Profesor Akbar Ahmed: Beratnya Tantangan Para Mualaf Amerika Latin di AS

Mashadi – Sabtu, 13 Jumadil Awwal 1432 H / 16 April 2011 07:26 WIB

Para mualaf di AS, selain dari kalangan kulit putih, juga banyak dari kalangan Amerika Latin. Para mualaf dari kalangan Latino ini, seperti juga komunitas Muslim yang berlatar belakang negara-negara Muslim, menghadapi tantangan yang lebih berat di AS; tantangan dari sisi religius dan tantangan dari sisi budaya.

Hal tersebut diungkapkan cendikiawan muslim Akbar Ahmed, ketua Studi Islam Ibnu Khaldun dan profesor bidang hubungan internasional di American University, Washington D.C.

"Para Latino yang memilih memeluk agama Islam, kebanyakan karena mencari ketentraman dan kedisiplinan," kata Profesor Ahmed yang juga menulis banyak buku, antara lain buku yang berjudul "Journey into America: the Chalenge of Islam".

Dalam wawancara dengan situs berita Illume, Ahmed bicara tentang kondisi para mualaf dari kalangan komunitas Amerika Latin. Berikut petikannya;

Apakah Anda tahu berapa jumlah orang Latin-Amerika yang masuk Islam di AS?

Jumlah pasti seluruh mualaf, termasuk dari kalangan kulit putih masih dikira-kira. Jadi kita tidak mengatakan dengan pasti berapa banyak sebenarnya jumlah mereka. Kadang, orang enggan mengatakan bahwa mereka mualaf, kadang mereka pindah-pindah tempat, jadi sulit untuk menghitungnya. Tapi, saya akan mengatakan bahwa orang Latin-Amerika yang masuk Islam jumlahnya cukup substansial.

Apa motivasi yang mendorong mereka masuk Islam?

Saya pikir ada dua alasan. Komunitas Latino yang kehidupannya biasa-biasa saja, mengalami kesulitan untuk masuk dalam kehidupan masyarakat kulit putih AS. Beberapa hal yang mereka lihat di sekeliling mereka, seperti kebebasan yang terlalu berlebihan, kurangnya disiplin serta kesemrawutan, dimaknai bahwa mereka tinggal di sini (AS) dengan resiko yang besar.

Kehidupan keluarga, anak-anak, kenyamanan dan keyakinan religius mereka, semua ikut terpengaruh karena kehidupan masyarakat yang begitu bebas, yang bisa melakukan apa saja yang diinginkan.

Selain itu, karena komunitas Amerika Latin di AS umumnya berlatar belakang agama Katolik, yang mengajarkan ketentraman di dunia, lalu hidup di tengah masyarakat Amerika yang benar-benar bebas, kadang membuat mereka merasa menemukan alternatif dalam Islam, dimana mereka juga melihat sebuah ketentraman hidup. Dalam Islam, seorang muslim tidak boleh minum minuman keras, perempuan tidak boleh sembarangan berjalan dengan laki-laki yang bukan muhrim, Islam mengajarkan kaumnya untuk menjaga keluarga dan anak-anak. Semua ini buat orang-orang Latin-Amerika bermakna ketentraman dan disiplin.

Pada saat yang sama, karena latar belakang mereka yang Katolik, mereka juga melihat ada kesamaan antara Islam dan ajaran agama Katolik yang mereka anut. Misalnya, sosok Maryam, ibu Nabi Isa, yang juga sangat dihormati oleh kalangan Katolik.

Setelah melakukan banyak perjalanan, bisakah Anda menggambarkan tipikal para Latino Muslim itu seperti apa?

Orang-orang Latin-Amerika yang menjadi muslim, sangat berbeda dengan mualaf dari kalangan orang kulit putih. Saya melihat, bagi orang kulit putih, masuk Islam adalah sebuah tantangan intelektual. Sedang bagi orang Latin-Amerika, masuk Islam lebih dari sekedar persoalan menyesuaikan diri dengan kehidupan masyarakat AS tanpa harus kehilangan kebanggaan atas latar belakang dan budaya mereka, tapi juga ini soal menyesuaikan diri dengan sesuatu yang memberikan ketentraman pada mereka.

Dengan masuk Islam, mereka memiliki kehidupan yang hampir sama dengan kehidupan Katolik mereka di masa lalu, mereka memiliki kembali kedisiplinan dalam kehidupan beragama, dan masih memiliki kenangan yang kuat tentang Bunda Maria, yang dalam Islam dikenal dengan Maryam.

Mereka juga membangkitkan kembali kenangan mereka tentang masyarakat Muslim di Spanyol, di Andalusia. Semua itu mendorong mereka untuk masuk Islam, dan mereka tidak terlalu merasa asing dengan agama baru mereka itu. Meski demikian, ceritanya tidak selalu seperti itu, karena banyak keluarga yang sama sekali tidak suka pada Islam. Mereka memiliki prasangka buruk terhadap Islam akibat pengaruh media dan mereka berpikir Islam itu teroris, menakutkan, dan lain sebagainya …

Menurut Anda, apakah komunitas Muslim Latino bisa mengubah persepsi negatif tentang Islam di kalangan masyarakat AS?

Tidak, itu akan sulit sekali, mengingat prasangka buruk terjadap masyarakat Latin di Amerika juga sangat kuat. Banyak orang Amerika yang memandang rendah komunitas Latino sebagai imigran ilegal. Mereka diidentikan dengan penyelundupan narkoba dan kekacauan di masyarakat. Dari sisi ini, kebanyakan orang Amerika, jika melihat keturunan Amerika Latin masuk Islam, maka mereka akan berpikir; Islam itu jelek, maka Latino yang masuk Islam juga jelek. Jadi sudah jelek, tambah jelek. Tahukan maksud saya (sambil tertawa). Pandangan mereka berbeda jika orang kulit putih yang masuk Islam. Orang kulit putih yang jadi mualaf menimbulkan dampak yang besar karena orang Amerika akan bertanya mengapa mereka memilih Islam, timbul rasa ingin tahu yang besar dan kadang jadi kontroversi.

Bagaiman Muslim dari kalangan komunitas Latin-Amerika menjalankan ajaran Islam?

Kami mengunjungi banyak pusat-pusat komunitas Muslim dan kami melihat mereka sangat komitmen dengan keislamannya. Bagi saya yang berlatar belakang Asia Selatan, para Muslim Latino itu mirip dengan masyarakat asal saya. Mereka sangat lembut, ramah dan berperilaku sopan. Mereka juga punya kekuatan, kekuatan budaya Islam dan budaya mereka sendiri, dan itu memberikan rasa percaya diri sebagai orang yang baru memeluk Islam. Kaum perempuannya mengenakan jilbab, dan mereka sangat menghargai diri mereka.

Bagaimana hubungan antara para mualaf keturunan Amerika Latin itu dengan komunitas Muslim?

Ini merupakan bentuk hubungan yang baru dan sebuah hubungan yang baik. Komunitas Muslim di AS sangat senang melihat banyak keturunan Latin-Amerika yang masuk Islam. Tapi di komunitas Muslim sendiri, mereka lebih fokus pada mualaf dari kalangan kulit putih. Komunitas Muslim melihat para Latin-Amerika yang menjadi mualaf sebagai hal yang biasa, "mereka sama dengan kita". Tapi terhadap orang kulit putih yang masuk Islam, yang ada dalam pikiran komunitas Muslim, "kita mendapat tangkapan besar". Jadi, ada hirarki berdasarkan katagori sosial.

Menurut Anda, apakah komunitas Amerika Latin yang masuk Islam di AS, juga akan memberi pengaruh besar pada komunitas Hispanik?

Sangat terbatas. Karena, pertama, jumlah mereka yang pindah agama tidak banyak. Kedua, jumlah mereka juga tidak terdeteksi. Media juga tidak banyak mengeksposnya. Pemberitaannya tidak menimbulkan dampak besar seperti misalnya, ketika Cat Steven masuk Islam atau ketika saudara perempuan Tony Blair (Lauren Booth)di Inggris, masuk Islam.

Dalam buku Anda "Journey into American: Challenge of Islam", halaman 323, Anda menulis "Para Latino yang masuk Islam juga merefleksikan krisis dalam komunitas mereka sendiri", Apa yang Anda maksud dengan pernyataan itu?

Yang saya maksud, banyak orang-orang dari komunitas Amerika-Latin yang bilang "ayah saya pemabuk" atau "mereka selalu mengejar perempuan" saat atang dari Meksiko ke Amerika. Keluarga mereka jadi banyak yang berantakan. Mereka juga mengeluhkan "kaum lelaki kami suka mabuk-mabukkan atau suka berkencan dengan perempuan", "anak-anak banyak yang putus sekolah", atau mengeluhkan "mereka jadi anggota geng". Itulah yang saya maksud krisis di komunitas Amerika Latin di AS dan mereka memilih alternatif untuk masuk Islam untuk menemukan ketentraman dan kedamaian hidup dalam Islam. Di sisi lain, masuk Islam, membuat mereka menghadapi dua tantangan sekaligus, menjadi seorang keturunan Amerika Latin sekaligus seorang muslim, yang oleh masyarakat AS terlanjut mendapat stigma negatif.

Bagaimana Anda menjelaskan, di satu sisi, terjadi peningkatan jumlah orang yang masuk Islam di AS, terutama setelah peristiwa serangan 11 September 2001, di sisi lain juga terjadi peningkatan Islamofobia.

Banyak alasan untuk menjelaskan situasi itu. Alasan pertama, adalah banyaknya literatur tentang Islam. Kalau Anda seorang Amerika, siang dan malam mendengar orang bilang bahwa Islam itu jelek. Islam itu teroris, Anda mungkin akan mencari buku tentang Islam, dan apa yang Anda lihat?O, ternyata Islam mengatakan hal berbeda. Dalam hal ini, minat orang terhadap Islam meningkat pascaserangan 11 September.

Alasan kedua, banyaknya elemen dalam masyarakat yang mendorong orang untuk berpindah dari satu hal ke hal yang lain. Banyak orang bilang, hal ini "memberikan banyak kebebasan", hal itu "membahayakan moralitas kita". Sebagian orang bisa menemukan kebahagiaan dalam ajaran Kristen, sebagain lagi dalam ajaran Yudaisme, dan sebagian lagi dalam ajaran Islam.

Banyak orang Amerika keturunan Afrika dan Amerika Latin yang menemukan kebahagiannya dalam Islam. Jika tidak ada serangan 11 September, tidak ada diskusi tentang Islam di media-media massa, orang Amerika hanya tahu sedikit tentang Islam karena perbincangan dan minat terhadap Islam sangat terbatas. Pascaserangan 11 September, perdebatan soal Islam begitu marak, sehingga mendorong sebagian individu untuk mulai mencari tahu tentang Islam. (ln/Illume)

Bincang-Bincang Terbaru

blog comments powered by Disqus