AS dan Inggris Tutup Kedubesnya di Yaman
.jpg)
Siapa menabur angin akan menuai badai. Itulah yang dialami oleh dua negara bersekutu AS dan Inggris yang mencoba campur tangan dalam kekisruhan di Yaman. Dengan alasan mendapat ancaman dari kelompok Al-Qaida, AS dan Inggris menutup kantor kedutaanbesarnya di Sanaa, ibukota Yaman.
Dalam pengumuman yang dimuat di situs kedubes AS hari Minggu kemarin tertulis bahwa kantor kedubes ditutup "sebagai respon atas ancaman yang terus dilakukan oleh Al-Qaida di Semenanjung Arab untuk menyerang kepentingan-kepentingan AS di Yaman." Pada CNN, John Brennan, asisten keamanan dalam negeri dan anti-terorisme Presiden AS mengatakan bahwa ada indikasi bahwa Al-Qaida sedang merencanakan serangan terhadap sebuah target di Sanaa.
Sementara juru bicara kedubes Inggris hanya mengatakan bahwa mereka menutup kantor kedutaan karena "alasan keamanan". Baik AS maupun Inggris, tidak memberitahu kapan kedubes akan dibuka kembali. Padahal sebelum kedua negara itu memutuskan menutup kantor kedubesnya, Inggris baru saja mengumumkan akan bekerjasama dengan AS dalam memberikan bantuan dana untuk memberantas "teroris" di Yaman.
PM Inggris Gordon Brown mengatakan bahwa ia akan menggelar pertemuan di London tanggal 28 Januari mendatang untuk membahas upaya meredam radikalisasi di Yaman. Sedangkan pemerintah AS menyatakan untuk menghadapi para "teroris" di Yaman, tidak cukup hanya dengan menambah bantuan militer ke negeri itu.
Kebijakan AS dan Inggris menutup kantor kedubesnya di Yaman menuai cibiran dari media massa dan pengamat terorisme. Pemimpin Redaksi Yaman Post, Hakim Al-Masmari menyatakan, penutupan kantor kedubes AS dan Inggris menunjukkan bahwa kedua negara itu meyakini bahwa ancaman Al-Qaida sangat serius.
"Jika Anda melihat rekaman video Al-Qaida belakangan ini, mereka dengan jelas mengatakan tidak punya musuh di Yaman kecuali kepentingan-kepentingan AS di Yaman. Mereka memperingatkan tentara-tentara Yaman untuk tidak bekerjasama dengan Amerika," kata Al-Masmari.
Direktur Center for Study of Terrorism, Mahan Abidin berpendapat, kehadiran Al-Qaida di Yaman sudah sedemikian kuat, bahkan sebelum terjadinya peristiwa serangan 11 September 2001 di AS. "Yaman sudah menghadapi masalah kelompok militan sejak akhir tahun 1980-an," ujarnya. (ln/aljz)
Lainnya (Arsip)
- Hasan Turabi Calon Presiden Sudan?
Senin, 04/01/2010 10:02 WIB - Rakyat Afghanistan Inginkan Penerapan Syariah Islam
Senin, 04/01/2010 08:00 WIB - Fatwa Al Azhar Terkait Tembok Baja Mesir "Cacat Hukum"
Senin, 04/01/2010 05:26 WIB - Angkatan Laut Turki Kawal Rombongan Viva Palestina 3
Senin, 04/01/2010 05:25 WIB - Negara-Negara Arab Hentikan Kucurkan Dana ke Yayasan Clinton
Senin, 04/01/2010 05:25 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




