Perang Rakyat Yogya Melawan SBY?

Rabu, 01/12/2010 10:00 WIB | Arsip | Cetak

Belum habis letusan gunung Merapi yang memporak-porandakan daerah sekitarnya, sekarang ada letusan yang lebih dahsyat dibandingkan dengan letusan Merapi, yaitu ‘perang’ antara rakyat Yogyakarta melawan SBY, yang bersikukuh menginginkan pemilihan gubernur dan wakilnya di derah istimewa Yogyakarta melalui pemilu.

Rakyat Yogyakarta ingin diselenggarakan referendum (jajak pendapat), sebagai solusi mengatasi kemelut ini. Reaksi rakyat Yogyakarta itu dipicu oleh pernyataan Presiden SBY bahwa sistem pemerintahan di Yogyakarta tak mungkin monarki (kerajaan). Selama ini kepala daerah Yogyakarta memang menjabat berdasarkan penetapan, yakni Sultan sebagai Gubernur dan Paku Alam sebagai wakilnya.

Berbagai spanduk bertebaran di alun-alun kraton Yogyakarta, dan seantero wilayah kerajaan itu, yang menginginkan diselenggarakan referendum. Mereka tetap menginginkan agar gubernur Yogyakarta itu, tetap dipegang oleh Sultan. Tidak melalui proses pemilu. Sebab dengan  pemilu, berarti tidak lagi gubernur Yogyakarta itu akan dipimpi Sultan, bisa orang lain.

Reaksi rakyat Yogyakarta itu dipicu oleh pernyataan Presiden SBY bahwa sistem pemerintahan di Yogyakarta tak mungkin monarki (kerajaan). Selama ini kepala daerah Yogyakarta memang menjabat berdasarkan penetapan, yakni Sultan sebagai Gubernur dan Paku Alam sebagai wakilnya.

Sultan Yogyakarta menanggapi pernyataan Presiden SBY dengan menyatakan akan menanggalkan jabatan gubernur, “Kalau sekiranya saya dianggap pemerintah pusat menghambat proses penataan DIY”. Artinya rakyat Yogyakarta tetap ingin Sultan yang memimpin Yogyakarta.

Tetapi, sejarah di masa lalu, memang menunjukkan pengorbanan yang luar biasa dari Sultan Yogyakarta, khususnya terhdap Republik indonesia, di mana kesultanan menyatakan bergabung. “5 September 1945, Sultan Hamengku Buwono IX menjadi pemimpin daerah yang pertama menyatakan diri bergabung dengan pemerintah Republik Indonesia. Pernyataan tersebut tertuang dalam amanat yang ditujukan kepada penduduk Yogyakarta. Pada saat yang bersamaan, Paku Alam VIII atas nama kadipaten Paku Alaman mengeluarkan pula amanat yang sama. Selanjutnya, pada 6 September 1945, Presiden Soekarno memberikan jaminan status khusus bagi kedua raja tersebut berupa piagam kedudukan”.

Selanjutnya, dalam perjalanan di mana Indonesia masih menghadapi ancaman agresi Belanda, pada tanggal 6 Januari 1946 – 27 Desember 1949, karena situasi keamanan Jakarta yang semakin memburuk menyebabkan Pemerintah Indonesia memindahkan ibu kota ke Yogyakarta. Kurang lebih 3,5 tahun, dan pemerintah mengendalikan negara dari Yogyakarta. Ini merupakan sejarah yang tidak dapat dilupakan, betapa sumbangan Yogyakarta bagi masa depan republik ini.

Selama dalam kurun waktu yang panjang Sultan Hamengku Buwono ke IX mengeluarkan dana pribadinya , membuka peti harta Keraton dan membagikan kepada pejabat pemerintah Republik Indonesia dari pejabat tinggi sampai pegawai rendahan guna menyambung hidup mereka sehari-hari.

Hamengku Buwono ke IX juga memberikan dana kepda para pejuang yang bergerilya melawan penjajah Belanda dan palang merah Indonesia. Jadi pengorbanan Hamengku Buwono itu sangat besar bagi eksistensi Indonesia di awal kemerdekaan, ketika republik masih menghadapi ageresi Belanda.

Kemudian, 4 Maret 1950, Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan UU Nomor 3 tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta, yang memberikan hak khusus kepada daerah Yogyakarta, dalam pengelolaan pemerintahan daerah.

Tentu, pernyataan Presiden SBY yang menginginkan perubahan Yogyakarta, tidak menjadi sebuah monarki (kerajaan) menemui perlawanan dari rakyat. Padahal, mekanisme pemerintahan di Yogyakarta, tidak ada yang berbeda dengan pemerintah pusat, kecuali hanya berkaitan dengan kepemimpinan daerah, yang secara mutlak berada di tangan Sultan. Nampaknya, rakyat juga tidak ingin adanya perubahan, di mana pemimpin Yogyakarta beralih tangan kepada orang lain, yang bukan Sultan.

Konlfik yang berlarut-larut khususnya berkaitan dengan Undang-Undang tentang Keistimewaan Yogkarta, hanya semakin melemahkan posisi pemerintah pusat, karena rakyat Yogyakarta melakukan perlawanan secara massif. Jika situasi ini tidak diselesaikan dengan baik oleh pemerintah, dampaknya akan sangat luas.

Apalagi bila rakyat Yogyakarta yang secara keseluruhan menuntut diselenggarakan referendum, ini berarti akan dapat menjadi preseden seperti yang terjadi seperti Timor Timur. Adakah Yogyakarta menjadi negara tersendiri, sebagai akibat kurangnya Presiden memahami tentang sejarah? (mhn)

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Analisa

Terkait


Manajemen dan Disiplin

Ketika aku memasak dan mengiris bawang, aku berpikir bahwa seorang ibu harus punya thinking skill dan juga managerial skill, agar hal ini tidak membuat hari-harinya habis hanya untuk urusan rumah ta …

LKC Dompet Dhuafa Latih Kader Pos Sehat Ke-27

CIPUTAT – Sebanyak 15 orang Kader Pos Sehat Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Jawa Barat mendapatkan pelatihan persiapan pembukaan  Pos Sehat LKC dompet Dhuafa. Pelatihan ini sebaga…

ACT Kirim Tim Trauma Healing ke Aceh

          Gempa yang mengguncang Aceh memang berkekuatan besar, 8,5 skala Richter cukup untuk mengulang kisah kelam saat gempa berkekuatan sama memicu Tsunami 2004 silam. Ke…

Jangan ambil nyawaku…, sebelum berhasil mengambil air

Awalnya Musrifah, istri mantan Kepala Pusat Penelitian dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Husein, tidak percaya kalau ada sumber air di Gua Pego Dusun Tlogo Warak, Desa Giri Purwo, Kecama…

Pak Boih, ”Memperbaiki Hidup Melalui Program Misykat”

Skenario Allah swt memang selalu mengagumkan. Unik. Dan terkadang tidak pernah terpikir sedikitpun oleh kita. Melalui jalan yang sulit maupun yang mudah. Yang panjang maupun yang singkat. Selalu ada…


Penerapan Syariah dalam Bisnis Tidak Merugikan
Penerapan prinsip-prinsip syariah dalam bisnis ternyata tidak merugikan. Hal ini dibahas dalam Sesi Panel keempat 2nd Bank Indonesia International Seminar on Islamic Finance, ...

Universitas Gunadarma Gelar Sharia Economic Forum
KULIAH INFORMAL EKONOMI SYARIAH 2012 Melihat tingginya permintaan SDM untuk bergabung dalam pesatnya pertumbuhan industri keuangan syariah, Sharia Economic Forum (SEF) UG bers...

N5M hadir di iB Expo Pekanbaru
Film Negeri 5 Menara hadir dalam iB Expo yang digelar oleh Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia. Film yang disponsori oleh iB Perbankan Syariah ini mendapat sambutan lu...

Siap-Siap iB Akan Hadir di IFRA 2012 Ini
Bank Indonesia bekerjasama dengan Panitia Expo IFRA 2012 kembali membuka iB Paviliun. Dimana akan hadir industri perbankan syariah untuk memberikan informasi mengenai produk-p...


Peluang