• Senin, 26 Ramadhaan 1431/ 6 September 2010
 
 

Kembalinya Afghanistan Era 80'an

Ini adalah deja vu pada skala besar dan berdarah. Jenderal Stanley McChrystal, komandan AS di Afghanistan, memberi saran kepada presidennya bahwa "orang-orang Afghanistan mengalami krisis kepercayaan karena perang melawan Taliban tidak membuat hidup mereka lebih baik." Mengubah kata "Taliban" untuk "Mujahidin", dan Anda memiliki pengulangan yang tepat apa yang Rusia alami seperempat abad lalu.

Seperti NATO hari ini, Kremlin menyadari pasukannya memiliki sedikit sekali kendali di luar kota-kota utama. Persamaannya tidak berakhir di sana. Rusia menyebut musuh-musuh Afghanistan mereka sebagai dukhy atau hantu, selalu ada tapi tidak terlihat, seperti yang tersembunyi di dalam kematian ketika masih hidup.

Pemerintah Soviet tidak pernah mengundang wartawan Barat, tapi Anda bisa melacak veteran perang Afghan di Moskow yang muram hidupnya. Mereka terkena wajib militer, tidak seperti Inggris dan pasukan AS, jadi mungkin kemarahan mereka sangat meledak-ledak jika diingatkan tentang Afghanistan.

Tapi berapa banyak veteran Inggris akan berbagi sentimen-sentimen yang terus terngiang-ngiang di telinganya: "Kau ingat seorang ibu yang kehilangan anaknya. Ibu itu terus berkata," Ia telah menunaikan tugasnya. Ia menunaikan tugasnya sampai akhir." Itu hal yang paling tragis. Tugas apa? Ya, tugas apa yang telah ditunaikan oleh anak seorang ibu di Afghanistan?

Setiap kali pasukan Inggris yang berada di dalam mobil lapis baja melewati pasar-pasar dan jalan-jalan yang kosong, semua orang Russia berkata semua itu adalah sebuah kesia-siaan perang belaka.

Ketika kembali ke Moskow, para tentara Russia merasa muak. Mereka mulai bisa berpikir. “Perlahan, sangat perlahan, setelah perang, Anda mulai berpikir, membayangkan, mengingat apa yang terjadi, desa-desa yang rusak, ekspresi wajah orang, dan sebagainya,” sesal sebagian bekas prajurit Russia di Afghan.

Rincian Perang Soviet berbeda dari hari ini. Taliban yang merupakan kelanjutan dari kaum Mujahidin yang tangguh menghadapi AS dan NATO yang merupakan replika dari Russia. Para tentara Russia banyak berpesan, “Jangan menganggu perempuan. Jangan pergi ke kuburan. Jangan masuk ke masjid.”

Perbedaan yang besarnya, sejauh ini, adalah bahwa setelah bertahun-tahun kerugian dari kepemimpinan Soviet yang kejam adalah kesadaran untuk tidak pernah bisa memenangkan perang.

Mikhail Gorbachev mencoba berbicara dengan musuh untuk membentuk koalisi pemerintah Afghanistan (kondisi saat ini "Apakah kita berbicara dengan Taliban?"), tetapi ketika mereka dan para pendukung Barat menolak, dia tidak tahu pula apa yang harus dilakukan berikutnya. Sementara tentara Russia banyak yang tergerus, tewas memperjuangkan sesuatu yang tak tentu.

Apakah Barack Obama memiliki akal sehat untuk melakukan hal yang sama? Pada bulan Januari 1989, enam minggu sebelum Rusia menyelesaikan penarikan mundur, sebuah tulisan muncul di koran, bahwa sesuatu di tahun 80-an dulu, sangat mungkin terjadi lagi hari ini dengan AS dan NATO sebagai Russia-nya. (sa/prisonerofjoy)

Rabu, 23/12/2009 14:40 WIB | email | print | share
 
 
 
 

Dunia Lainnya

Dunia
membuka hati dan pikiran kita
 
   
 
 

PELUANG

 
 
 

Simulasi Tabungan Rencana
Menabung adalah bagian dari perencanaan keuangan untuk masa depan. Namun, terkadang dengan segala kebutuhan dan kenaikan harga kebutuhan sehari-hari terkadang menabung adalah ...

Kartu ATM SiAga Syariah
Fasilitas layanan kepada nasabah untuk melakukan transaksi perbankan dengan perangkat mesin ATM (Automated Teller Machine) yang dimiliki atau ditunjuk oleh Bank Bukopin a. Man...

Giro Utama iB
Giro Utama iB, adalah rekening koran wadiah dari Bank Mega Syariah yang memungkinkan Anda mengelola dana dengan nyaman sesuai kebutuhan. Menyimpan dana sesuai syariah dan mend...

BNI Syariah KC Jaktim Sukses Galakkan Tabungan iB Masuk Sekolah
Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah Kantor Cabang Jakarta Timur melalui Tabunganku iB yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia menggalakkan Tabungan ini ke sekolah-sekolah. Progra...

 
 
 
 
 
 
 
Education Corner

Anak Pemarah

Saya wanita bekerja dengan 4 anak yg masih kecil-kecil paling besar kelas lima SD, saya membesarkan anak-anak sendiri tanpa didampingi suami karena suami jauh. Karena saya sendiri kadang-kadang dalam mendidik anak saya terlau emosional.

 
Dompet Peduli Kemanusiaan

Dr. Indah SPKK, Rawat Pasien dengan Senyum Indah

Ketika ditanya apa alasannya mau menjadi relawan di LKC, Dokter Indah menjawabnya dengan senyuman. "Motivasinya hanya untuk berbagi dengan sesama."

 
Dompet Peduli Kemanusiaan

Pengungsi Sinabung, Logistik Masih Minim

Aktivitas vulkanik Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumut beberapa hari ini cenderung menurun. Namun, segala kemungkinan bisa saja terjadi, seperti meletusnya gunung ini Minggu (29/8) dini hari yang di luar prediksi para ahli.