Pengamat Teroris Mau Menyalahkan Allah?

Belum lagi ketemu siapa otak di belakang M.Syarif, opini media sudah menuduh mujahidin. Dikit-dikit mujahidin. Dikit-dikit karena pemahaman thoghut kafir jihadi yang dipelajari dalam kajian-kajian Islam.

Hati-hati, kata-kata thoghut, kafir, jihad itu bukan datang dari Syarif tapi dari Allah. Pengamat teroris mau menyalahkan Allah? Terlepas dari kita mengutuk aksi M Syarif meledakkan dirinya ketika umat Islam yang lain tengah mendirikan ibadah. Terlepas kita juga tak sependapat ada seorang muslim yang kelewat batas menafsirkan makna jihad ilallah.

Namun belum jelas apa motif dan siapa, pengamat teroris dan intelijen yang sengaja (di)hadir(kan) di media, sudah menyimpulkan: “Ini kan karena Syariat Islam, Khilafah, Negara kita bukan Islam. Ideologi transnasional”. Pengamat teroris mau menyalahkan Allah?

Hati-hati kalimat menegakkan Syariat Islam bukan datang dari Syarif, bukan pula datang dari gerakan Islam tapi datang dari Allah yang juga diamini Rasulullah. Hati-hati kewajiban meninggalakan sistem kufur bukan pula datang dari anak Cirebon itu, tapi perintah Al Maidah. Pengamat teroris mau menyalahkan Allah?

Hati-hati kewajiban mendirikan khilafah itu adalah bagian dari perjuangan umat bukan syair lapuk yang didengung-dengungkan penyembah demokrasi. Sebelum Syarif lahir, Rasulullah sudah menjelaskan akan kewajiban menegakkan konsep persatuan Islam itu bagi tiap umat muslim.

Bahkan hal itu dijamin hadis bahwa kelak akan berdiri Khilafah Rosyidah ala Minhajin Nubuwah setelah fase mulkan jabariyan dimana Imam Mahdi akan membawa umat Islam ke dalam kejayaan Islam tanpa sekat nasionalisme. Pengamat teroris mau menuduh Imam Mahdi teroris?

Rasulullah SAW bersabda, “Akan ada masa kenabian pada kalian selama yang Allah kehendaki Allah mengangkat atau menghilangkan kalau Allah menghendaki. Lalu akan ada masa khilafah di atas manhaj nubuwwah selama Allah kehendaki kemudian Allah mengangkat jika Allah menghendaki. Lalu ada masa kerajaan yg sangat kuat selama yang Allah kehendaki kemudian Allah mengangkat bila Allah menghendaki. Lalu akan ada masa kerajaan selama yang Allah kehendaki kemudian Allah mengangkat bila Allah menghendaki. Lalu akan ada lagi masa kekhilafahan di atas manhaj nubuwwah.“ Kemudian beliau diam.”

Penulis hanya mau mengatakan: analisismu harimaumu, bahkan virusmu. Ketidaksetujuan pengamat teroris terhadap aksi Syarif jangan pula membuat analisis menjadi liar. Menabrak sana-sini tanpa kunci, seakan-akan Al Qur’an adalah biangnya. Seakan-akan Rasulullah salah menjelaskan perintah. Harus dipisahkan ajaran Islam dengan perilaku Syarif. Kalau begini berarti siapa teroris sesungguhnya?

Bahkan kalau kita perhatikan, apa betul Syarif adalah aktor tunggal di belakang ini semua? Karena jika memang Syarif menderita kelainan, bagaimana mungkin ia memiliki tingkat pemahaman tinggi terhadap teknologi?

Semilitan-miltannya mujahidin, juga tidak mungkin akan membom masjid. Hatta Ustadz Aman-semoga Allah merahmati beliau- yang berada dibalik jeruji atas tuduhan tindak terorisasi pun, sudah berujar bahwa tak boleh melakukan pengeboman di Masjid Dhiror karena masalah Masjid Dhiror dan ketidakbolehan sholat di masjid itu sangat Khofiy (samar) atas mayoritas muslim bahkan banyak muwahidin.

Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia psikologi, penulis faham betul bahwa orang seperti Syarif akan sangat mudah tersulut keinginannya jika diprovokasi. Bisa jadi ada memang orang yang membenci Islam dalam memanfaatkan Syarif. Akan menjadi tidak masuk akal jika Syarif mutlak memiliki cara pandang itu tanpa ada orang yang secara intens memepetnya untuk melakukan aksi (baca: bom bunuh diri).

Dan sikap Syarif yang terlihat tempramen saat menggebuk mobil dan menendang polisi, sudah dipantau sejak lama oleh orang yang membenci Islam. Syarif juga menjadi terduga dalam kasus pembunuhan seorang kopka Soetejo (Babinsa Kodim Sumber 0620-Cirebon) beberapa waktu silam.

Tampaknya orang yang menunggangi Syarif sudah sangat belajar pada titik apa kepribadian Syarif akan meledak. Kisahnya yang jengkel atas sikap pemerintah yang diam, bergeming, dan mudah didikte untuk tidak membubarkan Ahmadiyah akan menjadi catatan tersendiri oleh kelompok yang mau membonceng Syarif sekaligus menyudutkan agama suci ini.

Disinilah, pintarnya pengamat terorisme yang tampaknya “sengaja” menutupi alasan ini. Penulis menjadi tidak yakin kalau pengamat teroris abai menyadari motif ini. Karena secara ilmu mereka faham bahwa model seperti ini adalah bagian yang dipelajari dalam intelijensi.

Grand Design?

Nah akhirnya yang terjadi apa? Penyudutan terhadap Islam dan umat Islam menjadi deras tak tertahankan. Baru saja bom terjadi, gambar Syarif sudah muncul. Belum pula dijelaskan siapa Syarif, alamat sang istri sudah berhasil ditemukan. Dan dengan kenakalannya, wartawan pun intens menyorot rumah Syarif yang penuh tempelan akan kalimat-kalimat tauhid.

Motif-motif ini juga sering terjadi pada kasus-kasus sebelumnya. Media juga menggiring bahwa seakan-akan keluarga Syarif sendiri adalah orang yang jarang bergaul , tertup, dan ekslusif.

Apa betul seperti itu? Kenapa kita amat mudahnya percaya kepada media di tengah kasus yang masih samar seperti ini. Sekali lagi penulis hanya mau mengatakan: ingat kasus ini masih samar. Kenapa kita tiba-tiba menjadi pelupa bahwa motto media selama ini adalah badnews is goodnews?

Sebagai lulusan komunikasi, penulis sedikit banyak mengenal bagaimana tak-tik para jurnaslis untuk memegang kendali berita. Menjadi sangat mungkin apabila wartawan akan bertanya langsung menembak masyarakat: “ibu-ibu, bapak-bapak, apa betul keluarga Syarif jarang bergaul?” Mengingat kasus-kasus teorisme sepertinya memiliki alur yang sama: tertutup, memakai simbol-simbol Islam, dan sekaligus mencurigakan.

Dan secara psikologis, anda bisa bayangkan bagaimana perasaan masyarakat yang baru saja dikagetkan kasus pemboman yang melibatkan tetangganya langsung “diteror” oleh pertanyaan seperti itu.

Dampaknya

Apalah daya. Opini kadung berkembang. Bupati Majalengka sudah berujar awasi orang yang pergi malam pulang pagi. Kita bahkan lebih buruk dari masa lalu dimana penegak syariat bisa dicap bangsat. Bisa jadi Panglima Diponegoro dan Imam Bonjol sedang memangisa saat ini, jubah yang dulu sering mereka pakai, kini malah dianggap salah satu indikasi terorisme.

Entah mengapa, sekalipun tidak ada mujahidin yang menyetujui aksi syarif, namun para pengamat teroris dan pihak BNPT sudah memastikan ada kelompok Islam di balik Syarif? Kata kelompok disini adalah tanda kutip bagi kita semua. Kelompok yang mana?

Kelompok yang berjuang ikhlas agar bangsa ini diberikan berkah oleh Allah dengan penegakan Syariat Islam? Padahal dalam catatan Densus saja, Syarif adalah nama baru. Ia tidak terlibat dalam gerakan dan aksi apapun sebelumnya. Jadi tidak ada hubungannya mengait-ngaitkan dengan gerakan Islam.

Penulis hanya khawatir penafsiran yang cenderung menjadi liar oleh para pemerhati terorisme, justru akan merusak citra Islam itu sendiri. Islam sebagai agama yang sudah melatakkan proporsi tersendiri tentang jihad semestinya dijelaskan oleh Ulama yang mumpuni dalam keilmuannya. Bukan oleh para pengamat teroris yang tidak jelas mainstream berfikirnya. Apalagi yang mengaku-aku mantan mujahid, berjenggot, alumni Afghan, namun diam-diam justru sudah tergadai idealismenya. Menjual “gelar” demi urusan dunia, yang bisa jadi bukan saja menyalahkan aksi terorisme, tapi juga ikut menyalahkan Allah.

“Dan apabila kami melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan meteka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap teriakan-teriakan keras yang ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh yang sebenarnya, maka waspadalah terhadap mereka, semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka bisa dipalingkan dari kebenaran?” (Al Munafiqun ayat 4).

Allahua’lam. (Pz)