Bisakah Taliban Dikalahkan?
Presiden Zardari di Washington dan Jenderal Kayani di Rawalpindi, dengan restu presiden AS Barack Obama, memerintahkan perdana menteri Gilani di Islamabad agar Pakistan segera menghabisi Taliban, sebagai refleksi kejayaan dan harga diri kekuasaan mereka bertiga. Dua bulan yang lalu, Gilani telah melakukan hal ini, dan menyiagakan Islamabad dalam kekuatan militer penuh. Sayangnya, pasukan bersenjata ketika itu—menolak membantu pemerintah melawan Taliban.
Dalam beberapa pekan terakhir, pengaruh Taliban segera saja menyebar ke sentero Islamabad. Hal ini jelas membuat Washinton ketar-ketir. Pakistan hampir pasti mendekati wujud Afghanistan yang semakin tak berpola dalam pemerintahannya; dikuasai pihak asing, ditinggalkan rakyatnya, dan korupsi yang meraja lela di setiap eskalasi.
Sementara perdebatan menghabisi Taliban masih terus berlangsung, rakyat percaya bahwa dihapuskannya Taliban dari wilayah mereka akan membawa babak baru pada Pakistan yang muram, terperangkap, dan terbuka untuk intervensi pihak asing. . Jenderal Kayani mengatakan "Situasi keamanan sekarang ini menuntut semua elemen kekuatan nasional untuk bekerja sama memerangi Taliban." yang artinya ia mengisyaratkan bahwa kekuatan militer sudah angkat tangan menghadapi Taliban. Faktanya, Taliban memang datang dengan kekuatan yang lebih hebat lagi daripada sebelumnya. Pakistan saat ini berada dalam posisi terjepit atas perjuangan Taliban yang didukung rakyat, karenanya hanya ada sedikit alasan bagi mereka untuk memerangi dan menumpas Taliban, secara logika.
Posisi militer Pakistan saat ini sangat tanggung. Terus maju menghadapi Taliban yang telah teruji dalam perang puluhan tahun, mereka berisiko menghadapi bencana kekalahan. Militer Pakistan tidak berpengalaman banyak dalam menghadapi kondisi seperti ini. Sekadar gambaran saja, dua wilayah yang telah diperangi, Pakistan Timur dan Balochistan telah terbelah menjadi dua, alih-alih bisa kembali dikuasai.
Kecongkakan Pakistan dengan meniru gaya militer Barat—dengan cara membangun hirarki di kalangan militer yang pendidikannya tidak seberapa serta membentuk kelas elit pejabat negara—sama sekali tidak siap menghadapi kekuatan taktik cepat Taliban yang telah berhasil merengkuh kepercayaan dan keramahan rakyat. Buruknya, bukan hanya rakyat, Pakistan juga mengalami kenyataan bahwa, sebagian pejabat pemerintah memberikan simpatinya pada Taliban.
Untuk masyarakat Pakistan, berada dalam pengaruh Taliban jelas jauh lebih baik ketimbang berada dalam kekuasaan militer asing. Militer Pakistan telah memperkirakan, jika mereka mempunyai peranan dalam kekuasaan negara mereka, maka mereka sekarang dihadapkan pada dua opsi antara memisahkan diri mereka sendiri dan kemudian mulai mengemukakan jati dirinya ataukah ikut terlibat dalam semua keinginan rakyat? Artinya, kemungkinan menerima Taliban sebagai mitra sudah berada dalam kalkulasi mereka.
Militer Pakistan sudah menyadari, bahwa Taliban tak akan bisa ditumpas dengan kekuatan militer, setelah rakyatnya mendukung dan menerima mereka. Taliban telah menghidupkan ekonomi rakyat dan kembali membuka pendidikan, juga untuk anak-anak perempuaan, dengan itu saja rakyat Pakistan telah merasakan bagaimana mungkin Taliban lebih buruk daripada penguasa resmi mereka. Jika pemerintah Pakistan tak bisa menjamin intervensi asing, tak bisa membuka perekonomian dan tak bisa menyediakan pendidikan untuk anak-anak, maka jangan pernah berharap rakyat dalam jumlah yang besar akan bangkit melawan Taliban. (sa/dwn)
Lainnya (Arsip)
- Mengapa Obama Memilih Mesir?
Rabu, 13/05/2009 17:05 WIB - Anti-Yahudi di Belgia Meningkat Tajam
Rabu, 13/05/2009 16:56 WIB - Obama Mendeklarasikan Mei Bulan Yahudi
Rabu, 13/05/2009 14:05 WIB - Erdogan : Islamophobia Kejahatan Kemanusiaan
Rabu, 13/05/2009 13:39 WIB - Taliban Serang Kamp Militer AS
Rabu, 13/05/2009 13:39 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




