Hakimullah Tewas, Taliban Pakistan Krisis Kepemimpinan

Meski kabar tentang tewasnya Hakimullah Mehsud, pimpinan Taliban Pakistan (Tehrik-e-Taliban) masih kontroversi. Spekulasi tentang siapa sosok yang akan menggantikan Hakimullah sudah bermunculan.
Pengamat masalah-masalah keamanan, Salim Safi berpendapat, Taliban Pakistan kemungkinan akan menunjuk Wali Ar-Rahman sebagai pengganti Mehsud. Alasannya, Wali sama-sama berasal dari suku yang sama dengan Mehsud yang berasal dari Waziristan Selatan dan merupakan orang penting kedua di Taliban Pakistan setelah Mehsud. Meskipun sumber-sumber intelijen beberapa waktu lalu memberitakan bahwa Wali dan Hakimullah terlibat pertikaian berdarah, karena memperebutkan posisi pemimpin di Taliban Pakistan setelah kematian Baitullah Mehsud dalam serangan pesawat tanpa awak milik AS ke Waziristan Selatan bulan Agustus 2008.
Tapi dua komandan Taliban Pakistan itu tak berapa lama kemudian muncul bersama, mematahkan pernyataan sumber-sumber intelejen Pakistan bahwa telah terjadi perpecahan di kelompok militan itu.
Selain Wali, dua nama lainnya yang disebut-sebut sebagai calon kuat pengganti Hakimullah adalah Noor Jamal dan Azam Tariq. Noor Jamal yang berasal dari suku Pashtun berusia sekitar 30-an dengan postur tubuh tinggi dan berkulit putih. Sebagai salah satu komandan di Taliban Pakistan di wilayah Orakzai, namanya memang tidak menonjol. Tapi sosoknya menjadi perhatian saat muncul sebuah rekaman video yang memperlihatan seorang lelaki-diduga Noor Jamal-sedang memberikan hukuman cambuk pada seorang remaja dan dua lelaki dewasa yang tidak memelihara janggut dan dituduh tidak melakukan shalat.
Sedangan Azam Tariq yang juga masih muda, usianya sekitar 32 tahun, berperan sebagai juru bicara Taliban Pakistan sejak Hakimullah terpilih menjadi pengganti Baitullah Mehsud. Sebagai seorang komandan senior, Tariq sangat dekat dengan Hakimullah dan ia tetap menyatakan bahwa Hakimullah masih hidup.
"Dia (Hakimullah) dalam kondisi sehat wa'alfiat. Laporan-laporan yang mengatakan bahwa dia sudah tewas, tidak berdasar dan tidak benar," tukas Tariq ketika dihubungi lewat telepon satelit oleh Islamonline.
Menurut Tariq, berita kematian Hakimullah disebarkan untuk memancing Hakimullah muncul ke publik. "Dia tidak akan masuk perangkap ini. Ini bukan pertama kalinya Hakimullah dikabarkan tewas," ujarnya.
Tapi sejumlah pengamat mengatakan bahwa bantahan itu adalah upaya Taliban Pakistan untuk mengulur waktu agar bisa membenahi kondisi internal Taliban setelah para pucuk pimpinannya tewas.
"Kelihatannya operasi-operasi militer berhasil mematahkan tulang punggung Taliban. Struktur dalam keorganisasian Taliban berantakan. Mereka tampaknya sedang 'tiarap', mereka butuh waktu untuk menutupi rasa kecewa dan membenahi pasukannya," kata Shamim Rashid, pengamat politik di Peshawar.
Menurutnya, kematian Baitullah, disusul kemudian dengan kematian Hakimullah menjadi pukulan keras bagi kelompok Taliban Pakistan dan makin membuat para komandan kelompok militan itu frustasi.
Sementara Salim Safi, pengamat politik di Islamabad berpendapat, meski terpukul oleh kematian para pucuk pimpinannya, Taliban Pakistan tetap akan menjadi kelompok yang militan. "Kemampuan militer mereka mungkin akan terpengaruh, tapi mereka akan tetap menyebarkan ideologinya di pedalaman-pedalaman sampai ke kota besar. Kalau sudah masalah ideologi, soal kepemimpinan jadi persoalan nomer dua," kata Safi.
Berita tewasnya Hakimullah merebak sejak tanggal 14 Januari lalu. Ia diduga tewas dalam serangan pesawat tanpa awak pasukan AS ke kawasan Shkatoi di Waziristan Utara. (ln/iol)