Political Business Cycle, Bom Kuningan?

Kamis, 30/07/2009 09:15 WIB | Arsip | Cetak

“The only thing we have to fear is fear itself” ungkap Franklin D. Roosevelt pada pidato inaugurasinya. Tidak hanya mengatasi Great Depression, dengan keberaniannya, pemimpin AS tersebut membawa bangsanya memenangkan Perang Dunia II.

Maka kita patut heran, dengan sebagian isi pidato Presiden SBY pasca Bom Kuningan. Dengan tetap menghormatinya, pemimpin bangsa ini justru mengungkapkan ancaman terhadap dirinya, berdasarkan informasi intelijen. Sebagian kita bertanya: apakah ini sebuah pengalihan isu, dari sentimen anti asing ke sentimen anti SBY (yang mungkin lebih baik), atau buah hasil intelijen negara yang rapuh ?

Syahdan, Karl Marx (1818-1883), Kalecki (1943), serta Minford dan Peel (1982) mengembangkan sebuah teori, political business cycle. Teori tersebut berhipotesis bahwa menjelang pemilihan umum, pemerintah berkuasa akan menggunakan sumber daya negara -dalam hal ini instrumen fiskal dan moneter- untuk melakukan kebijakan ekonomi populis agar terpilih kembali.

Namun, “kebijakan agar terpilih kembali” tersebut berbahaya, setidaknya, karena dua hal. Pertama, stabilitas ekonomi jangka panjang dikorbankan (seperti potensi inflasi karena peredaran uang besar-besaran via BLT dan gaji ke 13). Kedua, sumber daya negara yang terbatas itu, seharusnya dapat digunakan untuk kebijakan yang lebih efektif namun tidak populis.

Kaitannya dengan Bom Kuningan, teori political business cycle dapat menjadi dasar sebuah tesis: Pada saat pemilu lalu, Pemerintahan SBY lebih banyak menggunakan intelijen negara untuk melakukan “semacam kebijakan agar terpilih kembali” dengan mengorbankan sumber daya intelijen untuk tugas lain.

Dengan kata lain, BIN pimpinan Syamsir Siregar lebih banyak mengawasi dan mencegah ancaman terhadap SBY, daripada mengawasi dan mencegah aksi teroris.

Di satu sisi, tesis tersebut memang tidak memiliki kesempatan untuk dibuktikan melalui data. Bagaimana pun, tidak terdapat akses informasi bagaimana sumber daya BIN dialokasikan (untuk menangkal ancaman terhadap masyarakat dan atau mengawasi ancaman terhadap SBY). Namun di sisi lain, tesis tersebut didukung oleh logika sederhana yang dapat diketahui oleh siapapun.

Pertama, selama ini, belum terdapat batas yang jelas, sampai sejauh mana ancaman terhadap kelanggengan pemerintahan berkuasa dikategorikan sebagai ancaman terhadap negara. Penangkapan Rizal Ramli, dengan tuduhan penggalangan demonstrasi anti SBY, merupakan sebuah contoh: belum terdapat batas yang jelas, sampai sejauh mana instrumen negara dapat digunakan untuk mengeliminir ancaman terhadap pemerintahan berkuasa.

Kedua, berlawanan dengan sifat ideal pimpinan badan intelijen, BIN dipimpin oleh Syamsir Siregar yang sangat partisan secara politis kepada SBY (Syamsir anggota tim sukses SBY tahun 2004). Sifat politis partisan ini berbahaya. Tanpa adanya batas yang jelas, seperti yang diungkapkan di atas, sumber daya BIN dapat dipakai secara berlebihan untuk melanggengkan pemerintahan berkuasa.

Selain itu, pergantian Kepala BIN apabila terjadi pergantian pemerintahan, telah memberikan insentif personal kepada Syamsir Siregar untuk menggunakan sumber daya BIN agar tidak terjadi pergantian pemerintahan. Oleh karenanya, di negara lain, terjadi tentangan dan kritik tajam oleh Senat AS terhadap pengangkatan Porter J. Goss, Direktur CIA 2004-2005, yang "sedikit partisan" kepada Republik.

Terakhir, tesis tersebut juga didukung oleh isi pidato Presiden pasca pemboman. Dengan jelas, beliau hanya mendapatkan pasokan intelijen mengenai ancaman dirinya, bukan mengenai aktivitas pelaku teror pra pemboman. Seolah-olah BIN memang tidak melakukan kerjanya untuk mengeliminir ancaman terhadap masyarakat, karena sibuk mengawasi musuh SBY.

Pengungkapan data intelijen, yang seperti kata Presiden, "bukan rumor, bukan isu, dan bukan gosip" (namun jauh dari petunjuk pelaku pemboman) membawa kepada pertanyaan :

Apakah Bom Kuningan bisa terjadi, karena Pemerintahan SBY lebih banyak menggunakan BIN untuk melanggengkan kekuasaannya (daripada menangkal musuh masyarakat secara nyata) ?  Rizky A.Hakim (Mhs/FE-UI 2004)

foto: beritajakarta.com

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Analisa

Terkait


Manajemen dan Disiplin

Ketika aku memasak dan mengiris bawang, aku berpikir bahwa seorang ibu harus punya thinking skill dan juga managerial skill, agar hal ini tidak membuat hari-harinya habis hanya untuk urusan rumah ta …

LKC Dompet Dhuafa Latih Kader Pos Sehat Ke-27

CIPUTAT – Sebanyak 15 orang Kader Pos Sehat Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Jawa Barat mendapatkan pelatihan persiapan pembukaan  Pos Sehat LKC dompet Dhuafa. Pelatihan ini sebaga…

ACT Kirim Tim Trauma Healing ke Aceh

          Gempa yang mengguncang Aceh memang berkekuatan besar, 8,5 skala Richter cukup untuk mengulang kisah kelam saat gempa berkekuatan sama memicu Tsunami 2004 silam. Ke…

Jangan ambil nyawaku…, sebelum berhasil mengambil air

Awalnya Musrifah, istri mantan Kepala Pusat Penelitian dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Husein, tidak percaya kalau ada sumber air di Gua Pego Dusun Tlogo Warak, Desa Giri Purwo, Kecama…

Pak Boih, ”Memperbaiki Hidup Melalui Program Misykat”

Skenario Allah swt memang selalu mengagumkan. Unik. Dan terkadang tidak pernah terpikir sedikitpun oleh kita. Melalui jalan yang sulit maupun yang mudah. Yang panjang maupun yang singkat. Selalu ada…


Penerapan Syariah dalam Bisnis Tidak Merugikan
Penerapan prinsip-prinsip syariah dalam bisnis ternyata tidak merugikan. Hal ini dibahas dalam Sesi Panel keempat 2nd Bank Indonesia International Seminar on Islamic Finance, ...

Universitas Gunadarma Gelar Sharia Economic Forum
KULIAH INFORMAL EKONOMI SYARIAH 2012 Melihat tingginya permintaan SDM untuk bergabung dalam pesatnya pertumbuhan industri keuangan syariah, Sharia Economic Forum (SEF) UG bers...

N5M hadir di iB Expo Pekanbaru
Film Negeri 5 Menara hadir dalam iB Expo yang digelar oleh Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia. Film yang disponsori oleh iB Perbankan Syariah ini mendapat sambutan lu...

Siap-Siap iB Akan Hadir di IFRA 2012 Ini
Bank Indonesia bekerjasama dengan Panitia Expo IFRA 2012 kembali membuka iB Paviliun. Dimana akan hadir industri perbankan syariah untuk memberikan informasi mengenai produk-p...


Peluang