Kecaman Meluas Terhadap Ulama Saudi yang Bolehkan "Ikhtilat"

Pernyataan kontroversial direktur pada lembaga Amar Ma'ruf nahi Munkar perwakilan kota Makkah - Syaikh Ahmed Bin Qassim Al-Ghamdi yang membolehkan ikhtilat antara pria dan wanita yang bukan mahram khususnya di kampus- telah menimbulkan kritikan yang meluas bukan hanya di dalam Saudi sendiri maupun di luar negeri.
Mufti kerajaan Saudi setidaknya telah menerima lebih kurang 4.500 telegram yang yang mencela dan mengecam pernyataan Syaikh Al-Ghamdi yang membolehkan ikhtilat yang di publikasikan di surat kabar Saudi "Okaz".
Beberapa sumber menyatakan bahwa lebih dari 11 anggota dari kepala departemen, di samping sejumlah staf dan manajer di beberapa perusahaan, mengeluarkan pernyataan kecaman terhadap pernyataan Syaikh Al-Ghamdi dan mereka menuntut adanya penyelidikan terhadap syaikh tersebut, terutama karena mereka saat ini menghadapi rasa malu dalam pekerjaan mereka yang telah memisahkan antara pria dan wanita dalam satu pekerjaan dan ruangan.
Syaikh Al-Ghamdi telah memberikan pernyataan soal bolehnya ikhtilat dalam sebuah artikel yang dipublikasikan selama dua hari berturut-turut di surat kabar 'Okaz" Saudi pada hari Rabu dan Kamis, terkait adanya kontroversi yang muncul setelah pembukaan kampus King Abdullah University of Science and Technology (KAUST) yang membolehkan para mahasiswa bercampur baur di dalam kelas maupun di luar kelas.
Syaikh Al-Ghamdi berargumen bahwa semua teks yang Shahih jelas memperlihatkan dibolehkannya bagi wanita dan pria bercampur baur meskipun bukan mahramnya, karena menurutnya selama ini juga telah terjadi ikhtilat di masyarakat luas seperti di pasar dan tempat-tempat umum lainnya.
Pernyataan Syaikh Al-Ghamdi tersebut telah mendapat kritikan dari sejumlah ulama Saudi maupun ulama-ulama di luar negeri dan mereka menganggap pernyataan syaikh Al-Ghamdi yang membolehkan ikhtilat sebagai persoalan serius dan bisa jadi penghinaan terhadap hukum syariat.
Sebelumnya kerajaan Saudi telah memecat Syaikh Saad bin Nasser Al-shithri dari dewan ulama senior Saudi karena kecamannya terhadap kampus yang didirikan oleh Raja Abdullah kampus King Abdullah University of Science and Technology (KAUST) yang membolehkan ikhtilat di lingkungan kampus tersebut.
Akibat dipecatnya Syaikh Al-Shithri, sekelompok pendukungnya melakukan aksi balasan dengan mendeface situs surat kabar pro pemerintah Al-Watan.(fq/imo)
Lainnya (Arsip)
- Pelajar Ateis Tolak Membaca Injil dalam Pelajaran Sastra
Jumat, 18/12/2009 09:07 WIB - Ulama Malaysia Usulkan Undang-Undang Melarang Sihir
Kamis, 17/12/2009 16:34 WIB - Bank Terbesar Swiss Didenda Ratusan Juta Dollar
Kamis, 17/12/2009 16:03 WIB - Pejabat dan Diplomat AS Tak Bisa Seenaknya Lagi Masuk Pakistan
Kamis, 17/12/2009 14:15 WIB - Mahkamah Agung Pakistan : Tidak Ada Amnesty Bagi Politisi Korup
Kamis, 17/12/2009 14:15 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




