Amerika Serikat dan pemerintah Afghanistan sedang membangun kelompok-kelompok milisi dari suku-suku yang ada di Afghanistan untuk menghadapi Taliban bangkit kembali, sebuah taktik yang telah dipakai di Irak dalam melawan Al-Qaidah.
"Idenya adalah untuk membuat masyarakat untuk bertanggung jawab atas keamanan mereka sendiri," kata seorang pejabat senior militer Amerika di Kabul mengatakan kepada The New York Times pada hari Ahad kemarin (22/11).
"Di banyak tempat, mereka sudah melakukan hal itu."
Tidak suka dengan Taliban dan takut ditangkap di tengah perang yang meningkat dengan pemerintah dan pimpinan pasukan asing dengan taliban, banyak masyarakat Afghanistan dilaporkan mengangkat senjata melawan Taliban.
Munculnya milisi ini telah mendorong AS dan pejabat Afghanistan untuk meluncurkan sebuah inisiatif yang ambisius yang bernama Community Defense Initiative, Untuk mendorong kelompok-kelompok serupa di negara-negara yang dilanda perang.
"Kami mencoba untuk menjangkau kelompok-kelompok ini yang telah mengorganisir diri mereka sendiri," kata Kolonel Christopher Kolenda.
Pasukan Khusus Amerika berkeliling Afghanistan untuk bertemu dengan para pemimpin suku dan orang-orang yang tidak suka dengan Taliban untuk menawarkan bantuan.
Bantuan yang ditawarkan sejauh ini terbatas pada amunisi dan makanan namun ada rencana Amerika akan melatih para milisi dan memberi mereka peralatan komunikasi.
Amerika mengatakan inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah mereka yang mengangkat senjata melawan Taliban.
Amerika dan para pejabat Afghanistan percaya milisi ini juga dapat membantu mengisi kekosongan sementara tentara Afghanistan dan pasukan polisi yang sedang dilatih.
Pemerintahan Taliban telah digulingkan oleh Amerika Serikat, yang menyerbu Afghanistan tidak lama setelah serangan 9 / 11 pada tahun 2001.
Sejak itu, Taliban telah terlibat dalam perang gerilya yang berlarut-larut melawan pasukan asing yang dipimpin AS dan pemerintah Karzai.
Amerika dan para pejabat Afghanistan berharap, para milisi akan menyemakati masyarakat Afghan untuk ambil bagian dalam perang melawan Taliban.
"Apa yang kami bicarakan adalah penduduk lokal, spontan dan masyarakat kesukuan terhadap Taliban," kata Menteri Dalam Negeri Afghanistan Hanif Atmar kepada The Times.
"Orang-orang Afghanistan mengatakan," Kami bersedia dan bertekad dan mampu untuk membela negara kami, cukup beri kami sumber daya berupa senjata. "
Tapi keduanya para pejabat Afghanistan dan Amerika mengakui rencana besar mereka itu banyak mengandung risiko dan bisa menjadi kontraproduktif.
Mereka akhirnya dapat mengulangi kesalahan masa lalu, dengan menciptakan panglima perang yang bisa menentang otoritas pemerintah selama bertahun-tahun atau mempersenjatai militan, yang beberapa militan malah menghantui pasukan AS.
"Di Kunduz, setelah mereka mengalahkan Taliban di desa mereka, mereka menjadi kekuatan baru dan mereka mengambil uang dan pajak dari rakyat," Atmar mengakui.
"Ini bukan hukum, dan ini warlordism."
Kolonel AS Kolenda juga memiliki kekhawatiran yang sama.
"Dalam jangka panjang, hal ini dapat menjadi instabilitas."
Amerika mengatakan bahwa untuk menghindari skenario seperti itu mereka akan menjaga kelompok-kelompok kecil dan membatasi ruang lingkup kegiatan mereka hanya untuk melindungi desa-desa dan mengawasi pos pemeriksaan.
Mereka juga berencana untuk mengikat mereka secara langsung kepada pemerintah Kabul.
Community Defense Initiative serupa dengan Dewan Kebangkitan Irak, paramiliter yang merupakan penduduk Sunni lokal pro-pemerintah yang memainkan peran penting dalam melawan kelompok Al-Qaidah Irak.
Para milisi antek AS ini, bekerja dengan dan didanai oleh tentara AS, mampu memberikan perlawanan terhadap Al-Qaidah dan militan asing dari beberapa benteng di daerah berpenduduk Sunni.
Tapi banyak dari mereka yang menjadi antek pasukan AS dan pemerintah Irak akhirnya menjadi menjadi sasaran oleh kelompok-kelompok militan dan penduduk lokal yang menyebut mereka sebagai "pengkhianat".(fq/iol)
Bank Muamalat Cabang Cengkareng membutuhkan karyawan untuk posisi: 1. Customer Service (Wanita) 2. Legal (Pria) 3. Account Manager (Pria).
"Sistem perbankan yang saling menguntungkan, dengan keanekaragaman produksi dan skema keuangan yang lebih variatif" Sistem perbankan syariah adalah alternatif sistem perbankan yang saling menguntungkan kedua belah pihak (nasabah dan bank), yang di dukung oleh keanekaragaman produk dan skema keuangan yang lebih variatif, dan dilakukan secara transparan agar adil bagi kedua belah pihak.
Namaku Siko, lengkapnya Siko Tjikoa, usia 27 tahun, aku tak pernah menulis cerita, sekedar untuk berbagi maka aku ceritakan sebisaku, sebelumnya mohon maaf jika mungkin banyak hal yang tidak sesuai dengan anda para pembaca.
Tak disangka, Islamic Book Fair (IBF) ke-9 yang baru usai 14 Maret lalu menyimpan kenangan bagi saya. Setidaknya, atas izin Allah swt, saya bertemu beberapa kawan saya yang telah terpisah selama tujuh tahun. Dan kami bertemu di stand bank syariah di pameran buku tersebut.
Bank Syariah Bukopin (BSB) berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp831 juta, artinya total laba tersebut naik sebesar 110,77 persen dari tahun lalu yang rugi sebesar Rp7,71 milyar. Hal ini terungkap saat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan BSB Selasa (12/3) lalu.
Salah satu contoh dari pertanyaan yang mereka ajukan adalah saat mereka bertanya tentang - bra/bh, mereka bertanya apa fungsinya dan mengapa mereka tidak dipakaikan juga
Tiga warga Desa Sukorejo, Bojonegoro, terjangkit Demam Berdarah. Tak menunggu lama, tim ACT yang tergabung dalam Masyarakat Relawan Indonesia langsung terjun ke lokasi melakukan fogging.