
Pertanyaan diseputar kesehatan Presiden Hosni Mubarak telah menimbulkan berbagai spekulasi, siapa yang akan menggantikan posisinya sebagai presiden? Kalangan oposisi siapapun yang menggantikan Mubarak, tidak akan terjadi perubahan dan sangat sulit munculnya proses reformasi. Mubarak sudah sakit-sakitan, tapi belum begitu jelas siapa yang akan menggantikan. Tapi, sepertinya terjadi pertarungan antara Gamal Mubarak dengan Kepala Intelijen Mesir Omar Sulaiman.
Mubarak mengambil alih kekuasaan di tahun 1981, dan sekarang ia sudah berumur 81 tahun. Kesehatannya sudah tidak memungkinkan terus melanjutkan kekuasaannya. Sementara itu, terus beredar rumor, Gamal (45) akan menggantikan posisi Mubarak. Mubarak juga sudah berkuasa selama hampir 30 tahun. Anaknya (Gamal) sekarang sudah menduduki jabatan penting, menjadi Sekjen National Democratic Party (NDP), sebagai partai berkuasa di Mesir. Mubarak dengan menggunakan NDP mengontrol aktivitas ekonomi, politik, dan memberangus kebebasan, dan memenjarakan siapa yang dianggap sebagai kelompok pemangkang. Kini, perlahan-lahan Jendral Omar Sulaeman, Kepala Intelijen Mesir, yang popular itu, dianggap menjadi ‘duri’, dan ada rumors yang beredar bahwa Omar akan disingkirkan dari jabatannya.

Sementara itu, Gamal, yang sekarang sudah menjadi Sekjen NDP itu, kemungkinan akan diangkat menjadi perdana menteri, dan ini sebagai uji coba dan persiapan pengalihan kekuasaan. Gamal yang menguasai bisnis yang sangat luas di Mesir, tidak popular dikalangan rakyat, sementara itu Jendral Omar Sulaeman, popular dikalangan rakyat Mesir. Inilah pertarungan yang akan terjadi di Mesir. Tapi, segalanya akan berpulang kepada Mubarak. Siapa yang dikehendaki untuk menggantikannya. Tapi, umumnya di negara-negara Arab, kekuasaannya hanyalah akan diserahkan kepada kerabatnya, sanak famili, termasuk anak. Seperti Jordania, ketika Raja Husien meninggal digantikan anaknya Abdullah. Di Syria, ketika Hafez al-Assad meninggal juga digantika anaknya Bashar al-Asaad.
Wakil Mursyid ‘Aam Ikhwanul Muslimin, Dr.Mohamad Habib, menanggapi situasi di Mesir saat ini, ia menyatakan, bahwa apakah Gamal akan menggantikan ayahnya, ketika masih atau sesudah meninggal?’, ucap Habib. Selanjutnya, Habib menambahkan, perubahan rejim diktator itu, tidak perlu melalui revolusi atau coup (pengambil alihan kekuasaan) dengan cara kekerasan, tapi melalui perubahan dari dalam, dan perubahan grass roots (rakyat)’, ujar Habib. “Kami menolak kekerasan, kekerasan hanya akan memperkuat rejim diktator”, tambah Habib.
Dibagian lain, Nabil Fahmi, seorang duta besar yang mempunyai hubungan dengan para diplomat asing, mengatakan siapapun yang berkuasa harus dapat menyelesaikan krisis ekonomi Mesir, yang sekarang ini kondisinya sangat serius, dan meningkatnya harga-harga, serta angka inflasi yang terus membubung. Disamping itu, 56 persen penduduk Mesir adalah anak-anak muda, yang umurnya sekitar 25 tahun, dan mereka sekarang banyak yang menganggur dan tidak sekolah. Inilah yang akan menyebabkan terjadinya ‘ledakan’. “Kami memerlukan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas”, ucap Fahmi. Fahmi juga mengkawatirkan di mana stabilitas dapat terganggu dengan masalah domestik, yaitu adanya krisis Palestina, di mana umumnya rakyat Mesir berpihak kepada rakyat Palestina.
Dilema rakyat di Mesir antara memilih Gamal yang sipil, dan anak Mubarak atau memilih Jendral Omar Sulaeman, yang militer dan kepala intelijen, yang dekat dengan Israel. (m/jp)