Gereja di Inggris Ketularan Fobia Masjid
Warga lokal dan gereja di kota Camberley, South East England nampaknya sudah ketularan Islamofobia. Mereka menolak rencana pembangunan masjid lengkap dengan menaranya di kota itu dan menyebut menara masjid sebagai pernyataan untuk menunjukan supremasi Islam.
Koalisi warga dan gereja membentuk koalisi Churches Together untuk menentang pembangunan masjid itu. Mereka menilai pembangunan masjid akan memicu pertentangan antara komunitas Muslim dan masyarakat yang lebih luas di Camberley di masa mendatang.
"Saya pikir, cukup adil mengatakan bahwa sebuah masjid dengan menara-menara setinggi 100 kaki dan sebuah kubah yang tinggi besar tidak membuat begitu banyak pesan-pesan spiritual, sebagai sebuah budaya yang kuat atau pesan-pesan politis," kata Ketua Koalisi, Pendeta Mark Chester.
Pendeta Bob Peck dari Gereja St. Martin kut mengecam rencana pembangunan masjid tersebut. Ia mengatakan, "Mereka (komunitas Muslim) sepertinya punya agenda politik dan mereka ingin membuat sebuah pernyataan besar, pernyataan tentang sebuah supremasi."
Seorang pensiunan Mayor Jenderal, Tim Cross bahwa menyebut masjid sebagai "ancaman keamanan yang signifikan." Cross mengatakan bahwa menara-menara masjid bisa digunakan untuk melakukan serangan terhadap keluarga kerajaan dan tokoh-tokoh militer penting yang setiap tahunnya berkunjung ke Royal Miltary Academy.
Penolakan yang keras dari warga dan pihak gereja membuat komunitas Muslim di Camberley terkejut. Juru bicara Bengali Walfare Association-organisasi Muslim yang mengajukan permohonan pembangunan masjid-Abdul Wasay Chowdury membantah ketakutan warga yang dikaitkan dengan masalah keamanan. Ia mengatakan bahwa akses di dalam menara tingginya tidak sampai melebihi tinggi sebuah rumah dan akan dibangun dengan beton.
Setelah mendapat penjelasan ini, Kementerian Pertahanan Inggris yang semula ikut menentang rencana pembangunan masjid, mengubah sikapnya. "Rencana disain bangunan sudah direvisi sehingga akses ke menara akan dibatasi hanya untuk keperluan perawatan menara," demikian pernyataan kementerian pertahanan.
Para pemuka Muslim di Camberley juga membantah tuduhan bahwa mereka sedang berusaha membuat sebuah "pernyataan politik" dengan membangun masjid itu. "Kami tidak tahu apa-apa soal politik. Kami cuma warga biasa yang ingin berbuat sesuai keyakinan kami," kata Chowdhury.
Masjid yang akan dibangun itu lokasinya memang dekat dengan Royal Militaru Academy. Lokasi masjid adalah bekas sekolah Victorian yang sudah digunakan sebagai masjid oleh komunitas Muslim di Camberley selama 14 tahun. (ln/iol)
Lainnya (Arsip)
- PBB Siapkan Resolusi Mengecam Swiss Soal Menara Masjid
Kamis, 11/03/2010 10:02 WIB - Pengangguran Naik Di 30 Negara Bagian AS
Kamis, 11/03/2010 09:05 WIB - Lars Viks Tak Menyesal Menghina Nabi Muhammad
Kamis, 11/03/2010 07:07 WIB - Syaikh Tantowi: Liberal Ataukah Kepercayaan Mubarak?
Kamis, 11/03/2010 05:29 WIB - Benarkah Rakyat AS Tidak Merindukan Bush?
Rabu, 10/03/2010 19:44 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




