Bom Kembali Tewaskan Delapan Tentara AS di Afghanistan

Nyawa delapan tentara AS kembali melayang sia-sia akibat ledakan sejumlah bom yang ditaman di jalan. Serangan bom yang terjadi pada Selasa (27/10) di kota Kandahar merupakan insiden yang paling banyak menelan korban tentara AS dan membuat jumlah korban tentara AS yang tewas di Afghanistan mencapai rekor tertinggi selama empat bulan terakhir ini.
Salah satu jubir militer AS, Letnan Kolonel Todd Vician menyatakan, tentaranya menjadi korban ledakan bom yang ditanam di jalan-jalan oleh para militan saat sedang melakukan patroli di Kandahar, selatan Afghanistan. Kota yang berbatasan dengan negara Pakistan ini, menurut keterangan Kapten Adam Weece-jubir militer AS untuk wilayah selatan Afghanistan, sejak lama sudah menjadi basis para militan Taliban dan tempat lahirnya kelompok Taliban di era tahun 1990-an.
Sementara itu di Washington, pejabat senior militer AS Letnan Jenderal Thomas Metz, bom-bom yang merenggut nyawa tentara AS selama satu hari kemarin dikenal sebagai bom rakitan atau Improvised Explosive Devices (IED). Hampir 70-80 persen terntara AS dan tentara koalisi asing yang tewas di Afghanistan adalah korban dari bom jenis ini.
"IED menjadi senjata strategis yang dampaknya cukup berpengaruh," ujar Metz.
Serangan para militan dengan menggunakan IED dengan target pasukan asing, sejak bulan September 2007 meningkat dari 19 serangan menjadi 106 serangan sampai bulan September 2008 kemarin. Dengan demikian sepanjang bulan Oktober ini, jumlah tentara AS yang tewas di Afghanistan mencapai 55 orang dan menjadi bulan paling mematikan bagi pasukan asing di Negeri Para Mullah itu.
Serangan bom yang menelan korban delapan tentara AS sekaligus hari Selasa kemarin merupakan pukulan telak bagi AS, karena pada saat yang sama pemerintahan Presiden Barack Obama menyatakan hampir selesai melakukan kajian dan akan segera mengumumkan strategi baru AS di Afghanistan.
Urusan Pers Gedung Putih Robert Gibs mengatakan bahwa pertemuan antara presiden dengan para kepala staff pasukan gabungan hari Jumat besok, akan menjadi pertemuan final untuk menentukan keputusan apakah AS akan mengirimkan pasukan tambahan ke Afghanistan atau tidak.
Namun makin bertambahnya tentara-tentara AS yang tewas di Afghanistan menimbulkan dilema tersendiri bagi para keluarga tentara dan memicu pertanyaan banyak kalangan haruskah jatuh korban lebih banyak lagi untuk sebuah perang tidak jelas arah dan tujuannya.
"Kehilangan semacam itu sangat sulit bagi para keluarga tentara dan bagi mereka yang masih bertugas di medan pertempuran," kata Kapten Angkatan Laut AS, Jane Campbell prihatin, apalagi sehari sebelumnya militer AS juga kehilangan 11 nyawa tentaranya beserta tiga helikopter tempurnya dalam insiden tabrakan dan jatuh dengan sebab yang tak jelas. (ln/bbc/yn)
Lainnya (Arsip)
- Dokumen Militer Turki untuk Kudeta Erdogan Ternyata Asli
Rabu, 28/10/2009 11:30 WIB - Protes Invasi AS ke Afghan, Diplomat AS Mundur
Rabu, 28/10/2009 11:22 WIB - Pakar: Tsunami Sewaktu-Waktu Bisa Menghantam Israel
Rabu, 28/10/2009 10:01 WIB - Tanggapi Islamophobia, Presiden Libya Tulis Novel dan Skrip Film
Rabu, 28/10/2009 08:12 WIB - Menlu Irak Menyerukan Campur Tangan PBB
Selasa, 27/10/2009 16:43 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




