Putera Mahkota Saudi Pangeran Kegelapan

Senin, 31/10/2011 14:19 WIB | Arsip | Cetak

Saudi Arabia menuju kegelapan? Di tengah-tengah revolusi di dunia Arab, yang menjungkirkan para tiran, justeru putera mahkota Arab Saudi yang baru ini, memiliki kecenderungan akan menjadi tiran dan ekskutor Amerika Serikat.

Pengganti Pangeran Sultan yang meninggal di rumah sakit New York, konon seorang "algojo" Amerika, yang akan bertindak lebih keras membasmi unsur-unsur yang dituduh teroris dan ekstrimis serta radikal.

Kantornya di Riyad dilengkapi dengan kursi kayu berwarna gelap, berlapis emas, dan berbentuk persegi. Gedung itu sudah mencerminkan rasa ketakutan yang ditanamkan pada rakyat yang tinggal di ibukota Arab Saudi itu.

Beberapa tahun yang lalu, Menteri Dalam Negeri, Pangeran Nayef bin Abdul Aziz, seorang pria gempal dengan kumis rapi, disambut sekelompok sarjana Amerika. Para sarjana Amerika Serikat, menaruh perhatian kepada pangeran Arab Saudi itu. Karena, mereka sudah memprediksi kekuasaan Raja Abdullah akan jatuh ketangannya dalam beberapa tahun mendatang.

"Dia orang yang paling baik, dan orang sangat hangat yang pernah kukenal," ujar Jon Alterman, seorang ilmuwan Yahudi di Pusat Studi Strategis dan Internasional yang berbasis di Washington. "Dia calon Pangeran Manchuria, kan?", canda Alterman.

Memang, Jon Alterman tidak menggambarkan Nayef bisa bertindak dingin seperti kisah Pangeran Manchuria. Nayif memiliki karakter yang khas, dan sangat dingin dalam bertindak, tidak peduli, dan akan melakukan apa saja, walaupun banyak yang tidak menyukai. Nampaknya, dia memiliki kedekatan dengan Washington dibandingkan dengan raja-raja Arab Saudi sebelumnya.

Charles W. Freeman, Jr, seorang mantan duta besar Amerika Serikat untuk Arab Saudi, mengatakan bahwa pernah mengunjungi Nayef di Kementerian Dalam Negeri, pada satu pagi, di mana saat itu dia sedang rapat. "Dia dikenal sebagai pangeran yang penuh dengan rahasia serta bayang-bayang, karena ia bertanggung jawab atas badan intelijen," kenang Freeman, "Nayef selalu melakukan operasi pada malam hari", ujarnya.

Nayef yang menggantikan Putera Mahkota Pangeran Sultan, yang menderita kanker usus selama bertahun-tahun, dan meninggal pada 22 Oktober lalu. Nayef, nampaknya menjadi pewaris tahta kerajaan Arab Saudi, karena Raja Abdullah sekarang sudah dalam keadaan sakit-sakitan. Secara de facto penguasa Kerajaan Saudi itu, sekarang berada di tangan Pangeran Nayef, dan akan memiliki implikasi penting terhadap Washington, dan kota-kota lain di seluruh dunia.

Pejabat Gedung Putih menginginkan Arab Saudi dipimpin seorang pangeran yang dapat menciptakan suasana stabil di Riyadh. Karena para pengeran Arab Saudi itu, mereka ikut bermain di pasar global. Arab Saudi merupakan salah satu eksportir minyak terbesar di dunia - dan Arab Saudi menjadi negara paling depan dalam memerangi teroris di Timur Tengah. Amerika Serikat tidak ingin para pangeran di Arab Saudi kehilangan kekuasaan mereka, di tengah-tengah kehilangan kekuasaan para penguasa di Arab akibat revolusi.

Washington benar-benar menginginkan pengganti Raja Abdullah adalah orang yang dekat dengan Gedung Putih, dan terus dapat menjaga kepentingan Washington di Timur Tengah. Kekacauan yang melanda Arab Saudi, ini akan mempunyai dampak global, termasuk terhadap Amerika Serikat. Karena itu, sekarang perhatian Gedung Putih, dipusatkan kepada perubahan yang terjadi di Riyadh. Washington mengharapkan perubahan dan transisi kepemimpinan bisa berlangsung dengan lancar kepada Pangeran Nayef, dan tetap memiliki komitmen terhadap kepentingan strategis Amerika Serikat di kawasan itu.

Situasi politik yang sangat rentan dan tidak stabil dan perubahan yang terus berlangsung di dunia Arab, termasuk transisi di Arab Saudi sekarang ini, kemudian Amerika Serikat menggelar armada lautnya ke kawasan Teluk.

Sejumlah kapal perang dan kapal induk telah berada di kawasan itu, menjaga kemungkinan meletusnya perang terbuka dan konflik terbuka di kawasan itu, termasuk kemungkinan yang akan terjadi di Arab Saudi, nampaknya Washington sudah melakukan langkah-langkah antispasi dengan menerjukan armada lautnya di Teluk.

Situasi ini diperkeruh dengan usaha pembunuhan Duta Besar Arab Saudi di Washington oleh unsur-unsur pasukan elite Iran, yang menggunakan kartel narkoba Columbia. Ini nampaknya yang mendorong Amerika Serikat menggelar armada angkatan lautnya. Arab benar-benar geram dan kawatir atas ancaman Iran, yang sekarang memiliki kemampuan nuklir.

Revolusi di dunia Arab telah menunjukkan, para pemimpin Arab yang paling otoriterpun dapat kehilangan kekuasaan mereka atas sebuah negara. Washington, bagaimanapun menginginkan pergantian kekuasaan dari satu pangeran ke tangan pangeran lainnya di Riyadh, bisa berlangsung secara tertib.

Tetapi, sekarang menurut sumber-sumber yang dekat dengan kerajaan, banyak diantara para pangeran tidak menginginkan kekuasaan itu, jatuh ke tangan pangeran Nayef. Betapapun, diantara para pangeran di kerajaan Arab Saudi, sekarang berebut pengaruh kekuasaan, dan mereka ingin mendapatkan kekuasaan. Tidak sekadar menjadi pengeran. Para putera mahkota kerajaan tidak ingin Pangeran Nayif memonopoli kekuasaan.

Nayef dinilai tangguh dan angkuh, tetapi juga merupakan seorang Pangeran sangat dikenal oleh berbagai kalangan di Amerika, dan mampu berbicara dengan Amerika tentang isu-isu penting, seperti krisis ekonomi global. Hal itu, seperti yang digambarkan oleh bocoran dari kawat diplomatik dari WikiLeaks. Kawat rahasia yang dibocorkan oleh Wikileaks itu, menceritakan pertemuan dengan Nayif dan Menteri Keuangan Timothy Geithner, Juli 2009.

Nayef sangat dihormati di komunitas intelijen AS, karena upayanya yang  agresif dalam melakukan kontra dan perang melawan terorisme, kata mantan duta besar Freeman. Nayef sejak 2009, dipilih dan mengepalai Dewan Intelijen Nasional. Sekarang kegiatan kontraterorisme Saudi telah diserahkan anaknya, Pangeran Muhammad, yang sebelumnya menjabat sebagai asisten menteri dalam negeri untuk urusan keamanan, yang memiliki reputasi sangat terkenal dikalangan pejabat keamanan di Washington.

Pangeran Nayef selaku pemegang otoritas di Kementerian Dalam Negeri mendirikan sebuah program de-radikalisasi di 2004. Dengan program de-radikalisasi itu para pejabat Arab Saudi mengeliminir mereka-mereka yang dituduh sebagai ekstremisme dan teroris. Tak kurang dari 4.000 tahanan telah melalui program ini. Mereka mendapatkan "brainwashing" alias cuci otak, dan mendapatkan doktrin agama baru, yang semua itu dibawah supervisi Amerika Serikat. Amerika Serikat sampai pada tingkat mengawasi kurikulum sekolah dan mengeliminir ajaran-ajaran agama di sekolah yang dapat menimbulkan kebencian terhadpa golongan dan agama lainnya.

Human Rights Watch Sarah Leah Whitson mengkritik program itu, menggambarkannya sebagai, "Langkah daur ulang manusia besar-besaran" dari beberapa ribu orang yang dituduh radikal dan ekstrimis, yang mengancam kekuasaan para Pangeran Arab Saudi, dan mereka yang ingin melepaskan diri dari hegemoni Amerika Serikat.

Maka Pangeran Nayef tidak terlalu banyak pilihan kecuali harus menghilangkan pengaruh kaum radikal dan ektrimis, yang bukan hanya mengancam kepentingan Amerika Serikat, tetapi juga menjadi ancaman kekuasaan dan kepentingan para pangeran Arab Saudi, yang sekarang mereka menikmati hasil kekayaan minyak yang sangat melimpah, serta menjadi sekutu Washington.

Barat sedang menanti langkah apa yang akan dilakukan oleh Nayef di masa mendatang, khususnya untuk menjaga kepentingan strategis Amerika di kawasan Timur Tengah yang kaya dengan minyak. Karena di mata Amerika Serikat, munculnya radikalisme dan ekstrimisme itu dari Arab Saudi, yang menjadi pusat dan sumber ajaran Wahabi. (mas)

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Analisa

Terkait


Manajemen dan Disiplin

Ketika aku memasak dan mengiris bawang, aku berpikir bahwa seorang ibu harus punya thinking skill dan juga managerial skill, agar hal ini tidak membuat hari-harinya habis hanya untuk urusan rumah ta …

LKC Dompet Dhuafa Latih Kader Pos Sehat Ke-27

CIPUTAT – Sebanyak 15 orang Kader Pos Sehat Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Jawa Barat mendapatkan pelatihan persiapan pembukaan  Pos Sehat LKC dompet Dhuafa. Pelatihan ini sebaga…

ACT Kirim Tim Trauma Healing ke Aceh

          Gempa yang mengguncang Aceh memang berkekuatan besar, 8,5 skala Richter cukup untuk mengulang kisah kelam saat gempa berkekuatan sama memicu Tsunami 2004 silam. Ke…

Jangan ambil nyawaku…, sebelum berhasil mengambil air

Awalnya Musrifah, istri mantan Kepala Pusat Penelitian dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Husein, tidak percaya kalau ada sumber air di Gua Pego Dusun Tlogo Warak, Desa Giri Purwo, Kecama…

Pak Boih, ”Memperbaiki Hidup Melalui Program Misykat”

Skenario Allah swt memang selalu mengagumkan. Unik. Dan terkadang tidak pernah terpikir sedikitpun oleh kita. Melalui jalan yang sulit maupun yang mudah. Yang panjang maupun yang singkat. Selalu ada…


BSM Terima Penghargaan Service Excellence Award 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) kembali menoreh prestasi sebagai  Award Service Excellence Award 2012. Penghargaan kali ini diberikan oleh  Carre Customer Satisfaction & Lo...

Bedah Film Negeri 5 Menara di Universitas Mercubuana
Karya Anak bangsa yang mulai tayang perdana 1 Maret 2012 ini terus mendapat apresiasi yang luar biasa dari masyarakat Indonesia. Salah satunya melalui Bedah Film Nasional N5M ...

Baso Jadi Nominator di Festival Film Bandung
Alhamdulillah, Film Negeri 5 Menara yang disponsori oleh  iB Perbankan Syariah bank Indonesia mendapatkan apresiasi dari masyarakat Indonesia baik dalam maupun luar negeri . ...

Ekonomi Syari’ah, Kunci Atasi Krisis Global
Berbagai kelemahan yang terdapat pada bank konvensional menjadi isu utama penyebab krisis keuangan global. System ekonomi syari’ah memiliki daya tahan yang kuat terhadap kri...


Peluang