eramuslim

Di Mesir, Kepada Siapa Obama Berbicara?

Kedatangan presiden AS, Barack Obama ke Mesir, dalam pekan ini menyisakan satu pertanyaan besar: untuk apa dan kepada siapa kelak Obama berbicara, menyampaikan pidatonya? Karena setidaknya, ada beberapa isyu besar Timur-Tengah di mana melibatkan beberapa pihak yang punya kepentingan.

Pertama, soal Iran yang telah membuat capai semua pihak, karena permainan petak-umpetnya yang tak begitu jelas status keberpihakannya pada siapa dan selalu dibuat besar dengan masalah bom nuklir yang sejak empat tahun belakangan ini hanya berupa gembar-gembor belaka, kemudian Iraq-Afghansitan, dan terakhir, masalah Palestina yang dijajah oleh Israel.

Tadinya, semua orang sudah hampir sepakat bahwa Obama akan memilih Indonesia, negeri dengan mayoritas Muslim pada kunjungan pertamanya dalam menangani persoalan umat Islam. Menjelang kedatangan Obama ini, Mesir jelas mempunyai masalah tersendiri.

Kasus hangat adalah Saad Eddin Ibrahim, seorang sosiolog Amerika-Mesir yang menulis artikel bahwa “Demokrasi selalu berpusat pada Obama, dan pada siapa akan ditujukan.” Hosni Mubarak, presiden Mesir, meresponnya dengan memenjarakan professor berumur 70 tahun ini, karena tulisannya akan mengganggu kedatangan “sang tamu agung” dari AS tersebut. Selain Ibrahim, ada pula Ayman Nour, yang menentang Obama dengan mengatakan bahwa kedatangan Obama hanya membuat Islam menjadi tidak punya nilai dan harga.

Lantas, untuk menghadapi dua hal ini saja, apa yang akan dilakukan oleh Obama? Sejauh ini Obama telah menentang semua kasus ini, bertentangan dengan isyu HAM dan demokrasi yang selama ini mereka dengungkan. Jika Obama tidak berani mengucapkan apapun tentang hal ini, maka tiada syak prasangka lagi jika inilah kegagalan Amerika yang telah jauh-jauh hari dirintis oleh George Bush, pendahulu Obama. Tentu masih segar dalam ingatan bahwa Amerika ingin sekali menegakan demokrasi di Iraq dan mencopot Saddam Hussein begitu saja. Afghanistan hari ini menjadi penguat kebijakan plin-plan dari Amerika yang lain.

Maka, pidato Obama, begitu juga efek yang ditimbulkannya dengan kedatangannya di Timur Tengah ini hanya akan menghasilkan sebuah retorika basi belaka. Obama sepertinya akan mengatakan tentang aspirasinya tentang pluralisme agama, pendidikan secular, hak lebih untuk wanita (emansipasi), dan ekonomi modern, sesuatu yang selalu ia ucapkan setiap saat. Presiden itu seharusnya sadar, ia harus berbicara kepada kaum Muslim, bukan kepada birokrat yang mengundangnya. (sa/wp)