eramuslim

Turki Utus 10 Menterinya ke Suriah

Turki mengutus 10 menterinya ke Suriah untuk menghadiri pertemuan Dewan Kerjasama Strategis Turki-Suriah. Dewan ini terbentuk bulan September kemarin di Turki saat pertemuan antara Menlu Turki Ahmet Davutoglu dan Menlu Suriah Walid Moallem.

Pembentukan dewan kerjasama ini menjadi era baru hubungan Turki dan Suriah yang sejak tahun 1990-an terlibat pertikaian masalah perbatsan. Dengan adanya dewan kerjasama ini tercapai kesepakatan mengenai persyaratan pemberian visa bagi warga kedua negara yang ingin saling berkunjung. Selain dengan Suriah, Turki juga sudah menandatangani kerjasama serupa dengan Irak bulan Agustus kemarin.

Menteri-menteri Turki yang diutus ke Suriah antara lain Menlu Ahmet Davutoglu, Menteri Sumber Daya Alam dan Energi Taner Yildiz dan Menteri Dalam Negeri Besir Atalay. Pertemuan ini digelar selang seminggu setelah Turki membatalkan keikutsertaannya dalam latihan militer "Anatolian Eagle" dengan NATO karena keikutsertaan Israel, yang membuat hubungan Turki dan Israel menegang.

Di sisi lain, para pejabat Israel dengan sinis mengomentari pembentukan Dewan Kerjasama Strategis Turki-Suriah sebagai strategi Suriah dalam memulihkan citranya dan memperkuat hubungan Suriah dengan dunia Arab dan Muslim.

Turki belakangan ini berperan aktif untuk menjadi mediator antara pihak-pihak yang bertikai, seperti Iran dengan Barat, Suriah dengan Barat, Suriah dengan Israel dan antara Israel dengan Hamas. Namun Turki sempat berang ketika Israel tidak mengijinkan Menlu Turki masuk ke Jalur Gaza dari wilayah Israel, untuk melakukan pembicaraan dengan Hamas. Israel tidak mau ada kesan bahwa Turki melakukan mediasi antara Hamas dan Israel.

Davutoglu dalam wawancaranya dengan CNN menjadi salah satu dasar keputusan Turki untuk melarang Israel ikut serta dalam latihan perang "Anatolian Eagle" terkait sikap Israel bukan hanya karena insiden penolakan itu, tapi juga atas sikap Israel terhadap warga Gaza.

"Kami berharap situsasi di Gaza membaik dan kembali pada jalur diplomasi, serta menciptakan atmosfir baru hubungan Turki-Israel. Tapi melihat apa yang terjadi sekarang, tentus saja kami bersikap kritis atas pendekatan yang dilakukan Israel," ujar Menlu Turki.

Kementerian Luar Negeri Turki dalam pernyataan resminya hari Senin kemarin juga mengingatkan Israel untuk tidak membesar-besarkan masalah latihan militer "Anatolian Eagle." Pernyataan itu menegaskan bahwa latihan Anatolian Eagle adalah bagian dari latihan pertahanan udara bersama sejumlah negara yang rutin dilakukan Turki setiap tahun sejak 2001 dan pembatalan atas latihan yang sedianya di gelar pada tanggal 12 dan 23 Oktober ini sebaiknya tidak dipolitisir.

Turki dalam pernyataannya juga mengingatkan para pejabat Israel untuk bertindak secara rasional dan tidak bersikap serta mengeluarkan pernyataan yang memojokkan Turki. (ln/JP)