Aafia Siddiqui: Anak-Anakku Disiksa ...
Aafia Siddiqui dikeluarkan dari ruang sidang karena dianggap berlaku tidak sopan terhadap para juri persidangan. Dalam persidangan yang digelar di pengadilan New York, Selasa (19/1) Siddiqui berteriak-teriak bahwa ia dan keluarganya diperlakukan tidak manusiawi dan tuduhan yang dikenakan padanya adalah tuduhan palsu.
Laporan Bloomberg menyebutkan bahwa ini adalah kali kedua Siddiqui dikeluarkan dari ruang sidang karena tindakannya itu. Aafia Siddiqui adalah seorang ahli syaraf lulusan MIT yang sedang menjalani persidangan di AS dengan tuduhan terkait terorisme. Aparat AS menuding perempuan asal Pakistan itu melakukan percobaan pembunuhan terhadap tentara-tentara AS dan agen-agen FBI di Afghanistan pada tahun 2008. Siddiqui juga didakwa memiliki hubungan dengan kelompok Al-Qaida.
Penangkapan terhadap Siddiqui dilakukan melalui operasi rahasia agen-agen intelejen AS. Keluarga Siddiqui melaporkan bahwa Siddiqui bersama tiga anaknya hilang di Karachi pada tanggal 30 Maret 2003. Keesokan harinya, surat-surat kabar lokal memberitakan bahwa Siddiqui berada dalam tahanan atas tuduhan terorisme.
Pihak AS mengklaim Siddiqui ditangkap oleh aparat keamanan Afghanistan di provinsi Ghazni pada 17 Juli 2008. Saat ditangkap, menurut aparat AS, ditemukan beberapa dokumen, termasuk dokumen berisi cara-cara membuat bom dan senjata kimia di dalam tas tangan milik Siddiqui.
Masih menurut AS, Siddiqui merampas senjata M-4 milik aparat AS saat diinterogasi di penjara Afghanistan dan sempat melepaskan dua tembakan ke arah agen-agen FBI serta personel militer. Seorang petugas balik menembak dan memukul Siddiqui agar bisa meringkusnya.
Siddiqui lalu dibawa ke AS dan menjalani proses hukum di pengadilan New York. Ia diancam hukuman penjara 20 tahun jika dakwaan yang dikenakan padanya terbukti. Dalam setiap persidangan Siddiqui menolak semua dakwaan itu dan membantah ikut terlibat dalam rencana serangan ke New York.
"Saya tidak pernah merencanakan untuk membom New York. Semua itu bohong," tukas Siddiqui di ruang sidang.
Di persidangan kemarin, Siddiqui juga mengatakan bahwa ia ditahan di sebuah penjara rahasia di Afghanistan dan anak-anaknya ikut disiksa oleh aparat penjara.
Kasus yang menimpa Siddiqui mendapat perhatian dari organisasi-organisasi HAM yang meragukan tuduhan AS. Tapi sejauh ini, organisasi-organisasi HAM tersebut termasuk pemerintah Pakistan sendiri belum memberikan respon yang maksimal atas kasus Siddiqui. (ln/prtv)
Lainnya (Arsip)
- Malangnya Nasib Si "Kapal Gurun Pasir" di Australia
Rabu, 20/01/2010 10:11 WIB - Di Balik Bantuan Pangan Internasional Di Dunia Ketiga
Rabu, 20/01/2010 09:11 WIB - Walaupun Sengsara, Rakyat Gaza Tak Melupakan Haiti
Rabu, 20/01/2010 09:11 WIB - Facebook Hapus Account Milik Syaikh 'Awad Al-Qarni
Rabu, 20/01/2010 08:48 WIB - Upaya Mauritania "Tundukkan" Al-Qaidah
Rabu, 20/01/2010 08:12 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




