Ijin Jilbab Bagi Polwan di Norwegia Terancam Dibatalkan
.jpg)
Baru seminggu pemerintah Norwegia mengumumkan akan memberikan keleluasaan bagi polisi perempuan untuk mengenakan jilbab, Menteri Kehakiman negeri itu hari Selasa kemarin menyatakan akan mengkaji ulang kebijakan tersebut.
Menurut Menteri Kehakiman Knut Storberget, keputusan mengkaji ulang kebijakan jilbab bagi polwan Muslim diambil karena banyak yang mengkritik dan keberatan dengan kebijakan itu.
"Karena perdebatan yang mengemuka ... khususnya reaksi dari (persatuan polisi) Politiets Fallesforbund, saya pikir ada baiknya kita mulai dari awal lagi," kata Storberget dalam sebuah acara debat di TV 2 Norwegia .
Padahal baru satu minggu yang lalu, pemerintah Norwegia yang dipegang kelompok Kanan-Tengah menyatakan setuju dengan kebijakan yang membolehkan polisi perempuan yang Muslim mengenakan kerudung atau jilbab agar kepolisian bisa merekrut lebih banyak lagi calon polisi perempuan dari kalangan Muslim di negeri itu.
"Kami pikir, sudah perlu dilakukan perekrutan secara luas untuk mengembangkan kekuatan kepolisian yang mewakili seluruh kelas dalam masyarakat tanpa melihat latar belakang keyakinan dan etnisnya. Hal itu lebih penting dibandingkan tuntutan untuk mengenakan pakaian seragam yang netral," kata Kepala Polisi Ingelin Killengreenv seminggu yang lalu.
Sebelum kebijakan untuk membolehkan seorang polwan Muslim mengenakan jilbab disetujui, juga terjadi pro dan kontra selama berbulan-bulan. Sikap kontra terutama ditunjukkan oleh Partai Kemajuan yang menjadi partai oposisi di Norwrgia. Partai ini menuding kebijakan jilbab bagi polwan Muslim merupakan ancaman akan adanya "Islamisasi secara gradual" di negeri Skandinavia itu.
Keberatan atas kebijakan soal jilbab juga dinyatakan oleh persatuan polisi yang menuntut agar unit kepolisian tetap menggunakan seragam yang "netral" dan tidak menunjukkan afiliasi ke agama tertentu.
Menanggapi keberatan-keberatan itu, Storberget mengatakan akan mengevaluasi kembali kebijakan jilbab, tanpa berani menjawab dengan tegas. "Kami tidak bilang 'tidak" dan juga tidak bilang 'ya'," kata Storberget. (ln/aby)
Lainnya (Arsip)
- Mubarak : Mendukung Abbas Menguasai Gaza
Kamis, 12/02/2009 13:23 WIB - Dunia Desak Pemerintahan Baru Israel Hormati Perdamaian
Kamis, 12/02/2009 11:33 WIB - Jihad Islam : Meningkatnya Permusuhan Terhadap Arab
Kamis, 12/02/2009 10:35 WIB - Presiden Peres : Menunjuk Netanyahu Membentuk Pemerintahan Baru ?
Kamis, 12/02/2009 10:34 WIB - Chilla, Strategi Dakwah Islam ke Seluruh Dunia
Rabu, 11/02/2009 23:55 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




