Nasionalisme Indonesia

Redaksi – Sabtu, 17 Rajab 1435 H / 17 Mei 2014 15:41 WIB

Sementara itu di Indonesia yang mayoritas penduduknya Islam, kita dapati gerakan Nasionalisme tak kalah serunya.

Nasionalisme ini mulai dikenal di Indonesia pada awal abad ke-20, tepatnya ketika muncul pergerakan Nasional yang dimotori “Boedi Oetomo”. Padahal menurut K.H. Firdaus AN, Boedi Ooetomo tidak lebih dari perpanjangan tangan Kolonial Belanda.

Itu bisa dibuktikan umpamanya dengan melihat UUD Boedi Oetomo pasal 2 yang menyebutkan salah satu tujuannya, yaitu “Menggalang kerja sama, guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis”

Ditambah lagi, bahwa keanggotaan Boedi Oetomo hanya bersifat regional dan kesukuan yang sempit, Jawa dan Madura, sebagaimana tercantum pada pasal 4.[1] Dari sini menjadi jelas, bahwa munculnya Nasionalisme secara umum dan khususnya di Indonesia mempunyai kaitan erat dengan Kolonialisme.

Berbeda sekali, umpamanya dengan pergerakan yang bersifat atau berlabel Islam. Syarekat Islam sebagai contoh, adalah pergerakan yang sangat komitmen dan mempunyai peran yang sangat besar di dalam membebaskan Indonesia dari Kolonial Belanda. Syarekat Islam yang mulai berdiri sejak tanggal 16 Oktober 1905, dengan nama Syarikat Dagang Islam, mempunyai tujuan yang sangat mulia, yaitu:

“ Akan menjalankan Islam seluas-luasnya dan sepenuh-penuhnya supaya mendapatkan suatu Dunia Islam yang sejati”

Dengan kata lain SI bertujuan Islam Raya, dengan meng-Islamkan Indonesia dahulu. Di sini, SI sudah mempunyai wawasan international yang digali dari ajaran Islam yang murni. Namun sangat disayangkan sekali, orang-orang Nasionalis telah mengubur perjuangan mereka dengan memanipulasi sejarah. Menurut Dr. Muchtar Aziz, dosen sejarah dan peradaban Islam pada Fakultas Adab dan Program pasca sarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, faktor utamanya adalah distrosi politik, sehingga orang tidak berani menganalisa apa adanya. Padahal, menurutnya, perjuangan umat Islam selama lima puluh tahun adalah sangatlah berharga. Beliau mempertanyakan juga, kenapa konstituanse dibubarkan, padahal waktu itu sudah mendekati penyelesaian. Tetapi begitu hampir selesai lantas dihentikan. “Ini jelas ada orang-orang yang takut kepada Islam” Ujar beliau.


[1] Suara Hidayatullah, Mei 1997, hal: 70-71

 

Sebaliknya Boedi Oetomo, yang merupakan kaki tangan Belanda tersebut dijadikan tonggak Kebangkitan Nasional. Sebuah sejarah yang sudah salah kaprah. Nampaknya mereka takut kalau Islam berkuasa.

Konsep kebangsaan (Nasionalisme) waktu itu memang terlalu bersahaja dan berwawasan sempit. Tokoh-tokohnya seperti Ir. Soekarno sering mengidentikan Nasionalisme Indonesia dengan gagasan Kemal Attaturk di Turki. Begitu pula yang di sebutkan Dr. Soetomo ketika ia menulis di “Soera Oemoem” media massa BU yang terbit di Surabaya, bahwa:

“Digul Lebih utama dari Mekkah. Buanglah Ka’bah dan jadikan Demak itu kamu punya kiblat”

Atau yang diungkapkan Sundari, yang cenderung mempersepsikan paham kebangsaan sebagai suatu sikap penolakan terhadap fasilitas yang dibenar Islam untuk beristri sampai empat. [1]

Pernyataan-pernyataan diatas menunjukan bahwa BU anti agama dan anti Islam. Karena pernyataan itu mengandung unsur penghinaan terhadap Islam yang sulit ditolerir.

 

Diantara usaha gerakan-gerakan nasionalisme Indonesia yang sangat merugikan umat Islam dan masih terasa biasnya sampai hari ini antara lain:

Pertama : Gerakan untuk memperbaharui sebutan “Pahlawan Islam” seperti Pangeran Diponegoro, Jendral Soedirman dengan sebutan “Pahlawan Nasional”.[1]

Karena berangkat dari pijakan dan cara berfikir yang salah, mereka menafsirkan seluruh perjuangan Umat Islam Indonesia selama ini, seolah-olah hanya membela negri dan tanah air saja. Propaganda nasionalisme dengan gaya seperti ini terus saja digencarkan sampai hari ini. Di dalam salah satu tulisan pada salah satu majalah disebutkan:

Ikuti berbagai  kisah, dari Tjut Nya’ Dhien sampai Pangeran Diphonegoro, dari Sultan Hasanuddin sampai para Kyai di Banten, yang harus tersungkur peluru Belanda demi negri tercinta.”[2]

Padahal mereka para Alim Ulama, Kyiai dan para pemimpin Islam pada waktu itu, khususnya sebelum berdirinya RI pada tahun 1945, berjuang melawan Kolonial, bukan semata-mata karena negri atau tanah air, akan tetapi terdorong oleh semangat jihad membela agama.

Karena Islam mengajarkan umatnya untuk menjadi umat yang mulia, umat yang tidak rela dijajah dan diinjak-injak kehormatannya oleh para penjajah yang nota bene adalah orang-orang kafir. Perjuangan umat Islam ini tidak terbatas hanya pada tanah air atau daerah yang ia tempati saja, akan tetapi berkembang dan meluas ke negara-negara lain, di mana umat Islam berada.

Di sini letak perbedaan antara perjuangan untuk negri dan tanah air an sich, dengan perjuangan membela agama. Walaupun ada letak kesamaan yaitu berjuang mengusir penjajah.

Lebih dari itu, justru dengan semangat keagamaan seperti ini suatu bangsa akan lebih maju dan bisa lebih gigih berjuang melawan segala bentuk penjajahan dan aksi kolonial.

Bukankah organisasi yang berlevel Islam yang mengeluarkan resolusi jihad ketika terjadi pemberontakan PKI pada tahun 1948? Bahkan kemerdekaan Indonesia bisa diraih karena perjuangan umat Islam.

Kenyataan seperti ini diakui sendiri oleh penulis-penulis sejarah, seperti Harry J. Benda, yang menyatakan bahwa konsolidasi Belanda yang semakin meluas, terus menerus diancam dengan perjuangan-perjuangan lokal yang dipimpin ulama. Bahkan oleh George Mc. Turnan Kahin, menyebutnya  sebagai  “Ideological Weapon” bahwa Islam telah dijadikan senjata ideologis untuk menentang kaum kolonial.[3]

Ternyata semangat untuk mengusir penjajah justru timbul dari ruh perjuangan keagamaan, bukan hanya semata-mata milik kelompok yang menyatakan dirinya Nasionalis.

Pernyataan seperti ini dikuatkan dengan rentetan kejadian yang menyebabkan timbulnya gerakan kolonialisme, yang mempunyai kaitan erat dengan runtuhnya Khilafah Utsmaniyah. Mungkin bisa dikatakan bahwa kolonialisme merupakan folow up dari pertarungan antara Islam dan musuh-musuhnya.

Penyelewengan makna perjuangan ini, akan sangat mempengaruhi cara berfikir anak didik dan generasi Islam pada masa-masa mendatang, karena mereka akan memahami bahwa pahlawan-pahlawan Islam itu berjuang sekedar membela tanah air, bukan untuk menegakkan kalimatullah. Akibatnya, pemahaman dan ruh jihad melawan orang-orang kafir akan hilang secara pelan-pelan dari jiwa generasi Islam, sebuah rekayasa yang sangat membahayakan.

Kedua : Melakukan pemugaran tempat-tempat bersejarah yang sebagian besar dibangun sebelum masuknya Islam ke Indonesia, dengan tujuan mengingatkan generasi muda Islam pada leluhur mereka agar dihormati dan diagung-agungkan, yang akhirnya lupa terhadap kebudayaan Islam yang telah dibangun para Ulama.

Selain itu, di sana ada usaha-usaha untuk membelokkan beberapa kebudayaan Islam kepada arah yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam itu sendiri, seperti: “Sekaten”, jika dahulu dipakai oleh para Wali Songo untuk menggiring orang masuk Islam (bersyahadat), saat ini digunakan untuk merongrong nilai keIslaman dan merusak ajaran tauhid itu sendiri.

Akibatnya, timbul corak ke-Islaman yang baru yaitu keislaman yang penuh dengan bid’ah dan khurafat, serta segala bentuk kesyirikan yang selanjutnya, akan mengaburkan pemahaman aqidah yang benar dan bersih.

Keislaman seperti ini lebih dikenal sebagai Islam kejawen atau Islam abangan yang menjurus kearah mistik klasik khas jawa, karena merupakan hasil sinkretisme dari unsur Jawa, Hindu dan Budha.

Akhirnya agenda pengislaman yang belum digarap secara sempurna oleh wali songo tersebut, menjadi terbengkalai sebagai Islam yang separu-separuh dan kepalang tanggung.[4]

Ketiga : Menghidupkan acara yang diwariskan para leluhur yang sebagian besar bertentangan dengan Aqidah Islamiyah. Seperti kebiasaan “Kirab” di keraton Jogja yang terkadang disertai sesaji pada ratu Roro Kidul, iring-iringan “Kyai Slamet” di keraton Solo setiap awal bulan Muharam. Kyai Slamet adalah seekor kerbau bule yang sangat dikramatkan oleh masyarakat Solo dan sekitarnya. Kadang-kadang mereka berebut kotoranya untuk “melalap barokah”, ironis memang.[5]

Al-Quran sebagai way of live bagi umat Islam mencatat fenomena semacam ini jauh-jauh sebelumnya. Di dalam banyak ayat-ayatnya sering disebutkan bahwa kebudayaan nenek moyang sering kali menjadi penghalang bagi seseorang untuk mendapakan dan menerima kebenaran. Sebagai contoh, bisa dibuka ayat-ayat di bawah ini:

Qs. Al-Baqarah:170, Qs. Al-Maidah:104, Qs. Al-A’raf:28, 70, Qs. Hud:62, 87, Qs. Yunus  : 78, Qs. Ibrahim:10, Qs. Al-anbiya’:53, Qs. As-Syu’ara:75, Qs. Luqman:21, Qs. Saba’:43, Qs. Az-Zukhruf:22, 23

Keempat : Menggalakkan pemakaian bahasa Sansekerta di Instansi-instansi resmi, seperti: Adi Puro, Tri Dharma, Bhineka Tunggal Ika dll.

Perubahan-perubahan kejawa-jawaan nampaknya telah direkayasa sedemikian rupa oleh tokoh-tokoh kejawen, yang sementara ini banyak menduduki kursi di pemerintahan Indonesia, seperti yang pernah diungkapkan oleh Emha Ainun Najib, sehingga terkesan adanya upaya-upaya untuk mengembalikan tanah Jawa kepada ajaran Hindu Budha.

Berhubungan dengan usaha-usaha untuk mengembangkan kebudayaan dan warisan leluhur ini, penulis perlu menyertakan peryataan salah seorang orientalis, yang pernah menulis buku “Timur Dekat, Masyarakat Kebudayaannya”. Di dalam buku ini, ia mengungkapkan bahwa:

”Di setiap negara Islam yang kami masuki, kami melakukan penelitian-penelitian terhadap kebudayaan-kebudayaan leluhur sebelum datangnya Islam di tempat tersebut,  praktek semacam itu saya lakuakan agar seorang muslim menjadi bimbang dengan adanya kebudayaan tersebut, kemana ia harus memberikan loyalitasnya, kepada peninggalan leluhur tersebut atau kepada agamanya (Islam)”.[6]

Islam mengajak umatnya untuk maju, akan tetapi mereka ingin kembali ke zaman purbakala, taqlid dengan nenek moyangnya. Allah berfirman:

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَـكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ذَّلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“ Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah. Maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya, dan jika kamu membiarkannya, dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (Al-a’raf:176)

 

Perlu dicatat disini:

Bahwa gerakan-gerakan nasionalisme yang bermunculan pada tiga tahun terakhir ini, seperti PCPP (Persatuan Cendikiawan Pembangunan Pancasila), YKPK (Yayasan Kerukunan Persaudaraan Kebangsaan) dan PNI Baru, hanyalah akibat dari frustasi dan tak puas terhadap organisasi sosial yang ada. Terbukti bahwa kebanyakan anggotanya adalah para mantan politis, dan tokoh-tokohnya adalah dulunya dedengkot Partai Nasional Indonesia (PNI), atau berasal dari jajaran GMNI yang merupakan bekas organisasi mahasiswa PNI.

Oleh karenanya, tak salah kalau Prof. Nazaruddin Syamsuddin, seorang pengamat dari UI Jakarta, berkomentar bahwa orang-orang yang frustasi saja yang akan mendukung partai-partai semacam ini. Bahkan menurut Harold Crouch, pengamat politik Indonesia dari Australia, bahwa Organisasi Nasionalis yang bermunculan itu hanya untuk mengimbangi ICMI- yang sementara ini sangat dekat dengan pemerintah. Nampaknya, mereka sangat ambisius dan terobsesi dengan kekuasaan.

Orang-orang seperti ini kalau memegang kekuasaan dikhawatirkan akan mengikuti jejak para pendahulunya, Soekarno dan Soeharto.

Disetujui atau tidak, akhirnya hanya Islamlah yang akan menjadi alternatif tunggal untuk kembali memimpin manusia dan membawanya kepada kebahagiaan hakiki Dunia dan Akhirat. Hanya dengan hukum Islamlah, sebuah bangsa akan maju, aman dan makmur. Hanya dengan pemimpin Muslim yang komitmen dengan ajaran Islam, negara Indonesia akan bisa dibawa kepada keadilan sosial, baldatun toyyibatun wa robbun Ghofur.


[1] Majalah Gatra, 8 april 1995

[2] Majalah Gatra, 11 November 1995

[3] M. Syafi’I Anwar, Pemikiran dan Aksi Islam di Indonesia, hal. 3.

[4] Widji Saksono, MengIslamkan Tanah jawa tela’ah atas metode Dakwah Wali Songo, Penerbit Mizan, hal. 219,226,227.

[5] Gatra 9 April 1995

[6] Muhammad Sa’id Al-Qhohthoni, al-Wala’ wal Bara’, Daarut Thoyibah 1415, hal. 420


[1] Ridwan Saidi, Islam dan Nasionalisme Indonesia, hal: 25

Analisa Terbaru

blog comments powered by Disqus