Irak "Dipaksa" Setujui Kesepakatan Keamanan dengan Militer AS
.jpg)
Pejabat Militer AS menekan Irak agar menyetujui pakta perjanjian keamanan dengan militer AS, karena pakta tersebut menyangkut eksistensi pasukan AS di Irak. Menteri Pertahanan AS, Robert Gates bahkan mengingatkan Irak, jika AS dan Irak gagal menyetujui pakta itu, Irak akan menghadapi konsekuensi keamanan yang dramatis.
"Jika tidak ada Status of Forces Agreement (SOFA), AS akan menghentikan seluruh aktivitasnya. Jika tidak SOFA dan mandat PBB tidak diperbaharui, konsekuensinya akan sangat dramatis," kata Gates.
Ia juga menyatakan, AS sudah tidak berminat lagi untuk melakukan negosiasi baru atas kesepakatan yang sudah disetujui sebelumnya, bahwa pasukan AS akan berada di Irak sampai tahun 2011. Gates menyatakan hal itu, setelah hari Selasa kemarin, juru bicara pemerintah Irak Ali Dabbagh mengatakan bahwa kabinet Irak sepakat bahwa diperlukan amandemen atas pakta tersebut, agar bisa diterima oleh semua rakyat Irak. Dabbagh tidak merinci bagian mana dari kesepakatan itu yang harus diamandemen.
Selain Menteri Pertahanan, Kepala Pasukan AS di Irak Michael Mullen pada hari yang sama juga mengingatkan, Irak akan menghadapi resiko keamanan yang besar jika tidak segera menerima kesepakatan yang menjadi dasar hukum bagi kehadiran pasukan AS di Irak itu.
Terkait hal tersebut, Mullen menuding negara Iran sedang berupaya menggagalkan pakta SOFA dan menegaskan bahwa waktunya sudah sangat mendesak bagi pakta tersebut untuk segera disahkan, karena situasinya sudah sangat serius.
Menurut draft perjanjian SOFA, AS harus menarik mundur pasukannya dari Baghdad dan kota-kota lainnya di Irak pada tahun 2009 dan penarikan pasukan total harus selesai pada tahun 2011, kecuali jika pemerintah Irak meminta perpanjangan kehadiran pasukan AS.
Dalam draft itu juga ditetapkan, pasukan atau kontraktor-kontraktor AS yang melakukan "pembunuhan" di luar jam tugas dan diluar fasilitas AS akan diproses secara hukum berdasarkan juridiksi hukum Irak. Tapi jika kejahatan itu dilakukan saat jam tugas dan dilakukan di lingkungan fasilitas AS, maka proses hukum berdasarkan juridiksi hukum AS.
Sementara Baghdad berusaha mendapatkan wewenang penuh untuk menangkap dan mengadili orang-orang Amerika yang melakukan kejahatan yang tidak terkait dengan operasi militer serta pasukan dan kontraktor AS yang melakukan kejahatan berat dalam melaksanakan tugasnya. (ln/bbc/iol)
Lainnya (Arsip)
- "Perang" Cyber, Dua Situs al-Qaidah Tak Bisa Diakses
Rabu, 22/10/2008 12:31 WIB - Non-Muslim di Inggris Beralih ke Bank-Bank Islami
Rabu, 22/10/2008 10:39 WIB - Kementerian Kehakiman Denmark Tolak Gugatan Muslim Terhadap Jyllands-Posten
Rabu, 22/10/2008 09:30 WIB - Pemuda Arab Kurang Kreatif?
Selasa, 21/10/2008 16:52 WIB - ILO, 20 Juta Orang akan Jadi Pengangguran Sampai Akhir Tahun 2009
Selasa, 21/10/2008 15:48 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




