Turki-Rusia, Poros Baru Kekuatan Dunia?

Al Furqan – Kamis, 28 Syawwal 1431 H / 7 Oktober 2010 14:39 WIB

Stasiun televisi ABC pada bulan Maret 2003 menyiarkan program bertajuk "American Dreamers" yang isinya membongkar agenda jaringan neokon (neo-konservatif) dan kalangan Republikan garis keras yang sebenarnya menjadi "dalang" invasi AS ke Irak.

Dari agenda mereka diketahui, bahwa invasi AS ke Irak bukan semata-mata demi minyak tapi untuk kepentingan yang lebih besar yaitu untuk mewujudkan sebuah imperium dunia di bawah kekuasaan AS yang tentu saja akan dikendalikan kaum neokon ini.

Di AS, kelompok neokon sudah membentuk jaringan yang sangat sistematis dan ketat, di mana anggota-anggotanya menyusup ke Kongres, lembaga-lembaga think-tank, media massa bahkan menguasai acara-acara talk-show di televisi.

Kelompok neokon di AS kebanyakan–atau mereka sendiri–adalah imigran Yahudi dari Eropa Timur yang sangat anti-komunis dan pro-Israel. Tak heran kalau AS tak pernah bisa melepaskan diri dari dukungan butanya terhadap Israel, salah satunya karena pengaruh kelompok neokon yang demikian kuat.

Kelompok ini pula yang mendorong AS menjadi negara yang ambisius untuk menguasai Timur Tengah dan Asia Tengah. Mereka menginginkan kawasan itu menjadi bagian dari imperium AS.

Namun ternyata tidak mudah bagi AS untuk mewujudkan ambisi itu, terutama setelah munculnya kekuatan-kekuatan baru, seperti Turki, Rusia dan Iran. Alih-alih menguasai, AS malah harus menghadapi perlawanan yang kuat misalnya dalam konflik Palestina, perang di Irak maupun di Afghanistan.

Sejak Partai Keadilan dan Pembangunan Turki (AKP) yang berbasis Islam berkuasa, Turki muncul menjadi kekuatan yang tak terduga dan mengingatkan kembali masa-masa kejayaan Dinasti Ustmaniyah yang memerintah hampir seluruh wilayah Timur Tengah dengan damai.

Turki dibawah kepemimpinan Presiden Abdullah Gul dan Perdana Menteri Recep Tayyib Erdogan menjadi negara yang dinamis dan mampu mengambil hati negara-negara yang cukup berpengaruh di Timur Tengah, lewat strategi diplomasi dengan cara membuka kembali hubungan kerjasama bebas visa antara lain dengan Lebanon, Yordania, Libya dan Suriah dan Mesir. Turki ingin menciptakan Persatuan Timur Tengah yang sama kuatnya dengan Uni Eropa.

Yang mengejutkan, Turki lebih cenderung membangun kerjasama strategis dengan Rusia dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya atau AS. Turki mengaktifkan kembali hubungan perdagangan, investasi, pembangunan jaringan pipa-pipa gas dan pembangunan fasilitas energi nuklir.

Jika Turki mewarisi kejayaan Dinasti Utsmaniyah, Rusia merupakan warisan kejayaan Bizantium yang sama-sama pernah menguasai Timur Tengah. Di masa sekarang, hubungan Turki-Rusia yang kembali mesra ibarat "poros" yang bakal mengulang kembali "hegemoni" mereka di Timur Tengah, bahkan lebih berpengaruh dibandingkan hegemoni negara-negara "perampok" Inggris-Amerika di abad 20 ini.

Invasi keji AS ( di Irak dan Afghanistan) dan Israel ( di Palestina) tidak membuat negara-negara yang terkena dampak invasi itu takut, tapi malah membuat mereka berani dan mendorong mereka untuk membentuk sebuah aliansi kekuatan baru, seperti yang dilakukan Turki, Rusia, Iran dan Suriah.

Aliansi antara Suriah, Turki dan Iran bukan hanya atas dasar tradisi, agama dan resistensi mereka pada sepak terjang AS-Israel, tapi karena atas dasar kepentingan yang sama dalam menghadapi kelompok separatis Kurdi yang menerima dukungan dari AS dan Israel. Masuknya Rusia, menambah aliansi Turki, Iran dan Suriah itu menjadi tambah kuat di kawasan.

Kekuatan aliansi itu secara geopolitis regional lebih alami dan logis, tidak semu seperti kekuatan yang dibangun oleh imperium Inggris dan AS sejak 150 tahun yang lalu hingga sekarang. Imperium Inggris-AS lebih mirip para prajurit Perang Salib yang menimbulkan bencana, mereka memaksa penduduk setempat untuk mengusir penjajah, tapi akhirnya tindakan itu yang mematikan gerak para prajurit Perang Salib sehingga mereka harus menelan kekalahan.

Keberanian Turki melawan arogansi Barat, seperti halnya Iran, serta keberanian Turki mengecam Israel setelah peristiwa serangan ke kapal Fredom Flotilla, membuat dunia tercengang, termasuk negara-negara Arab. Rusia, sebagai bagian dari aliansi ini, memang tidak seberani Turki, terutama dalam isu-isu konflik di Timur Tengah.

Harus diakui bahwa perekonomian Rusia yang sedang terpuruk dan lemahnya angkatan bersenjata Rusia telah memicu perbedaan pandangan di kalangan elit Rusia terkait seberapa jauh Rusia harus mengakomodasi kerjasama dengan AS. Selain itu, catatan sejarah Rusia di Afghanistan dan Chechnya menjadi penghalang bagi hubungan Rusia dengan kaum Muslimin di Timur Tengah.

Sejak pasukan Rusia angkat kaki dari Mesir pada tahun 1972, pengaruh Rusia di Timur Tengah makin melemah. Rusia juga harus menghadapi kenyataan emigrasi jutaan warganya ke Israel di era tahun 1980-an.

Saat ini, tak bisa dipungkiri bahwa Rusia sudah dibawah pengaruh lobi-lobi Israel, banyak warga negara Rusia yang memiliki dua kewarganegaraan, yaitu kewarganegaraan Israel dan Rusia juga menerapkan kerjasama bebas visa dengan Israel.

Persoalan lainnya yang dihadapi Rusia adalah hubungan dekatnya dengan Iran, terutama dalam kerjasama energi nuklir yang membuat Rusia menjadi target "serangan" dan kecaman Barat.

Namun Rusia berhasil menunjukkan dirinya sebagai negara yang tidak mudah ditekan. Rusia telah melanjutkan kerjasama pembangunan fasilitas nuklir untuk kebutuhan energi dengan Iran, Turki, Suriah dan Mesir. Belum lama ini, Rusia bahkan menandatangani kesepakatan penjualan misil jelajah terbaru jenis P-800 ke Suriah, yang membuat AS dan sekutunya, Israel bertambah berang.

Ada alasan lain bagi Rusia sehingga negara ini dianggap bisa menjadi "penengah" di Timur Tengah, seperti halnya Turki adalah fakta bahwa Yahudi Rusia yang dulu pindah ke Israel, merasa tidak nyaman dibawah rezim Israel dan akhirnya kembali ke Rusia.

Kondisi ini berpengaruh pada hubungan Rusia-Israel, karena Israel justru sedang berusaha untuk memulangkan sebanyak mungkin orang-orang Yahudi diaspora agar mau menetap di Israel.

Di Rusia sendiri, terdapat kawasan kaya bahan mentah yang menjadi "negara kecil" orang-orang Yahudi dan keberadaannya diakui oleh Rusia, yaitu Birobidjan Rusia yang menganut konsep sekular nasionalis.

Tidak ada "tangan-tangan ajaib" yang mengarahkan terbentuknya poros Turki-Rusia sebagai formasi politik baru di tengah panggung politik internasional. Tapi keberadaan poros itu direngarai akan memberi ketahanan bagi dunia Islam untuk menghadapi arogansi Barat.

Turki yang dulu dipandang sebelah mata sebagai "orang sakit di Eropa" kini menjadi "satu-satunya orang sehat di Eropa". Dalam pertemuan tingkat tinggi "Millenium Goals" PBB pekan kemarin, Presiden Turki Abdullah Gul menegaskan posisi Turki bersama Rusia serta sahabat-sahabat Turki lainnya seperti Iran dan Suriah, untuk membersihkan "kotoran-kotoran" akibat kekacauan yang dilakukan oleh imperium Inggris dan persekutuan AS-Israel yang mengklaim sebagai negara demokratis.

Di tengah ambisi AS dan Israel untuk melakukan serangan militer ke Iran, pemimpin negara Turki dan Rusia terus meningkatkan kerjasamanya di berbagai bidang dengan Timur Tengah, termasuk Iran.

Timur Tengah berpandangan, keinginan Rusia untuk membangun sumber-sumber energi di Iran, Turki, Suriah dan Mesir bertujuan untuk membuka akselerasi bagi pembangunan ekonomi di Timur Tengah yang selama ini selalu dihalang-halangi Barat yang cenderung lebih mementingkan kemajuan ekonomi Israel.

Rusia bersama aliansinya, Turki terus berusaha menjadi penengah dalam konflik Timur Tengah, khususnya konflik di Palestina dan konflik antara Iran dan Barat.

"Perdamaian di Timur Tengah menjadi kunci perdamaian dan stabilitas dunia di masa depan," tukas Abdullah Gul dalam pidatonya di pertemuan tingkat tinggi PBB.

Sampai sejauh mana aliansi Turki-Rusia bisa bertahan dari gempuran Barat dan mampukah aliansi ini menyatukan Timur Tengah untuk membendung ambisi kaum neokon? Waktu yang akan menjawabnya. (Eric Walberg-wb/ln)

Analisa Terbaru

blog comments powered by Disqus