Karzai: Pasukan Nato Harus Enyah

Ini sebuah paradok. Antara pernyataan Presiden Afghanistan Hamid Karzai, yang menegaskan, pasukan Nato, harus dijadwalkan secara tegas, keluar dari Afghanistan. Sementara itu, Presiden Amerika George Walker Bush, yang hampir habis masa jabatan, terus meningkatkan jumlah pasukan Amerika ke Afghanistan. Barack Obama memiliki pandangan yang lebih keras, masa pemerintahan akan menggunakan seluruh kekuatan militer yang dimiliki Amerika untuk menghancurkan kekuatan al-Qaidah dan terorisme, di Afghanistan dan Pakistan.
Hamid Karzai, menginginkan kekuatan ‘asing’, maksudnya tentara Amerika dan Nato, harus dijadwalkan dengan tegas untuk meninggalkan wilayah Afghanistan. Pernyataan Karzai ini disampaikannya kepada delegasi DK.Keamanan PBB, di mana Karzai menginginkan dijadwalkan penarikan pasukan asing dari wilayah Afghanistan, dan ia menginginkan sebuah solusi politik bukan solusi militer. Perang yang berlangsung sudah cukup panjang di wilayah Afghanistan, yang telah banyak menelan korban jiwa ini, menimbulkan krisis kemanusiaan. Menjelang musim dingin ini jutaan orang Afghanistan akan menghadapi kelaparan, sementara itu negara-negara Barat,hanya berbicara perang.
“Masyarakat internasional haruslah menentukan batas waktu sampai berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk perang melawan terorisme”,ujar juru bicara Presiden Homayun Hamidzada. Selanjutnya, Homayun menambahkan ; “Bila tidak memiliki kejelasan dan ketegasan batas waktu yang ditetapkan, maka pemerintah Afghanistan tidak memiliki pilihan politik, sebagai cara mencari solusi”, tambahnya. Memang, pemeritah Amerika tidak memiliki kejelasan waktu, sampai kapan, batas waktu perang melawan terorisme di wilayah Pakistan dan Afghansitan?
Sebenarnya, Pemerintah Hamid Karzai, menginginkan pembicaraan dengan Taliban, sebagai bagian solusi politik, yang diupayakannya. Tapi, jika Amerika dan Nato terus melancarkan serangan ke propinsi-propinsi di Afghanistan, yang mengakibatkan banyak jumlah korban penduduk sipil, maka akan semakin menjauhkan upaya-upaya penyelesaian konflik di Afghanistan. Persepsi tentang Taliban sebagai kelompok teroris, yang terus dikembangkan Amerika dan Sekutunya, tak akan menemukan jalan solusi, dan pilihan militer yang sekarang ini juga tidak membantu. Karena, para pejuang Taliban telah memiliki pengalaman perang yang panjang, sejak melawan penjajah Inggris, Uni Soviet, dan sekarang gabungan pasukan Nato.
Tapi, sebagian pengamat menilai pernyataan Karzai, tak lebih sebagai permaian politik, bersamaan dengan menjelang pemilu,yang tak lama lagi akan berlangsung di Afghanistan. Hanya, moment pernyataan Karzai,yang bersamaan kunjungan dari anggota DK.PBB itu, merupakan suatu muslihat politik, yang tujuannya ingin memperbaiki dukungan politik dari rakyat, yang kian merosot. “Setiap orang tahu di negeri ini, Presiden Karzai yang membuat pernyataan itu, beberapa hari yang lalu, bersamaan dengan kedatangan utusan DK.PBB, tak lain berkaitan dengan mendekatnya pemilu”, ujar Daoud Sultanzoy, seorang anggota parlemen dari independen, kepada Aljazeera.
Kini, di Afghanistan, tak kurang jumlah pasukan asing, Amerika dan Nato, jumlah mencapai 150.000 personil, yang menyebar di berbagai wilayah di Afghanistan. Kedatangan pasukan asing ke Afghanistan itu, adalah dibawah payung DK.PBB, sejak tahun 2001, yang mengizinkan pasukan asing masuk ke Afghansitan. Meskipun, agresi militer yang dilakukan Presiden George Walker Bush, bersifat sepihak (unilateral), yang tujuannya melawan terorisme. Meskipun, tujuan yang menjadi dasar agresi militer itu, sangatlah premature, dan tidak berdasar.
Presiden terpilih Barack Obama,menyatakan bahwa Afghanistan, sebagai negara pusat ‘teroris’, yang akan menjadi prioritas pemerintahannya. Bahkan, waktu kampanye Obama ‘membual’ ingin menangkap Osama bin Laden, dan ini menjadi tujuan utama pemerintahannya. Dan, Obama menegaskan berulang kali akan menarik pasukan Amerika dari Iraq, dan mengirim mereka ke Afghanistan. Di masa pemerintahan Obama nanti, seluruh kekuatan militer Barat (Amerika dan Nato) akan dikerahkan ke Afghanistan membasmi teroris. Sementara itu, Karzai yang sekarang dalam posisi yang sulit, menginginkan dan mendorong pembicaraan dengan al-Qaidah dan Taliban, sebagai usaha menyelesaikan konflik di negara itu.
Pernyataan Karzai itu, disampaikan di depan 15 Anggota Duta Besar untuk PBB, dan perwakilan PBB, yang ada di ibukota Kabul. Dilema yang dihadapi Karzai ini, tak mungkin dapat ia selesaikan, karena Karzai hanyalah seorang ‘puppet’ (boneka) Barat,yang pasti ia menjalankan misi mereka,yang ingin memerangi ‘hantu’ yang disebut teroris. Padahal, tindakan agresi militer Amerika dan Sekutunya, kejahatannya melebihi tindakan teroris. (Mi/aljz).
Lainnya (Arsip)
- Pemerintahan Kuwait Bubar
Rabu, 26/11/2008 11:25 WIB - Puluhan Warga Yordania ke Israel
Selasa, 25/11/2008 16:20 WIB - Partai Sekuler Turki Bangun Masjid, Dukung Jilbab
Selasa, 25/11/2008 14:59 WIB - Fidel Castro: Al-Qaidah, Alat Hegemoni AS
Selasa, 25/11/2008 14:24 WIB - Tim Ekonomi Obama, Siapa Sebenarnya Mereka?
Selasa, 25/11/2008 10:34 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




