‘Perang’ antara Istana dan PKS

Muhammad Nuh – Senin, 16 Rabiul Awwal 1431 H / 1 Maret 2010 13:01 WIB

Beberapa hari menjelang sidang paripurna DPR soal Bank Century, fenomena politik diwarnai dengan perang saraf antara kubu istana dengan Partai Keadilan Sejahtera atau PKS. Peperangan pun sudah mulai terbuka.

Perang diawali dengan tuduhan staf khusus Presiden SBY bidang sosial dan bencana alam, Andi Arief. Andi pada pekan kemarin telah mengadakan jumpa pers soal keterlibatan anggota DPR dari FPKS, Misbakhun, di Bank Century. Andi mengungkapkan sejumlah data yang menunjukkan bahwa anggota DPR dari Jawa Timur ini terlibat L/C fiktif di Bank Century senilai 22,5 juta dolar Amerika. Kejadian itu terjadi pada 19 November tahun 2007.

Walau disangkal oleh sejumlah anggota Pansus Bank Century dari PKS, bahwa hal itu merupakan kasus lama dan sudah diklarifikasi, tetap saja, Andi mendekati sejumlah media untuk menggaungkan isu L/C fiktif Misbakhun di Bank Century. Terakhir, sebuah LSM sudah melaporkan kasus Misbakhun ke polisi.

Sementara itu, Misbakhun pun tidak tinggal diam. Berkali-kali pula, ia menghujat Andi Arief dengan sebutan penjilat, tidak becus,dan lain-lain.

Manuver Andi ini sepertinya lanjutan dari ancaman yang dilakukan para petinggi partai Demokrat yang gagal menebar ancaman pergantian menteri atau reshufle. Dengan kata lain, pertarungan antara istana dengan PKS tidak lagi dilakukan oleh lingkar luar istana, tapi sudah masuk ke lingkar dalam. Karena staf khusus presiden tentu bukan posisi asal yang bisa bermanuver secara pribadi, melainkan atas arahan setidaknya sepengetahuan SBY.

Hal ini pun sudah diakui staf khusus SBY bidang hukum, Deny Indrayana. Menurutnya, apa yang dilakukan Andi Arief sudah sepengetahuan SBY agar masyarakat melihat hal yang sebenarnya.

Menariknya, kenapa SBY harus melakukan ’perang’ ini? Kenapa tidak langsung melakukan pergantian menteri, terutama dari kalangan PKS. Seperti diketahui, ada empat menteri di kabinet SBY yang berasal dari PKS.

Pengamat politik dari Indo Barometer, M Qodari, menyampaikan sejumlah alasan tersebut dalam sebuah diskusi di Jakarta beberapa hari lalu. Menurutnya, pemecatan terhadap menteri dari PKS dan Golkar, akan merugikan SBY. Karena publik akan bersimpati dengan dua partai itu seiring dengan kian terbukanya skandal Bank Century.

”PKS dan Golkar mirip seperti kasus Bibit dan Chandra,” ujar Qodari.

Kedua, boleh jadi, manuver Andi Arief ini masih dalam takaran ancaman atau sebagai lanjutan dari ancaman sebelumnya yang dilakukan petinggi Demokrat. Dengan kata lain, SBY masih berharap banyak kalau PKS bisa mengubah kesimpulan akhirnya tentang skandal Bank Century di paripurna besok.

Pertanyaannya, apa yang dilakukan kubu SBY jika di paripurna nanti, PKS benar-benar menyampaikan kesimpulan akhir yang isinya tidak seperti yang diinginkan kubu SBY? Inilah yang dinanti publik soal tanggapan SBY terhadap pandangan akhir Pansus Century. Hingga saat ini, belum ada kejelasan kapan tanggapan istana soal Pansus Century: apakah disampaikan sebelum atau sesudah sidang paripurna besok.

Dalam sidang paripurna besok juga, publik bisa menilai siapa yang menang atau kalah dalam perang saraf ini: PKS atau SBY. (mnh)

Analisa Terbaru

blog comments powered by Disqus