Nato Telah Kalah di Afghanistan

Setiap hari, dua helikopter Black Hawk AS mondar-mandir di atas Bagram, Afghanistan sebelah timur. Di situlah Nato mendirikan markas besarnya selama invasi ke negeri itu.

Kedua helikopter itu tak ubahnya taksi yang mengantarkan segala macam benda, termasuk manusia, melintasi kota dan pegunungan. Bukan hanya helikopter milik AS, udara Afghanistan juga dipenuhi oleh berbagai helikopter dari militer berbagai negara; misalnya Prancis di provinsi Kapisa.

Helikopter itu hanya berputar-putar, dan berputar saja tanpa kontrol dan tujuan yang jelas, seakan menandakan bahwa AS dan Nato gagal memecahkan permasalahan Afghanistan.

Sekarang, Nato dan pemerintah Afghanistan telah menjalin kerjasama, sedangkan Taliban dikabarkan didekati oleh milisi Pashtun dan lainnya. Apa artinya? Setelah lebih dari tujuh tahun, fungsi keamanan telah hilang, kematian terus bertambang, dan popularitas pemerintahan Kabul terus tergembosi, sementara tentara-tentara yang bertugas di Afghanistan terus-terusan mengarahkan hidungnya pada arah jalan pulang.

Dan Taliban, jelas bahwa mereka terus menguasai semua medan, bahkan melintasi batas di Pakistan, bersiap terhadap segala penyerangan yang dipredisikan meletus musim panas nanti, ketika pemilu Afghanistan digelar. Inilah ujian sesungguhnya buat AS dan Eropa.

Pekan ini, Barack Obama, Presiden AS telah kembali mengirimkan pasukan tentaranya berjumlah 17.000 orang, bergabung dengan 30.000 tentara yang sudah berada di sana sebelumnya. Inggris dan negra Eropa lainnya telah mati-matian membujuk AS, tapi yang mereka dapatkan selalu penolakan dari Washington, sebaliknya AS bersikeras, tak ada yang pulang dalam waktu sekarang ini.

Bagram telah menjelma menjadi sebuah kota kecil. Di sana anda Bruger King dan Dairy Queen, tenda-tenda besar, jalanan yang baru diaspal, dan boulevard. Truk kontainer menjadi pemandangan biasa, dan dengan mendadak, Bagram mempunyai populasi sebanyak 18.000 orang! Bagram hanya berjarak 80 km dari Kabul.

Banyak hal yang dilihat di Bagram. Pertama kali datang, sebuah tulisan besar akan menyambut, "Ini adalah penghormatan terhadap mereka yang gugur di medan Operasi Enduring Freedom.

Jalani hidup Anda karena pengorbanan mereka." Slogan yang sangat terkenal ini diperuntukan untuk pemerintahan AS sebagai sebuah sindiran.

Di satu sudut ada dua buah televisi besar, yang tak pernah sepi dikerumuni oleh para tentara. Di toilet, banyak kata jorok ditulis yang jelas menggambarkan perilaku seksual tentara-tentara itu yang tak tersalurkan. Selebihnya adalah makian terhadap Bush.

Bisa dipahami, karena gara-gara George Bush lah, para tentara itu laksana dikerangkeng di Afghanistan yang berubah menjadi neraka. Karena AS, Afghanistan telah berubah menjadi miskin dan terbatas, dan itu sangat tidak disukai oleh tentara AS dan Barat.

Ditambah, para tentara itu sadar betul bahwa cepat atau lambat mereka akan bertemu dengan Taliban yang sama sekali tak takut mati. Tentara Jerman, terletak di sebalah Utara Afghanistan. sekarang sudah segan untuk mengadakan patroli malam. Mereka juga menolak bepergian tanpa ditemani oleh ambulan.

Satu hal yang sangat dibenci oleh tentara Nato adalah makanannya. Tak lain tak bukan, karena selalu makanan Amerika yang instan yang disajikan. Tak heran, Dick Cheney, seorang pejabat militer AS telah memenangkan tender pengadaan makanan tentara di Afghanistan.

Satu orang tentara mendapat bayaran seharga $2000 (sekitar Rp. 24 juta, tentu jumlah yang sangat besar), namun tetap saja tak banyak tentara yang antusias dikarenakan mereka seperti tengah menyodorkan nyawa kepada maut. Tak pelak, Nato telah didikte AS. Sementara Taliban tak malu-malu mencegat mereka untuk mengambil kiriman bahan makanan tentara selama sebulan.

Dengan semua itu, apa yang telah didapatkan oleh AS dan Nato? "Kami tidak melakukan apa-apa di sini. Kami jadi hanya bertindak destruktif dan negatif terhadap kami sendiri. Tak ada orang Afghanistan yang berbahaya." ujar salah seorang tentara senior.

"Kami menembaki entah siapa kami sendiri tidak tahu dalam operasi kami." Selama tahun 2008, menurut statistik, Nato telah membunuh warga Afghanistan sebanyak 2.118 orang. "Kami memerangi orang yang selama ini tak harus kami perangi." tambahnya lagi.

Tentara Nato telah kehilangan orientasi dan gairah hidup mereka.Sementara Taliban terus mengenda-endap, menunggu saat yang tepat untuk menghabisi mereka satu per satu, dengan diam-diam, tanpa banyak publikasi dan respon dunia internasional. Siapa sebenarnya yang telah kalah?

(sa/jp)