Dalam Sekejap, 100.000 Orang Tewas Akibat Gempa di Haiti

Pemerintah Haiti mempekirakan 100.000 orang tewas akibat gempa berkekuatan 7 skala Richter disertai tsunami yang menghantam negara itu hari Selasa (12/1). Diantara korban tewas terdapat warga negara dari sejumlah negara termasuk staff penjaga perdamaian PBB.
Presiden Haiti, Rene Preval mengatakan, jumlah korban kemungkinan akan terus bertambah karena masih banyak korban yang belum ditemukan dan mengalami luka-luka serius. Gempa disertai tsunami yang melululantakkan Port-au-Prince, ibukota Haiti merupakan gempa terburuk yang pernah menimpa Haiti selama dua dekade ini.
"Kondisinya sulit dibayangkan. Kantor parlemen, kantor pajak, sekolah-sekolah, rumah-rumah sakit, banyak yang roboh," kata Presiden Preval menjelaskan situasi di ibukota Haiti, Port-au-Prince

Ia juga mengatakan bahwa Kepala misi PBB di Haiti, Hedi Annabi asal Tunisia menjadi salah satu korban tewas, namun PBB belum memastikan kabar tersebut. Pihak PBB membenarkan bahwa Annabi sedang berada di kantornya saat gempa meruntuhkan kantor perwakilan PBB, tapi diduga Annabi masih hidup dan terjebak di bawah reruntuhan gedung.
Sekjen PBB Ban Ki-moon menyatakan situasi darurat kemanusiaan di Haiti. Ia menyerukan masyarakat internasional segera mengirimkan bantuan dan PBB sendiri akan mengucurkan bantuan sebesar 10 juta dollar yang diambil dari dana tanggap darurat.
PBB memastikan sedikitnya 14 staffnya tewas setelah kantor perwakilan PBB bertingkat lima yang berada di Port-au-Prince runtuh dan dipekirakan masih ada ratusan staff nya yang hilang. Diantara staff PBB yang tewas, 10 diantaranya warga negara Brazilia, tiga warga negara Yordania dan satu orang Haiti.
Militer Brazil yang mengirimkan kontingen terbesar pasukan perdamaian ke Haiti menyatakan, banyak tentaranya yang belum diketahui nasibnya pasca terjadinya gempa. Sementara China, menurut laporan media resmi negara itu memastikan delapan warga negaranya yang menjadi anggota misi perdamaian di Haiti, tewas dalam bencana itu.

Regu penyelamat kini berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan korban yang masih hidup. Jubir Medecins sans Frontieres (MSF), organisasi medis yang membantu upaya penyelamatan mengatakan, mereka hanya bisa memberikan perawatan seadanya bagi para korban yang selamat, karena jumlahnya sangat banyak.
"Kami melihat banyak sekali pasien yang dalam kondisi kritis," kata jubir organisasi itu.
Informasi yang akurat tentang kerusakan dan jumlah korban akibat gempa sulit didapat karena jalur komunikasi yang rusak. Dari beberapa laporan yang masuk hari Rabu menyebutkan bahwa banyak mayat bergelimpangan di jalan-jalan. Warga yang selamat mencoba mencari anggota keluarganya yang hilang diantara mayat-mayat tersebut. Tapi di tengah duka akibat bencana, ada beberapa laporan penjarahan yang dilakukan pada malam hari.
Haiti salah satu negara termiskin di dunia ini berulangkali dihantam bencana alam. Pada tahun 2008, negara ini ini dihantam empat kali bencana angin topan dan badai yang menewaskan ratusan orang. (ln/bbc/aljz)
Lainnya (Arsip)
- Di Inggris, Janggut Dianggap Membahayakan Para Petinju
Kamis, 14/01/2010 12:20 WIB - Mursyid 'Aam Ikhwanul Muslimin : Pemilihan Mursyid ke 8 di Tunda
Kamis, 14/01/2010 11:13 WIB - Qaradhawi: Semua Bertanggung Jawab atas Nasib Al Quds
Kamis, 14/01/2010 11:02 WIB - Melecehkan Al-Quran dan Islam Cuma Dipenjara Satu Tahun ?
Kamis, 14/01/2010 10:14 WIB - Kekuatan Militer India Membahayakan Pakistan
Kamis, 14/01/2010 10:08 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




