Muslim Denmark Skeptis Soal Partai Islam

Tak terpengaruh dengan larangan menara masjid di Swiss, di Denmark justeru berkembang wacana untuk membentuk sebuah Partai Islam. Namun komunitas Muslim di negeri itu masih bersikap hati-hati meski Menteri Dalam Negeri Denmark sudah memberikan lampu hijau atas pembentukan Partai Islam itu.

Politisi Muslim di Denmark, Asmaa Abdol Hamid menyatakan, pembentukan Partai Islam merupakan langkah awal yang baik bagi komunitas Muslim di negeri itu. "Tapi kita harus menunggu dan melihat apa programnya sebelum menetapkan posisi kita. Kita belum tahu apakah Partai Islam itu akan menyertakan kaum Muslimin Denmark, warga negara Denmark atau kelompok masyarakat minoritas," ujar Asmaa.

Penggagas dan pendiri Partai Islam, Ras Anbessa mengungkapkan, tidak bisa dipungkiri bahwa komunitas Muslim merupakan kelompok yang memiliki kontribusi suara dalam membentuk karakteristik masyarakat Denmark. "Tapi kita selalu dilihat sebagai sekelompok komunitas yang terpisah, untuk itu kita juga harus bersatu dan bersama-sama membuat inisiatif-inisiatif yang positif," tukas Anbessa.

Menurutnya, Partai Islam ini akan tampil sebagai wakil dari Muslim Denmark dan kelompok-kelompok masyarakat yang termarjinalkan seperti para tuna wisma, orang-orang cacat, anak-anak muda dan kalangan lanjut usia. "Kita harus terlibat dan mengindentifikasi mereka yang kita yakini berada dalam situasi yang sangat buruk dan kita harus bisa memberikan solusi yang efektif untuk memecahkan persoalan mereka," papar Anbessa.

Ia melanjutkan, salah satu tujuan utama Partai Islam Denmark adalah meluruskan pandangan-pandangan partai-partai pemerintah seperti Partai Rakyat Denmark yang dikenal anti-Muslim.

Supaya bisa mendapat pengesahan dan bisa ikut pemilu, partai baru di Denmark harus mendapatkan dukungan tandatangan dari 20.000 orang. Saat ini, terdapat sekitar 250.000 warga Muslim dari 5,4 juta jumlah pendudukn Denmark.

Sejumlah warga Muslim Denmark mengaku skeptis dengan wacana pembentukan Partai Islam. Imam Abdul Wahid Pederson mengatakan, lampu hijau untuk membentuk Partai Islam memang memberikan rasa optimisme tapi ia ragu posisi Partai Islam itu nantinya bisa kuat di parlemen.

Saat ini saja, kata Pederson, ada empat Muslim yang duduk di parlemen tapi mereka tidak punya kekuatan untuk bicara atas nama seluruh warga Muslim. "Karena mereka berperan sebagai wakil partai. Tapi kita bisa memberi kesempatan pada Partai Islam untuk menyuarakan aspirasi komunitas Muslim," tukas Pederson.

Jurnalis Muslim Nidal Abul Arif mengaku pesimis dengan ide Partai Islam di Denmark. Menurutnya, sulit bagi Muslim Denmark untuk menjadi sebuah kekuatan politik. "Partai yang bisa ikut pemilu harus memiliki paling tidak 2 persen dari jumlah penduduk yang memiliki hak suara. Sulit bagi komunitas Muslim mencapai kuota itu," ujarnya.

Abul Arif juga mengkhawatirkan nama Partai Islam yang identik dengan partai agama, sehingga akan susah mendapatkan dukungan dari kalangan non-Muslim di Denmark. "Selain itu, pendiri partai juga bukan figur yang dikenal luas dan tidak melakukan kordinasi dengan kelompok-kelompok Muslim lainnya sebelum memutuskan membentuk Partai Islam," tukasnya. (ln/iol)