Russia dan Kenangan Mujahidin Afghanistan 80-an.

Inilah déjà vu. Jenderal Stanley McChrystal, komandan AS di Afghanistan, barangkali akan mengatakan kepada presidennya, “Rakyat Afghanistan didera krisis kepercayaan karena perang terhadap Taliban tidak membuat hidup mereka menjadi lebih baik.”
Gantilah kata ‘Taliban’ dengan ‘Mujahidin’, maka akan Anda akan mendapatkan pengulangan dari apa yang telah Russia alami satu abad lalu.
Seperti NATO sekarang, Kremlin sadar bahwa pasukannya menguasai sedikit sekali kota-kota di Afghanistan. Russia menyebut Mujahidin “hantu”, ada namun tak terlihat, kematian tersembunyi namun mereka hidup. Sean Smith, seorang fotografer pro, ingin sekali memotret mayat pejuang Taliban, namun ia tak pernah menemukannya.
Pemerintah Soviet tak pernah mengundang reporter Barat, namun kita semua bisa melihat para veteran perang Afghan di Moskow dalam rumah-rumah yang murung.
Adalah Yuri, salah satu veteran Russia dalam perang Afghanistan. Baginya, yang pertama terbayang di matanya tentang Afghanistan di kepalanya adalah betapa minimnya kontak yang ia dan rekan-rekannya lakukan dengan masyarakat Afghanistan yang seharusnya mereka tolong. “Kami biasanya hanya berhubungan dengan anak-anak yang desanya kami lalui. Mereka selalu tampak. Menukar atau membeli barang. Harganya murah. Kami berhubungan hanya dengan sarandoy—polisi Afghanistan.”
Selama di Afghanistan, Yuri selalu resah. “Di sana, Anda selalu ingin bangun cepat-cepat. Ingin cepat menembak, walau Anda sangat malas melakukannya. Setelah perang, perlahan-lahan, Anda mulai berpikir, mulai membayangkan, mengingat apa yang telah terjadi, desa-desa yang hancur, atau ekspresi orang-orang. Tak semua orang Afghan mengerti. “ tambahnya.
Detil perang Soviet jauh berbeda dengan keadaan hari ini. Para pejuang Afghanistan menggunakan ranjau primitif dibandingkan dengan sekarang yang rumit. Tanpa ada peminai infrared, posko Russia mudah sekali dihancurkan. Namun, yang tak pernah berubah dari pejuang Afghanistan adalah gerilyawannya—inilah yang juga tak bisa diselesaikan oleh NATO dengan helikopter dan serangan udaranya.
Yang paling ditakutkan oleh Russia adalah—Anda jangan tertawa!—hantu. Ya, ketakutan akan hantu. Orang-orang Russia selalu diberi tahu, “Jangan bergaul dengan masyarakat. Jangan melihat perempuan. Jangan memasuki kuburan, jangan masuk ke masjid.” Operasi Kremlin di Kabul sungguh samar-samar dalam segi alasan. Russia tidak perlu mengklaim terorisme untuk menghentikan Kabul.
Perbedaan besarnya, sejauh ini, setelah bertahun-tahun, Russia menyadari bahwa perang di Afghanistan tak mungkin dimenangkan. Mikail Gorbachev mencoba meyakinkan pemerintahannya, namun ia ditolak. Jauh di lubuk hatinya, Russia tahu, kaum Mujahidin tidak bisa mereka kalahkan. “Moskow bahkan merasa harus mengganti pemimpinnya karena hal ini.”
Sebagian besar, itu pula yang tengah terjadi di Afghanistan. Silakan Anda merayakan pemilu, Karzai, namun perjuangan rakyat Afghanistan belumlah selesai. (sa/guardian)
Lainnya (Arsip)
- Saudi Tutup Masjid-Masjid Syi’ah
Selasa, 08/09/2009 04:23 WIB - Penasehat Obama Mengundurkan Diri Terkait 9/11
Senin, 07/09/2009 19:24 WIB - Muslim Uighur Dilarang Berpuasa Ramadhan
Senin, 07/09/2009 16:04 WIB - Perang Saudi Terhadap Jins
Senin, 07/09/2009 15:42 WIB - Krisis Ekonomi Jadi "Berkah" Buat Para Tahanan di Penjara AS
Senin, 07/09/2009 15:27 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




