Dalia Mugahed, Muslimah Pertama di Gedung Putih

Lesung pipinya saat tersenyum menjadi ciri khas Dalia Mogahed. Perempuan berwajah manis dan berjilbab ini bukan perempuan sembarangan, karena ia menjadi muslimah AS pertama yang mendapatkan posisi penting di Gedung Putih.
Mogahed, perempuan kelahiran Mesir ini terpilih sebagai salah satu penasehat bidang Timur Tengah dan Muslim Amerika dalam pemerintahan Presiden Barack Obama. Presiden Obama, bulan Maret kemarin menandatangani pembentukan sebuah lembaga baru dalam pemerintahannya yang diberi nama "Kantor Kerjasama Keagamaan". Lembaga ini dibentuk untuk membantu institusi-institusi keagamaan dan memperkuat dialog antar penganut agama dengan pemerintah.
Kantor tersebut beranggotakan 25 orang dari perwakilan seluruh agama dan kelompok sekular yang bertugas memberikan laporan pada presiden tentang bagaimana peran agama bisa dimainkan untuk memecahkan problem-problem sosial dan menyikap isu-isu hak-hak sipil.
"Saya merasa sangat terhormat diberi kesempatan untuk mengabdi pada negara ini. Kunci utama dari lembaga ini adalah mengerahkan energi dan kebijaksanaan berbagai institusi keagamaan serta para pimpinannya yang memfokuskan kegiatannya untuk memecahkan berbagai persoalan sehari-hari," kata Mogahed dihadapan anggota Senat dan lembaga-lembaga think-tank yang hadir dalam pertemuan yang digelar oleh Congressional Muslims Staffers Association.
Sebagai wakil dari agama Islam, Mugahed akan memberikan masukan dan pendapat pada Obama tentang apa yang diinginkan Muslim dari AS, sehingga terbuka saluran komunikasi dan jalan untuk meluruskan pandangan-pandangan yang salah tentang Islam dan Muslim, terutama di AS.
"Hal utama yang mendasari lembaga ini adalah kerjasama antar penganut agama dan membantu mereka untuk menjadi sebuah kekuatan yang bisa mendorong kemajuan masyarakat," sambung Mugahed yang setelah menjadi penasehat Obama, tetap akan mengepalai lembaga Gallup American Center for Muslim Studies, sebuah lembaga non pemerintah yang bergerak dalam bidang riset dan analisis data tentang pandangan-pandangan Muslim di seluruh dunia.
Tantangan Mugahed
.jpg)
Jihad Saleh Williams dari Congressional Muslim Staffers Association menilai positif penunjukan Mugahed sebagai penasehat pemerintahan Barack Obama, mengingat makin meningkatnya Islamofobia di kalangan media dan akademisi di AS.
Menurut Williams, posisi Mugahed sebagai penasehat di bidang hubungan dengan warga Muslim, adalah posisi yang unik karena banyak yang mempertanyakan siapa ahli di bidang itu dan siapa yang layak bicara soal Muslim.
"Pada umumnya, pertanyaan-pertanyaan itu yang sering muncul di kepala masyarakat dan para pengambil keputusan. Dalia Mugahed paham betul dengan komunitas Muslim dan apa yang ia katakan berdasarkan hasil risetnya di Gallup," ujar Williams.
Sebagai peneliti senior dan direktur eksekutif Gallup Center, Mugahed yang berlatar belakang pendidikan teknik kimia dan administrasi bisnis ini, memimpin langsung riset-riset tentang opini publik Muslim di seluruh dunia dan hasil penelitiannya sering dikutip media massa ternama di AS seperti the Wall Street Journal, majalah Foreign Police dan Middle East Policy and the Harvard International Review. Mugahed juga pernah bekerjasama menulis buku dengan John L. Esposito berjudul “Who speaks on behalf of Islam? What a Billion Muslims Really Think".
Prestasi Mugahed sebagai Muslimah AS pertama yang ditunjuk sebagai penasehat pemerintahan juga membuka kesempatan bagi Muslim lainnya yang menekuni kebijakan publik dan memberikan kontribusi berupa solusi terhadap permasalahan-permasalahan sosial.
"Muslim AS harus kreatif dengan ide-idenya dan selayaknya berpartisipasi dalam mencari solusi bagi persoalan-persoalan negaranya, dan yang lebih penting mereka diberi kesempatan untuk melakukan itu semua," tukas Mugahed.
Mugahed mengemban tugas berat untuk meluruskan stereotipe negatif terhadap Muslim yang diidentikan dengan ekstrimis. Sebagai perempuan berjilbab pertama di Gedung Putih, Mugahed mengakui bahwa dalam proses penasehat pemerintah, Obama tidak hanya ingin mendengar informasi-informasi yang umum, bukan persoalan jilbab.
"Jilbab tidak menjadi isu utama. Apa yang ingin didengar pemerintahan Obama adalah nasehat masukan tentang bagaimana melibatkan seluruh masyarakat dalam isu-isu sehari-hari," imbuhnya. (ln/aby)
Lainnya (Arsip)
- Lieberman : Iran Bukan Ancaman Utama Israel
Rabu, 22/04/2009 11:43 WIB - Pemilu dan Partai Pilihan Muslim Afrika Selatan
Rabu, 22/04/2009 10:53 WIB - Ikhwanul Muslimin Yordan Tuntut Paus Minta Maaf Secara Terbuka
Rabu, 22/04/2009 10:27 WIB - Bank Pertama yang Berafiliasi dengan Hamas Dibuka
Rabu, 22/04/2009 08:51 WIB - Islam dan Muslim Jadi Target Kampanye Hitam Politisi Norwegia
Selasa, 21/04/2009 17:38 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




