Muslim Sejati ‘Pasti’ Rindu Negara Islam

mujahidin fsaOleh : Muhammad Yusron Mufid

“Kami diutus untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan manusia kepada manusia menuju penghambaan manusia semata-mata kepada Tuhan yang menciptakanNya. Dari dunia sempit menuju dunia yang lapang. Dari kesewenangan agama menuju keadilan Islam”

(Pernyataan Rabi’i bin Amr dihadapan panglima Persia Rustum)

Indonesia memang negara dengan penduduk mayoritas muslim. Namun telah memilih atau terjebak kepada selain Islam sebagai jalan hidupnya. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat pancasila yang berpedoman hidup pancasila. Sebagai seorang muslim, sejatinya kita harus meyakini bahwa Islam adalah pedoman hidup menyeluruh. Islam berangkat dari kehadiran manusia dimuka bumi untuk semata-mata beribadah kepadaNya tanpa menyekutukanNya. Ibadah sendiri berasal dari kata ‘abd yang berarti hamba atau budak. Secara akal sehat sudah selayaknya budak hanya patuh dan tunduk kepada tuannya. Lalu siapa tuan kita ? Yaitu Allah yang kita sebut dalam kalimat syahadat. Beribadah adalah berangkat dari kesadaran penuh-penuh bahwa kita hanyalah seorang budak.

Seorang Muslim adalah seorang budak yang tunduk dan berserah diri dalam peribadatan kepada Allah. Bentuk ibadah kita kepada Allah adalah dengan ketundukan dan kepatuhan baik dalam keyakinan, ritual peribadatan dan syariat perundang-undangan. Singkat kata adalah sebuah kepatuhan total. Bagaimana jika tidak total ? Berarti kita mengiringinya dengan peribadatan kepada yang lain selain Allah. Misalkan begini, kita tunduk dan patuh kepada Allah dalam hal keyakinan dan ritual peribadatan -seperti dalam sholat, zakat dll- tetapi patuh dan setia terhadap yang lain selain Allah dalam hal syariat perundang-undangan. Misalkan kepada pedoman hidup perundang-undangan yang digariskan si Fulan. Berarti terjadi peribadatan ganda dalam hidup, disatu sisi kita beribadah kepada Allah dalam hal keyakinan dan ritual peribadatan, disisi lain kita beribadah kepada si Fulan dalam hal mentaati syariat perundang-undangan. Khawatirnya dengan demikian kita terjebak dalam kemusyrikan karena mempunyai dua sesembahan yang diibadahi.

Peribadatan manusia sepenuhnya kepada Allah hanya akan terealisasi dalam kekuasaan Negara Islam (pemerintahan Islam – red). Karena hanya didalam Negara Islam (pemerintahan Islam-red) lah pedoman hidup Islam benar-benar dapat menjadi panduan hidup tertinggi dalam mengatur perikehidupan manusia. Islam akan benar-benar menemukan rumah yang kondusif untuk menunjukkan bentuk real dan menampakkan jati diri yang sesungguhnya. Selama keislaman kita dilaksanakan bukan di Negara Islam maka Islam kita akan terus-terusan terpojok, terpinggirkan bahkan ternistakan oleh musuh-musuh Islam.

Adalah suatu hal yang wajar apabila ada kekhawatiran kaum non muslim mendengar ide Negara Islam karena mereka belum paham dan butuh dipahamkan bahwa Negara Islam bersahabat dengan kalangan non Muslim. Sejarah berbicara, selama seribuan abad pemerintahan Islam memimpin belum pernah diketemukan pemberontakan dari kalangan non Muslim kepada pemerintahan Islam kecuali pemberontakan yang dilakukan kaum Yahudi Quraizhah, Nadhir dan Qainuqa di zaman Rasulullah dulu. Itupun karena watak buruk mereka yang mengkhianati perjanjian. Justru dizaman pemerintahan Islam kita ketemukan kaum muslimin dan non muslim dapat hidup berdampingan bahkan dibeberapa wilayah kaum non muslim dan muslim saling bahu-membahu menahan teritorial Negara Islam dari gempuran musuh-musuhnya seperti di Yerussalem, Homs dan ketika menghadapi kerajaan Romawi. Bandingkan dengan kondisi mengenaskan penduduk Yerussalem ketika jatuh ke tangan tentara salib dan tartar. Seorang ilmuwan Barat yang bernama Crustav Loban pernah melontarkan pernyataan yang cukup terkenal “Sejarah tidak mengenal para penakluk yang lebih adil dan lemah lembut kecuali dari orang-orang Islam”.

Justru adalah hal yang ironis ketika di kalangan kaum muslimin sendiri yang menolak bahkan memusuhi ide Negara Islam. Padahal Negara Islam identik dengan tauhidnya seorang muslim yaitu fungsi Ibadah sebagaimana yang telah dibahas. Dalam konteks pribadi, tidaklah layak seorang muslim menolak ide Negara Islam. Coba pikirkan dan renungkan baik-baik, bagaimana mungkin seseorang yang mengaku muslim menolak bahkan memusuhi pemberlakuan hukum-hukum dalam agamanya sebagai pedoman hidup tertinggi ? Fahal antum muslimun ?

Sosialisasi mengenai Negara Islam juga penting dilakukan ditengah upaya-upaya musuh-musuh Islam melakukan black campaign terhadap istilah Negara Islam. Mereka propagandakan sebagai Ekstrimis, radikal, Islam garis keras, teroris dan Istilah monster lainnya. Belum lagi propaganda dari musuh internal umat yang menjadi kaki tangan tirani, mereka cap sebagai khawarij, takfiri, bughot, dan istilah monster lainnya. Kita sebenaranya tak usah heran dan risau dengan orang-orang semacam itu karena penjelmaan orang-orang seperti mereka akan ada selama bumi berputar sebagai sunatullah ujian bagi para pejuang. Mereka ingin kaum muslimin takut dan phobia terhadap istilah Negara Islam hingga menjauh dan tak kenal. Mereka ingin Islam terus menerus terpuruk dan terperangkap dalam penjara kehinaan sehingga dengan segala upayanya menghajar benih-benih kebangkitan Islam.Tetapi Allah tetap berkehendak menyempurnakan cahayaNya meskipun orang-orang musyrik benci.

Muslim sejati merindukan hidup didalam naungan Negara Islam (pemerintahan Islam-red). Karena sekali lagi hanya didalam Negara Islam lah hukum-hukum agama Islam dapat berlaku seteguh-teguhnya dan setinggi-tingginya. Hanya dengan Negara Islamlah kemuliaan dan kewibawaan agama Islam akan terwujud dan menggentarkan musuh-musuhnya. Penghambaan sepenuhnya manusia kepada yang Tuhan yang menciptakanNya juga hanya akan terwujud hanya dengan kehadiran Negara Islam. Bukankah itu inti dari ajaran Islam ?

Firman Allah yang patut kita renungkan :

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam Islam secara keseluruhan, jangan kamu ikuti langkah-langkah syetan, sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata” (Q.S. Al Baqarah : 208)

“Wahai Negara Islam kami rindu kehadiranmu, kami rindu pasukanmu yang akan membebaskan kami dari penjajahan bangsa asing ataupun penjajahan oleh bangsa sendiri”.

Wallahua’lam