu yang tidak mungkin dipenuhi, yaitu Israel menginginkan pengakuan dari Hamas. Para pemimpin Hamas tidak ada yang mau mengakui keberadaan (eksistensi) Israel. Karena, dasarnya kuat, Hamas tetap pada pendiriannya, bahwa Israel merupakan penjajah, dan yang merampas tanah kelahiran mereka.

Akhirnya, konflik antara Hamas dan al-Fatah, melahirkan dua wilayah, yang membagi antara Gaza dikuasi Hamas, dan Tepi Barat dikuasai oleh Otoritas Palestina, yang dipimpin Presiden Mahmud Abbas, dan mendapatkan dukungan Israel dan Amerika. Mahmud Abbas sendiri, menjadi bagian dari strategi Israel, yang terus mendestabilisasi pemerintahan Hamas,yang dipimpin Ismael Haniyah. Mahmud Abbas, menunjuk Salam al-Fayad sebagai perdana menteri. Jadi secara de facto, al-Fatah atau otoritas Palestina, yang dipimpin Mahmud Abbas, menolak mengakui pemerintahan Hamas, yang sudah memenangkan pemilu legislative.

Ketiga. Apakah Hamas Memiliki Kontrol Atas Gaza?

Laporan terakhir (Maret 2008) oleh International Crisis Group, menyampaikan bahwa Hamas telah mengambil dan mengontrol seluruh kekuatan dan aktivitas politik, ekonomi dan militer di Gaza. Hamas berhasil pula melakukan reformasi sistem hukum, pendidikan, ekonomi, dan politik, terutama dibidang legislative, dan seluruh penduduk Gaza menikmati kebebasan. Sekarang mereka yang tinggal di Gaza, bebas membentuk pengelolaan kesehatan, pendidikan, dan keagamaan, serta dibidang ekonomi, yang lebih Islami. Hanya dalam waktu yang kurang dari satu tahun, Hamas berhasil mengubah secara mendasar kehidupan rakyat di wilayah itu, yang selama ini dikuasai oleh Otoritas Palestina, yang penuh dengan kekacauan dan korupsi.

Keempat. Apakah Penduduk Gaza Disendera Hamas?

Ibaratnya, Gaza menjadi tempat penjara terbesar di dunia dengan jumlah penduduk 1.5 juta jiwa. Mereka tidak dapat pergi kemana-mana. Karena, pintu perbatasan mereka ditutup rapat-rapat oleh Israel dan Mesir. 1.5 juta jiwa penduduk Gaza ikut disandera, dan dipenjara oleh Israel dan Mesir. Dua negara yang sudah menjalin hubungan diplomatik, ikut mematikan Hamas dengan cara menutup perbatasan mereka. Gaza tidak memiliki pintu masuk,yang hanya tergantung dari Mesir dan Israel, sementara perbatasan laut di sebelah utara adalah laut Mediterania, laut lepas yang dijaga ketat oleh armada laut Israel. Jadi, Gaza menjadi penjara terbuka, dan terbesar di dunia. Di mana 1.5 juta jiwa tidak dapat bergerak, kemanapun akibat blokade yang dilakukan Mesir dan Israel.

Penduduk Gaza hidupnya hanyalah menggantungkan melalui terowongan yang dibangun, secara diam-diam, yang menghubungkan ke Sinai, dan itu atas bantuan pasukan Hamas. Ketika, situasi krisis pecah,akibat blokade Israel, pasukan Hamas meledakkan gerbang Rafah, dan ratusan ribu orang yang lari ke Sinai, mendapatkan bahan-bahan kebutuhan pokok, yang mereka beli dari penduduk Mesir. Tapi, hanya berlangsung selama 10 hari, dan sesudah itu pasukan Mesir, kembali menutup perbatasannya rapat-rapat. Kapan penduduk Gaza dapat melepaskan diri dari penjara ini?

Kelima. Apakah Semua Penduduk Gaza Anggota Hamas?

April 2008, laporan intelijen Israel menyebutkan jumlah pasukan Hamas, berjumlah 20.000 pejuang bersenjata. Menurut laporan itu, hampir separuh dari jumlah itu, adalah pasukan pejuang Brigade Izzuddin al-Qassam. Namun, laporan intelijen Israel itu, dibantah oleh jurubicara Brigade Izzuddin al-Qassam, Sami Abu Zuhri. Belum ada data yang pasti berapa sebenarnya jumlah pasukan militer dari pejuang Brigade Izzuddin al-Qassam ini. Selain itu, awalnya Hamas, memang sebuah gerakan yang berorientasi dibidang sosial dan pedidiikan serta politik. Bukan gerakan militer atau milisi. Namun, di tahun 2004, ketika pemimpin Hamas, Dr.Abdul Aziz ar-Rantisi meninggal, ada sekitar 300.000 simpatisan yang ikut mengantarkan jenazahnya. Mungkin melihatnya berdasarkan survei yang dilakukan Pew Global Attitude Project, yang menyimpulkan, 62% penduduk Gaza, mereka menilai Hamas adalah kelompok yang baik. Selain itu, sebuah studi baru-baru ini di Ramallah, yang berbasis Pusat Kebijakan Palestina, mengadakan survei, menyatakan tingkat penurunan kepuasan atas kinerja yang dilakukan Presiden Mahmud Abbas, dan lebih spesifik, mengkaitkan kinerja Perdana Menteri Ismail Haniya dengan Perdana Menteri otoritas Palestina, Salam Fayad yang buruk dan gagal.

Keenam. Apakah Hamas Menolak Perjanjian Damai Dengan Israel?

Hamas memberikan dasar berpijak bagi perdamaian dengan Israel yang sangat jelas. Hamas menginginkan Israel menarik diri dari wilayah-wilayah yang diduduki sejak perang tahun l967. Hamas menginginkan agar Israel menutup semua pemukiman Yahudi, yang ada di wilayah Tepi Barat dan Gaza. Hamas menginginkan agar Israel menarik pasukannya dari Gaza dan Tepi Barat. Hamas menginginkan kembalinya Yerusalem Timur, yang menjadi hak mereka. Hamas menginginkan para pengungsi diberikan hak kembali ke wilayah mereka yang dirampas rejim Zionis-Israel. Hamas menginginkan diakhirinya blokade oleh Israel. Hamas juga menginginkan diberikan wilayah udara yang bebas, sehingga mereka dapat menggunakan penerbangan secara bebas. Mahmud al-Zahar menulis di Washington Post, menyatakan : “Ada lima syarat untuk mempertimbangkan perundingan Israel. Sebaliknya, Israel ada lima syarat, yang dengan tegas, dinyatakan, dan tidak dapat ditawar lagi, sebagai landasan perundingan dengan Hamas, yaitu Israel menolak bentuk Negara Palesltina, dengan perbatasan sebelum perang tahun l967, menolak Yerusalem sebagai ibukota Palestina, menolak kembali pengungsi Palestina ke tanah kelahiran meraka, menolak menghentikan tembok pemisah, dan menolak melepaskan tahanan Palestina. Jadi sampai kapanpun antara Hamas dan Zionis-Israel tidak bakal pernah bertemu, karena adanya perbedaan yang sifatnya prinsipiil.

Ketujuh. Mengapa Tidak Ada Kesepakatan Hamas dan al-Fatah?

Usaha-usaha mewujudkan pemerintahan persatuan gagal, yang dimediasi oleh Mesir, Arab Saudi, Yaman, antara Hamas dan al-Fatah, akhirnya memisahkan Gaza dan Tepi Barat, yang masing-masing menjadi pusat pemerintahan mereka. Gaza menjadi pusat pemerintahan Hamas, sedangkan Tepi Barat menjadi pusat pemeirntahan Otoritas Palestina, dibawah Presiden Mahmud Abbas dan Perdana Menteri, Salam Fayad. Al-Fatah yang sudah kehilangan kekuasaan tidak mau realistis, dan menerima fakta itu. Mereka masih ingin berkuasa, dan mendapatkan berbagai previlige (keistimewaan), yang sudah menjadi kultur para pemimpin al-Fatah, yang sudah mereka nikmati puluhan tahun. Maka, tak heran Otoritas Palestian, yang dipimpin Presiden Mahmud Abbas, malah mencari dukungan ke Israel dan Amerika, memperkuat kedudukannya,yang sudah tidak lagi memiliki basis politik dan militer yang kuat dikalangan rakyat Palestina.

Kedelapan. Siapa Mewakili Rakyat Palestina Sekarang?

Dengan jumlah 1.5 juta penduduk yang tinggal di Gaza, dan 2.5 juta penduduk yang tinggal di Tepi Barat, dan 62%, telah memilih Hamas, menunjukkan Hamas mendapatkan dukungan politik yang kuat, baik di Gaza dan Tepi Barat. Sejatinya Hamaslah yang menjadi wakil syah rakyat Palestina. Hamas sudah lebih dari cukup, dukungan politik yang dibutuhkannya, karena ketika pemilu yang berlangsung Januari 2006, Hamas mendapatkan dukungan 78% dari seluruh penduduk yang ada di Gaza dan Tepi Barat. Namun, legitimasi politik yang didapatkan Hamas dari rakyat Palestina itu, seakan-akan tidak berarti, ketika Mahmud Abbas, memisahkan diri dari pemerintahan Perdana Menteri Ismail Haniyah, yang berpusat di Gaza. Namun, melalui perundingan yang sangat berliku, Hamas menyetujui perundingan dengan Israel, terutama memberikan persetujuan dengan Pemimpin al-Fatah, Mahmud Abbas untuk berunding dengan Israel, tentu dengan syarat perjanjian damai dengan Israel harus dengan referendum.

Kesembilan. Hitler Melakukan Genoside Terhadap Yahudi?

Hitler melakukan tindakan genoside terhadap Yahudi? Sebuah tindakan yang sangat ditentang oleh siapapun, karena bentuk tindakan dehumanisasi. Tapi, sekarang Zionis-Israel melakukan apa yang pernah dilakukan oleh Hitler yang lebih dahsyat lagi. Rejim Zionis-Israel melakukan ‘holocaust’ terhadap penduduk Gaza dengan sangat biadab. Tindakan biadab Israel itu menyebabkan ratusan orang yang tewas, dan ribuan lainnya yang luka. Sejak Israel memberlakukan embargo dan sanksi ekonomi, dan sekarang rejim Zionis-Israel melakukan serangan yang sangat brutal terhadap penduduk Gaza, yang mengakibatkan porak-porandanya kehidupan. Antara 28 Februari – 2 Maret 2008, tak kurang 104 orang Palestina yang tewas, dan lebih 215 yang terluka, akibat serangan Israel. Tidak sepadan dibandingkan dengan jumlah korban difihak Israel, di mana hanya 3 orang Israel yang mati, dan 27 yang luka. Berbicaa angka kematian, Hamas memiliki data-data, yang lebih akurat lagi. Jadi tidak sebanding serangan Zionis-Israel, dibandingkan dengan korban difihak Israel, sebagai akibat serangan Hamas. Tapi, serangan roket Hamas selalu dijadikan dalih Israel untuk melakukan serangan militer secara massif ke dalam wilayah Gaza.

Kesepuluh. Bagaimana Kondisi Rakyat di Gaza?

Sekarang lebih dari 80% penduduk Gaza yang bergantung dari bantuan asing. Atau setara 1.1 juta penduduk Gaza, hidupnya hanya menggantungkan bantuan dari asing. Di tahun 2006, baru mencapai 63%, yang bergantung pada bantuan asing. Pengangguran mencapai 40%, dan hampir 70%, sektor swasta yang kehilangan pekerjaan, atau 70% dari 110.000 ribu di sektor swasta telah kehilangan pekerjaan mereka. Kondisi di Gaza sekarang ini lebih parah dibandingkan dengan tahun l967. Di mana Israel baru mencaplok wilayah Gaza dan Tepi Barat. Lembaga pendidikan menurun lebih 50% kemampuannya, sementara itu layanan medis, semakin merosot, hampir 60% ambulan tidak dapat berfungsi, karena tidak adanya bahan bakar. Mereka yang sakit harus jalan kaki menuju rumah sakit. Di Gaza terjadi pemiskinan yang amat dahsyat. Namun, mereka tetap bertahan tidak mau berkompromi dengan rejim Zionis-Israel.

Kesebelas. Apakah Israel Mempunyai Hak Menyerang Gaza?

Israel tidak mempunyai hak menyerang Gaza. Hanya alasan melindungi dirinya dari serangan roket Hamas. Seperti, laporan intelijen Israel, jumlah kekuatan militer Hamas, yang tergabung dalam Brigade Izzuddin all-Qassam, tidak lebih dari 10.000 orang, jadi tidak berarti seluruh rakyat Gaza adalah Hamas, dan harus dihancurkan. Serangan Israel ke Gaza, alasannya untuk menghentikan serangan roket yang dilakukan para pejuang Hamas, tapi faktanya sekarang ini, Israel tidak pandang bulu, seluruh wilayah Gaza, luluh lantak, sebagai akibat serangan udara, darat, dan laut dengan rudal-rudal yang terus menghantam sasaran sipil. Padahal, tindakan Israel itu telah melanggar konvensi Jenewa, yang melarang sasaran sipil dalam peperangan. Kenyataannya dalam perang yang sudah berlangsung selama sebelas hari ini, justru jumlah korban yang paling banyak adalah sipil. Tediri anak-anak, wanita, dan orang tua. Bukan sasarannya ke kelompok pejuang Hamas. Sekolah, masjid, kantor, dan fasilitas umum, semuanya dihancurkan oleh Israel. Menurut Jonh Dugard, Wakil PBB, di Gaza menegaskan, bahwa tindakan Israel itu sudah melanggar hukum humaniter internasional, karena melakukan serangan terhadap fasilitas sipil.

Kedua belas. Agresi Militer Rejim Zionis-Israel Tidak Efektif?

Agresi militer yang dilakukan rejim Zionis-Israel tidak efektif Letkol Oren Cohen Luka Parah, dan justru menaikkan populeritas Hamas. Karena, agresi militer yang bersifat massif, dan menggunakan serangan udara, tanpa jeda, serta banyak korban difihak sipil, hal ini hanyalah menunjukkan kegagalan strategi militer rejim Zionis-Israel. Agresi militer yang dirancang rejim Zionis-Israel, bukan menghancurkan Hamas, tapi semakin banyak yang memberikan simpati pada perjuangan Hamas dalam menghadapi penjajahan Israel. Maka, jika dalam waktu singkat rejim Zionis-Israel tidak dapat mengalahkan Hamas, maka ini akan membalikkan keadaan, dan pasti akan mengakibatkan hancurnya masa depan rejim Zionis-Israel. Para pemimpin Israel, nampaknya sedang berjudi, tidak memiliki presfetkif yang jelas dari tujuan perang yang dilancarkan terhadap Hamas. Kondisi ini justru akan semakin memperkuat posisi Hamas. Dan, Hamas tidak akan jatuh. Seperti ditulis Yossi Sarid, yang menulis di harian Haaretz : “Kerugian di fihak Palestina, kebanyakan warga sipil yang tidak berdosa, dan hanya akan menaikkan solidaritas dikalangan warga sipil. Pemerintahan Hamas tidak akan jatuh, sebagai akibat agresi militer Israel. Pilihannya, tidak lain berbicara langsung dengan Hamas, tanpa syarat apapun, dan agendanya hanya satu : menghentikan permusuhan”, tegas analis Israel itu.

Dapatkah semuanya itu berlangsung, di tengah-tengah jumlah korban yang sudah mencapai ratusan, dan ribuan lainnya yang luka. Medan perang Gaza akan menentukan nasib Hamas dan rejim Zionis-Israel selanjutnya. Wallahu’alam. (M/Abdr/Iol).