AS, di Tengah Krisis, Kemarahan dan Senjata Api

Dua bulan pertama di tahun 2009, sekitar 2,5 juta orang Amerika membeli senjata. Persentase dua bulan ini sudah mengalahkan keseluruhan orang Amerika yang membeli senjata pada tahun 2008 dalam periode yang sama, berarti meningkat 26%. Sebuah berita bagus buat pabrik pembuat senjata, namun sebuah sinyal gelap untuk negara ini.
FBI melaporkan bahwa di bulan Januari terjadi kejahatan dengan menggunakan senjata api sebanyak 1.213.885, dan di bulan selanjutnya terjadi kenaikan 28%! Smith&Wesson dan Strum Ruger, dua pabrik pembuat senjata api mengalamai kenaikan aset di Bursa Efek New York masing-masing 80% dan 100%. Spektakuler!
Meningkatnya penjualan senjata ini justru terjadi ketika Barack Obama mulai memerintah AS. Fenomena ini menjadi sangat kontras dengan kebijakan Obama yang katanya akan mengontrol pemilikan senjata di AS. Para dealer penjual senjata mengatakan bahwa motifkedua yang membuat naiknya penjualan senjata adalah ketakutan dari warga AS terhadap ancaman serius krisis ekonomi global yang sekarang tengah menghantam AS demikian parahnya. Banyak orang miskin baru di AS. Pada Februari 2009 saja, sekitar 23.000 orang kehilangan pekerjaannya setiap hari.
Kota tenda, yaitu orang mendirikan tenda di sebuah lahan kosong yang luas, menyebar dimana-mana, mulai dari Sacramento dan Phoenix ke Atlanta dan Seattle. Pertama, rakyat AS kehilangan pekerjaannya, kemudian asuransi kesehatannya, rumahnya, dan terakhir ini, mungkin harapannya. Kota tenda disinyalir merupakan pengulangan dari kamp pengungsian Dunia Ketiga. “Saya tidak pernah membayangkan ini kepada saya,” ujar salah seorang penghuni tenda. Berbeda dengan korban Katrina tahun 2005 yang melantakkan New Orleans kemudian penduduknya tinggal di kamp tenda, penghuni kota tenda ini berkulit putih.
Pada pertengahan Maret 2009, para pengamat ekonomi AS melihat sebuah titik cerah perbaikan ekonomi yang lambat. Tapi itu sama sekali tidak cukup mengenyahkan perasaan takut dan gelisahnya rakyat AS. Rating Obama memang naik, tapi 59% rakat AS mengatakan bahwa negaranya berada dalam trek yang salah, demikian hasil laporan survey National Public Radio.
Sementara itu, satu lagi yang memicu kemarahan rakyat AS adalah bailout. Pew Research Center bulan ini menurunkan laporan bahwa kemarahan rakyat AS terhadap bailout karena hal itu nyata jelas memicu kemiskinan rakyat. Pada titik tertentu, rakyat AS akan menyadari bahwa kemasan tak selamanya memberikan harga dan timbal balik yang pantas. Satu-satunya pengecualian adalah Smith & Wesson, perusahaan senjata api yang tengah menuai untung besar saat ini. Perusahaan ini menargetkan, tahun depan, keuntungannya akan berlipat ganda. (sa/reu)
Lainnya (Arsip)
- Tentara AS, Ke Afghanistan, No Way !
Rabu, 27/05/2009 16:56 WIB - Ledakan Bom Dekat Kantor Intelejen Pakistan, 30 Orang Tewas
Rabu, 27/05/2009 13:45 WIB - Bentrok Kembali Warnai Kashmir
Rabu, 27/05/2009 12:45 WIB - Burger Onta: Makanan Favorit Baru di Saudi Arabia
Rabu, 27/05/2009 12:22 WIB - Nasib Pengungsi Muslim di Mindanao, Adakah Yang Peduli?
Rabu, 27/05/2009 11:29 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




