Pejabat tinggi AS mengunjungi Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, dan memerintahkan Yaman untuk memerangi Al-Qaidah. Abdullah Saleh menerima perintah AS, dan mendapatkan bantuan militer dan penasehat militer untuk memperkuat militer dan intelijen Yaman.
Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh menerima tawaran bantuan AS untuk memerangi Al-Qaidah, akhir musim panas lalu. Kebijakan yang diambil Abdullah Saleh ini, tak lain, hasil dari permainan intelijen AS, CIA, yang berhasil mempenetrasi pusat kekuasaan yang ada Sanaa. Dengan menerima tawaran dari CIA itu, Yaman harus berperang dengan Al-Qaidah. Keputusan itu, diambil saat Yaman sedang menghadapi situasi yang tidak stabil, karena terjadinya pembrontakan kelompok Syiah, Houthi, dan kelompok-kelompok yang dituduh mempunyai hubungan dengan Al-Qaidah.
Amerika memberikan bantuan militer kepada Yaman, yang kecil, tak lebih hanya $ 66 juta dolar tahun ini, semuanya digunakan untuk keamanan, dan militer. Tujuannya memperkuat keamanan dan militer Yaman,yang sudah kedodoran menghadai situasi politik dan keamanan yang kian tak terkendalai di negeri itu. Tentu, siapa lagi, yang menjadi tertuduh, kalau bukan Al-Qaidah.
Laporan intelijen AS, CIA yang dicekokkan kepada pejabat Yaman, khususnya Presiden Ali Abdullah Saleh tentang hal ihwal kegentingan di Yaman, akibat ulan Al-Qaidah, harus ditumpas dengan senjata. Ini adalah laporan yang disuguhkan oleh CIA kepada Abullah Saleh. Celaka laporan CIA itu telah ditelan bulat-bulat oleh Abdullah Saleh.
Presiden Ali Abdullah Saleh dibuat menggigil oleh CIA, yang memberikan gambaran yang amat suram tentang situasi di Yaman, sesudah terjadi aksi kekerasan setahun yang lalu, yang telah menelan korban yang tidak sedikit. Apalagi, laporan CIA itu dibumbui dengan bumbu bahwa 'inner circle' yang ada di sekeliling Ali Abdullah Saleh akan menjadi target sasaran dari Al-Qaidah. Maka, ibaratnya seperti 'pucuk dicinta, ulam tiba', tawaran dari CIA itu langsung ditangkap.
AS mempunyai kepentingan untuk menghancurkan Al-Qaidah di Yaman, karena Kedubes AS pernah menjadi sasaran Al-Qaidah, dan juga kapal Induk USS Cole, pernah dihantam bom, yang menyebabkan lambung berlubang. Tapi, yang tak kalah penting lagi, bahwa Yaman menjadi pusat latihan dan rekrutmen para anggota Al-Qaidah yang baru, khususnya dari negeri-negeri Arab. Inilah yang menyebabkan Ali Abdullah Saleh menerima tawaran CIA.
Apalagi, menjelang Natal kemarin, terjadi peristiwa yang membuat nyali para pejabat tinggi AS, nyalinya menjadi mengkerut seoran mahasiswa asal Negeria, Umar Farouk Mutallab, yang menumpang pesawat Delta dari Belanda menuju AS dengan nomor penerbangan 253, dan akan meledakkan pesawat yang berpenumpang 300 orang. Ini membuat kengerian yang luar biasa. Presiden Obama meminta aparat keamanan harus mengusut sampai ketemu siapa menjadi biang keroknya dibelakang usaha peladakan itu.
Ujungnya, Jendral David Petraeus, Kepala Pusat Komando Pasukan AS, dan John Brennan, pejabat kontra terorisme, mengunjungi Ali Abdullah Saleh. Akhirnya, dalam pertemuan antara David Petraeus, John Brennan, dan Ali Abdullah Saleh, menyepakati bahwa Al-Qaidah harus digebuk habis. (m/nwk)