Carter : Tanpa Hamas Tak Ada Perdamaian

Mantan Presiden AS, Jimmy Carter, Kamis kemarin, mengulangi kembali pernyataannya, tidak akan perdamaian, tanpa keikut sertaan Hamas. Mantan Presiden AS itu, memberikan tanggapannya, tak lama sesudah bertemu dengan Kepala Biro Politik Hamas, di Damaskus (Syria). Pertemuan Carter dengan Misy’al itu, yang kedua kalinya, sejak Presiden George Bush, dan mantan Presiden Carter itu, selalu menolak menggunakan sebutan Hamas sebagai kelompok teroris.
Kunjungan Carter ke Damaskus ini, pertama kalinya, sejak Obama memerintah di AS, dan kedua kalinya bertemu dengan Khaled Misy’al. Kunjungan Carter ini bersamaan dengan pertemuan George Mitchell, utusan khusus Presiden Barack Obama, yang bertemu dengan Presiden Bashar Assad. Usaha-usaha yang dilakukan George Mitchell ini, diharapkan akan membuahkan akan hasil bagi sebuah penyelesaian di Timur Tengah.
Langkah Carter ini berusaha menjembatani fihak-fihak yang sekarang ini di dalam konflik. Carter sendiri pernah menjadi mediator, ketika konflik antara Mesir dan Israel, yang kemudian menghasilkan perdamaian dan perjanjian Camp David, yang mengikat Mesir dan Israel, yang akhirnya kedua negara membuka hubungan diplomatik. Dan, Israel mengembalikan tanah yang dirampas dalam perang tahun 1967.
“Saya tidak yakin akan tercipta perdamaian antara Palestina dan Israel, tanpa keterlibatan Hamas secara langsung”, ujar Carter. Sebelumnya, Carter juga menginginkan agar fihak-fihak yang besengketa antara Hamas dan Otoritas Palestina segera berdamai. Tetapi, perkembangan di Tepi Barat yang terus memburuk, sebagai akibat langkah-langkah aparat keamanan Otoritas Palestina, yang melakukan penangkapan dan penahanan terhadap sejumlah anggota pejuang Hamas, menyulitkan rekonsialisi. Bahkan, aparat keamanan Otoritas Palestina, terlibat dalam melakukan pembunuhan terhadap sejumlah tokoh Hamas dan Jihad Islam, di Tepi Barat, bersama dengan Israel.
Sementara itu, Khaled Misy’al mengkritik Obama yang menginginkan negara Palestina, tanpa menyebutkan, tapal batas wilayah, hak kembalinya para pengungsi Palestina, yang sekarang berdiaspora, ibukota Palestina, dan pengakuan hak hidup rakyat Palestina”, ungkap Misy’al. Jadi, menurut pemimpin Hamas situ, semua pernyataan Obama itu menjadi sia-sia, tanpa ada kejelasan masalah yang prinsip bagi rakyat Palestina. (m/jp)
Lainnya (Arsip)
- Krisis Imam Masjid di Negeri Samba
Jumat, 12/06/2009 14:03 WIB - Misteri Jenderal Ratko Mladic, Siapa Yang Melindunginya?
Jumat, 12/06/2009 13:22 WIB - Militer AS Selewengkan Uang Rakyat
Jumat, 12/06/2009 10:50 WIB - Sipir Penjara Inggris Lecehkan Al-Quran
Jumat, 12/06/2009 09:59 WIB - Syaikh Umar Bakri : Umat Islam Harus Tolak Boneka Babi dan Barbie
Jumat, 12/06/2009 09:25 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




