Dewan Muslim Sekuler, Taktik Pecah Belah Pemerintah Prancis?

Rencana pembentukan organisasi tersendiri sebagai wadah bagi warga Muslim yang menganut paham sekuler di Prancis dikhawatirkan memicu perpecahan di kalangan warga Muslim Negeri Menara Eiffel itu.
Namun sejumlah pejabat Prancis mengisyaratkan dukungannya, meski saat ini sudah ada wadah organisasi resmi bagi Muslim Prancis yaitu French Council of the Muslim Faith (CFCM) yang dibentuk oleh Nicolas Sarkozy-sekarang presiden Prancis-pada tahun 2003.
Sudah sejak lama kelompok Muslim sekular di Prancis ingin membentuk wadah sendiri seperti hal organisasi yang mewakili kelompok Yahudi sekuler, Council of French Jewish Institutions (CRIF). Rencana kelompok Muslim sekular itu mendapat dukungan dari deputi gubernur Seine-Saint-Denis di distrik Paris, Malika Belarabi.
"Ide ini akan menyatukan semua kelompok Arab dan Muslim sekular dalam satu kerangka besar," kata Belarabi
Penasehat Presiden Sarkozy, Henri Guaino secara pribadi juga menyatakan dukungannya. "Pemerintah tidak ada hubungannya dengan dewan itu, tapi saya pribadi dan istana Elysee secara penuh mendukung dewan ini," ujarnya.
Organisasi yang diberi nama Council of Secular Muslims rencananya akan diluncurkan secara resmi pada tanggal 25 Maret mendatang dengan mengundang Presiden Sarkozy beserta isterinya, para tokoh Muslim di Prancis termasuk bintang sepakbola Zinedine Zidane serta aktris cantik Isabelle Adjani. Tapi acara tersebut kemudian dibatalkan tanpa alasan yang jelas.
Sementara itu para pimpinan CFCM mengungkapkan kecurigaannya tentang motif dibalik pembentukan dan dukungan terhadap organisasi Muslim sekular. Seorang sumber di CFCM menuding pemerintah dan Presiden Sarkozy sengaja membentuk organisasi baru Muslim sebagai tandingan CFCM, untuk melemahkan CFCM yang makin kuat.
"Dewan Muslim baru itu dibentuk untuk mencegah agar CFCM tidak memberikan pengaruh yang makin besar di kalangan masyarakat Prancis di masa depan," kata sumber tadi.
CFCM sendiri sebagai wadah Muslim bentukan pemerintah, belakangan menuai banyak kecaman karena dianggap gagal untuk mengatasi islamofobia dan tidak mampu membendung larangan berjilbab yang diberlakukan pemerintah Prancis. (ln/iol)
Lainnya (Arsip)
- Karpet Untuk Kuburan Nabi Terjual 5,5 Juta Dolar
Jumat, 20/03/2009 12:57 WIB - Muslim Skotlandia dan Sinagog
Jumat, 20/03/2009 11:35 WIB - Parlemen Yunani dan Itali : Hamas Wakil Syah Rakyat Palestina
Jumat, 20/03/2009 11:19 WIB - Saudi Tertibkan Pengeras Suara di Masjid-Masjid
Jumat, 20/03/2009 10:37 WIB - Pengakuan Tentaranya Membuat Militer Israel Panik
Jumat, 20/03/2009 09:49 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




