George Soros: Amerika Empat Bulan Lagi Karam?

Senin, 14/12/2009 15:47 WIB | Arsip | Cetak

Apa yang lebih buruk ketimbang pengangguran yang mencapai 11.000 orang hanya dalam satu bulan November saja, dan Amerika masih tetap saja bergembira? Angka ini memang telah turun 0,2 persen, tapi bagi Amerika yang begitu digjaya, ini adalah tingkat paling buruk dalam beberapa dekade belakangan ini.

Dan yang lebih penting, tidak ada akhir yang nyata di depan mata. Bahkan jika lapangan pekerjaan mulai datang kembali lebih cepat dari yang diharapkan—yang mungkin terjadi seiring stimulus uang mulai menggeranyangi—pengangguran di AS akan tetap tinggi selama bertahun-tahun mendatang, sebanyak 7 atau 8 persen bahkan sampai tahun 2014.

"Rakyat Amerika tidak akan lebih baik dalam lima tahun mendatang, pengangguran akan tetap tinggi dan pertumbuhan penghasilan akan tetap terus datar," demikian George Soros. Soros bahkan memprediksikan sebuah skenario yang tak kalah buruk, yaitu dalam empat bulan ke depan Amerika akan tenggelam dalam "zaman yang merusak kekayaan."

Pada bulan November kemarin menunjukkan pula bahwa dalam satu pekan rata-rata jam kerja hanya 33 jam—padahal lazimnya di Amerika, paling tidak satu pekan, jam kerja bisa mencapai 40 jam. Dan para bos berpikir seribu kali jika mau merekrut karyawan baru.

Sebaliknya, di bulan November pula, pemerintah Barack Obama telah menghabiskan miliaran dollar untuk membuktikan bahwa kehilangan pekerjaan bukanlah sesuatu yang buruk. Bahkan jika bailout bank bisa mengalihkan pemakaian uang untuk mendukung usaha kecil, seperti yang telah disarankan, tetap akan mustahil untuk meniru gelombang stimulus 2009. Dan utang yang semakin membengkak tidak mengizinkan Washington untuk mengeluarkan uang lebih banyak lagi.

Salah satu kunci perbedaan antara resesi masa lalu dan sekarang ini adalah bahwa kredit begitu mencekik dengan buas. Meskipun suku bunga tetap rendah, uang tunai tetap tidak mengalir. Hal ini terutama sangat berpengaruh bagi usaha kecil yang membuat dua pertiga dari pekerjaan baru di Amerika; mereka sangat tergantung pada pinjaman bank, yang telah semakin turun dan turun sampai 17 persen sejak tahun lalu.

Pemenang Hadiah Nobel ekonomi Joseph Stiglitz, yang menghadiri konferensi pekerjan baru yang disi oleh Obama baru-baru ini di Washington, mencatat bahwa pemilik bisnis kecil juga cenderung meningkatkan modal melalui pembiayaan rumah dan kartu kredit.

Sekarang pasar hipotek telah runtuh, dan batas kredit sedang disayat, dan harga dinaikkan menjadi 30 persen; rakyat Amerika tidak mempunyai satupun pilihan yang layak. "Tidak ada pil ajaib untuk meciptakan lapangan kerja sekarang ini," kata Stiglitz.

Sementara itu, globalisasi terus mengambil korban, bahkan pada pekerja kerah putih. Pasar internasional seperti China dan Brazil telah berkembang dan keluar dari krisis keuangan, menjadi lebih kaya dan lebih kuat; mereka berpendidikan lebih baik, lebih produktif, dan semakin mampu melakukan pekerjaan lebih tinggi. Sebuah laporan McKinsey Global Institute menemukan bahwa 71 persen pekerja AS terus mengalami permintaan penurunan permintaan. Bahkan konsultan MckKinsey Global yang asetnya jutaan dolar per tahun pun takut.

Budaya dan implikasi politik makin ngawur. Studi menunjukkan bahwa pengangguran yang tinggi telah mengakibatkan konsekuensi yang buruk bagi keterlibatan masyarakat. Depresi, orang berhenti dan mundur dari gereja-gereja, sekolah, dan kotak suara pemilu, semua itu telah berubah menjadi virus yang mewabah. "Menjadi pengangguran permanen menghentikan semua aktivitas sosial Anda di masyarakat." kata profesor Harvard, Robert Putnam, penulis Bowling Alone, buku terlaris di tahun 2000 mengenai isolasi sosial di Amerika. (sa/newsweek)

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Dunia

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang