Russia dan Kenangan Mujahidin Afghanistan 80-an.

Selasa, 08/09/2009 07:45 WIB | Arsip | Cetak

Inilah déjà vu. Jenderal Stanley McChrystal, komandan AS di Afghanistan, barangkali akan mengatakan kepada presidennya, “Rakyat Afghanistan didera krisis kepercayaan karena perang terhadap Taliban tidak membuat hidup mereka menjadi lebih baik.”

Gantilah kata ‘Taliban’ dengan ‘Mujahidin’, maka akan Anda akan mendapatkan pengulangan dari apa yang telah Russia alami satu abad lalu.

Seperti NATO sekarang, Kremlin sadar bahwa pasukannya menguasai sedikit sekali kota-kota di Afghanistan. Russia menyebut Mujahidin “hantu”, ada namun tak terlihat, kematian tersembunyi namun mereka hidup. Sean Smith, seorang fotografer pro, ingin sekali memotret mayat pejuang Taliban, namun ia tak pernah menemukannya.

Pemerintah Soviet tak pernah mengundang reporter Barat, namun kita semua bisa melihat para veteran perang Afghan di Moskow dalam rumah-rumah yang murung.

Adalah Yuri, salah satu veteran Russia dalam perang Afghanistan. Baginya, yang pertama terbayang di matanya tentang Afghanistan di kepalanya adalah betapa minimnya kontak yang ia dan rekan-rekannya lakukan dengan masyarakat Afghanistan yang seharusnya mereka tolong. “Kami biasanya hanya berhubungan dengan anak-anak yang desanya kami lalui. Mereka selalu tampak. Menukar atau membeli barang. Harganya murah. Kami berhubungan hanya dengan sarandoy—polisi Afghanistan.”

Selama di Afghanistan, Yuri selalu resah. “Di sana, Anda selalu ingin bangun cepat-cepat. Ingin cepat menembak, walau Anda sangat malas melakukannya. Setelah perang, perlahan-lahan, Anda mulai berpikir, mulai membayangkan, mengingat apa yang telah terjadi, desa-desa yang hancur, atau ekspresi orang-orang. Tak semua orang Afghan mengerti. “ tambahnya.

Detil perang Soviet jauh berbeda dengan keadaan hari ini. Para pejuang Afghanistan menggunakan ranjau primitif dibandingkan dengan sekarang yang rumit. Tanpa ada peminai infrared, posko Russia mudah sekali dihancurkan. Namun, yang tak pernah berubah dari pejuang Afghanistan adalah gerilyawannya—inilah yang juga tak bisa diselesaikan oleh NATO dengan helikopter dan serangan udaranya.

Yang paling ditakutkan oleh Russia adalah—Anda jangan tertawa!—hantu. Ya, ketakutan akan hantu. Orang-orang Russia selalu diberi tahu, “Jangan bergaul dengan masyarakat. Jangan melihat perempuan. Jangan memasuki kuburan, jangan masuk ke masjid.” Operasi Kremlin di Kabul sungguh samar-samar dalam segi alasan. Russia tidak perlu mengklaim terorisme untuk menghentikan Kabul.

Perbedaan besarnya, sejauh ini, setelah bertahun-tahun, Russia menyadari bahwa perang di Afghanistan tak mungkin dimenangkan. Mikail Gorbachev mencoba meyakinkan pemerintahannya, namun ia ditolak. Jauh di lubuk hatinya, Russia tahu, kaum Mujahidin tidak bisa mereka kalahkan. “Moskow bahkan merasa harus mengganti pemimpinnya karena hal ini.”

Sebagian besar, itu pula yang tengah terjadi di Afghanistan. Silakan Anda merayakan pemilu, Karzai, namun perjuangan rakyat Afghanistan belumlah selesai. (sa/guardian)

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Dunia

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang