Ahli Pemetaan Palestina "Dipenjara" Enam Bulan Oleh Israel

Khalil Tafakji, seperti kebanyakan orang-orang Palestina lainnya yang tinggal di Yerusalem Timur (Al-Quds), berstatus sebagai "pemukim permanen" dan bukan warganegara Israel. Status "pemukim permanen" diberlakukan oleh rezim Zionis Israel bagi warga Palestina, karena Al-Quds yang sejatinya berada dalam wilayah Palestina, berada dibawah pendudukan Israel.
Tafakji adalah seorang pakar soal Palestina. Ia ahli dalam bidang peta wilayah Palestina dan sering disebut sebagai pakar geografi otoritas pemerintahan Palestina. Stasiun televisi Al-Jazeera yang berbasis di Qatar dan stasiun televisi di Palestina serta media massa lainnya sering mewawancarainya sebagai pakar wilayah Palestina.
Selama karirnya sebagai ahli kartografi (ahli pemetaan), Tafakjik sering dilibatkan sebagai delegasi Palestina dalam negosiasi-negosiasi perdamaian di era awal tahun 1990-an. Ia juga pernah bekerja dengan petinggi PLO di Yerusalem, almarhum Faisal Husseini yang juga pendiri organisasi Komunitas Studi Arab pada tahun 1983 dan pendiri Orient House di Yerusalem Timur. Orient House yang menjadi pusat pelayanan bagi rakyat Palestina ditutup paksa oleh Israel pada tahun 2001.
Di lembaga Komunitas Studi Arab, Tafakji mengepalai bidang Pemetaan dan Sistem Informasi Geografi yang sekarang berkantor di Dahiet Al-Bariid, kawasan yang berada dibalik tembok Israel di Tepi Barat yang memisahkannya dari wilayah Yerusalem.
Akhir pekan kemarin, kementerian dalam negeri Israel mengeluarkan surat perintah yang isinya melarang Tafakji bepergian selama enam bulan ke depan. Tafakji mengatakan, ia baru saja melakukan kunjungan selama 20 hari ke berbagai negara ketika menerima surat pemberitahuan agar datang ke kantor kementerian dalam negeri Israel.
Negara-negara yang dikunjunginya antara lain Tunisia, Turki dan India, dimana ia bicara soal kesulitan-kesulitan yang dihadapi rakyat Palestina sekarang ini akibat kebijakan-kebijakan rezim Zionis Israel. "Saya bukan seorang politisi," kata Tafakji soal kegiatannya itu. Tapi dibawah penjajahan Israel, kehidupan sehari-hari rakyat Palestina menjadi urusan politik.
Tafakji mengaku terkejut saat menerima sebuah surat yang ia tidak tahu diantar oleh siapa. "Otoritas Israel meminta saya untuk datang ke Moskobiyya (istilah yang berarti 'kompleks Rusia", sebutan untuk sebuah kantor keamanan Israel di Yerusalem Barat), ke ruangan nomor 4. Mereka bilang 'ini adalah perintah' dan saya punya waktu 14 hari untuk menyatakan keberatan," tutur Tafakji.
Oleh otoritas Israel, ia dipaksa menandatangani surat perintah yang melarangnya bepergian mulai hari itu hingga enam bulan ke depan dengan dalih "masalah keamanan".
Tafakji urung melakukan gugatan atas larangan tersebut setelah ia melakukan konsultasi dengan sejumlah pengacara yang mengatakan bahwa kemungkinan menang dalam gugatan itu sangat kecil karena "alasan keamanan" yang digunakan Israel dalam surat tersebut.
"Kami sedang berusaha, lewat hubungan kami dengan Yordania, Mesir, AS, Inggris dan Prancis, untuk mencari celah agar larangan ini dicabut," kata Tafakji.
"Saya orang yang cinta damai," tukasnya seperti dikutip kantor berita Maan di Bethlehem. (ln/imemc)
Lainnya (Arsip)
- Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam di Serbia Terancam Tutup
Selasa, 09/02/2010 11:16 WIB - Lagi, Aksi Vandalisme Terhadap Masjid di Perancis
Selasa, 09/02/2010 07:57 WIB - Al-Qaidah Yaman Serukan Melawan Tentara Salib di Manapun Berada
Selasa, 09/02/2010 07:43 WIB - Pakar AS: Pasukan NATO Tidak Akan Bisa Membasmi Taliban
Selasa, 09/02/2010 06:34 WIB - Qardhawi: Kebebasan Harus Didahulukan dari Penerapan Syariat
Selasa, 09/02/2010 06:34 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




