Di Balik Bantuan Pangan Internasional Di Dunia Ketiga

Rabu, 20/01/2010 09:11 WIB | Arsip | Cetak


Mengapa kaum Mujahidin dimanapun—terutama di negara-negara yang tengah diduduki atau terlibat konflik—selalu menolak bantuan pangan internasional?

Baru-baru ini kritik media internasional banyak ditujukan pada kaum Mujahidin karena mereka sering sekali memutuskan pasokan utama bantuan kemanusiaan. Akibatnya, reputasi mereka semakin dibuat buruk saja. Misalnya saja di Somalia.

Salah satu alasan utama bahwa Mujahidin memerintahkan mengakhiri bantuan kemanusiaan di Somalia adalah bahwa merupakan medium untuk propaganda PBB. PBB dan negara-negara anggotanya sering menggunakan LSM dalam rangka untuk mengumpulkan intelijen pada gerakan-gerakan di negara-negara dunia ketiga, dan tidak terkecuali Somalia. Anda harus ingat bahwa mata-mata di dunia nyata, tidak seperti mata-mata di film-film Hollywood. Seorang mata-mata di dunia nyata adalah seseorang yang biasanya mengambil beberapa gambar dari ‘spot-spot yang mencurigakan,' tingkat perkiraan pasukan, dan hal-hal serupa lainnya yang hanya bisa diperlukan dalam tingkat akses dasar, bukan untuk pangkalan militer rahasia, tetapi kota-kota mereka sendiri.

Makanan dari WFP (World Food Program) PBB juga datang dengan bendera Amerika di atasnya. Bagaimana menurut Anda, perasaan presiden AS Barack Obama jika kopinya disajikan dalam mug dengan bendera hitam Mujahidin di atasnya? Melihat bendera musuh Anda pada makanan Anda tentu sangat mematahkan semangat, dan mengurangi kepercayaan masyarakat.

Lebih dari sebulan yang lalu, komandan Al-Shabaab mengadakan pertemuan dengan petani setempat. Kesimpulan bulat dari pertemuan ini adalah bahwa Program Pangan Dunia PBB menghancurkan kemampuan mereka untuk bercocok tanam. Al-Shabaab memerintahkan PBB untuk berhenti membagi-bagikan makanan gratis di pasar-pasar domestik di mana tanaman dijual, karena ini membuat petani yang menjalankan Somalia terlempar dari bisnis.

Jika para petani keluar dari bisnis karena "bantuan" asing, maka akant ercipta situasi di mana jumlah rakyat yang lebih besar menjadi tergantung pada "bantuan" itu. Kelompok pertama orang-orang yang dienyahkan adalah para petani itu sendiri. Mereka kehilangan pekerjaan mereka, sehingga mereka menjadi tergantung pada makanan gratis karena mereka tidak memiliki pendapatan. Selanjutnya, untuk setiap petani yang kehilangan pekerjaan, maka pemilik toko, kasir, tukang sapu, penyedia transportasi, dan orang lain yang akan terlempar dari bisnis.

Lihatlah di Haiti. Bahkan sebelum terjadi gempa saja, negara ini telah berubah dari 100% mandiri dalam produksi makanan, menjadi negara yang 80% bergantung pada bantuan pangan asing, hanya dalam beberapa tahun terakhir.

Tidak heran kemudian jika kaum mujahidin di Somalia, misalnya mulai mengusir WFP, karena tidak setuju dengan praktik pembagian makanan itu. Sekarang, mungkin WFP jauh dari kegiatan mata-mata, tapi efeknya terus bergulir semakin besar. (sa/mb)


Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Dunia

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang