Apa Kabar, Lembah Swat?

Tidak kurang dari dua bulan, Lembah Swat berubah-ubah status, bermula dikuasai oleh pemerintah Pakistan dan terbengkalai, kemudian menyerahkan diri pada Taliban dan kondisi berangsur baik, kembali lagi pada kekacauan yang lebih parah. Ini tak lepas dari campur tangan tentara AS dalam mengusir Taliban dari wilayah itu.
Saat ini tengah terjadi eksodus besar-besaran di Lembah Swat. Dilaporkan Lembah Swat bisa lebih buruk daripada kondisi Rwanda pada tahun 1994 dimana terjadi genosida besar-besaran. Tidak kurang dari 1,5 juta orang mengungsi, tidak termasuk 300.000 yang belum terdaftar. "Sudah bertahun-tahun peristiwa seperti ini tidak pernah terjadi," ujar Ron Redmond, juru bicara UNHCR (komisi khusus PBB yang mengurusi pengungsi). "Peristiwa Rwanda bisa terjadi lagi di tempat ini."
Militer Pakistan yang dibantu oleh tentara asing memang membabi buta. Mereka tampaknya begitu gelap mata dalam memburu Taliban. Selama satu pekan belakangan ini, pesawat jet dan helikopter tempur memborbardir setiap jengkal Lembah. Tak ada tempat di Lembah yang tak dijelajahi oleh militer Pakistan. Penyerangan yang dilakukan oleh militer Pakistan ini, celakanya, terlalu kebablasan, hingga penduduk sipil ikut menjadi korban pula. Atau mungkin juga mereka tidak lagi peduli kepada rakyatnya sendiri.
Para pengamat politik dan pekerja sosial mengatakan jika tak ada pasokan bantuan dari luar, maka dikhawatirkan akan terjadi destabilisasi politik, karena memicu rakyat Paksitan yang memang sudah kecewa terhadap pemerintahannya.
Bagaimana dengan Taliban? Maulana Fazlullah, pemimpin Taliban di Swat, mengatakan bahwa Taliban masih kokoh, dan akan bertempur menghadapi pasukan asing sampai titik darah penghabisan. (sa/grdn)