Saudi Diduga Melakukan Penyiksaan Tahanan

Kamis, 04/02/2010 12:31 WIB | Arsip | Cetak

Aktivis dari organisasi Hak-Hak Sipil dan Poltik di Arab Saudi mengirimkan surat terbuka pada Raja Abdullah.

Mereka mendesak pihak kerajaan untuk menyelidiki dugaan tindakan sewenang-wenang yang dilakukan kementerian dalam negeri Saudi dengan mengatasnaman "perang melawan terorisme".

Organisasi tersebut menuding kementerian dalam negeri Saudi telah melakukan praktek-praktek penyiksaan terhadap para tahanan di penjara dan skala penggunaaan kekerasan itu sudah makin meluas.

"Kami menyerukan pemerintah untuk membentuk komisi pencari fakta untuk melindungi hak-hak politik masyarakat dari ancaman tindakan sewenang-wenang yang mengatasnamakan perang melawan teror, demi keamanan dan membela kepentingan Islam," kata para aktivis itu dalam surat terbuka mereka.

Menurut mereka, pembatasan atas kebebasan berekspresi dan minimnya reformasi di Saudi memicu aksi-aksi kekerasan dan ekstrimisme di negeri itu. Pemerintah Saudi juga dinilai menghambat dan menghalang-halangi gerakan-gerakan yang menyerukan reformasi di Saudi.

"Pihak yang tidak menginginkan reformasi setidaknya ikut andil dalam munculnya aksi-aksi kekerasan, karena sarana untuk menyampaikan ekspresi dengan damai dihambat. Dan kementerian dalam negeri terus menerus menekan pada aktivis yang mengkampanyekan reformasi politik di Saudi," tukas kelompok tersebut.

Pemerintah Saudi melarang berdirinya partai politik, perkumpulan-perkumpulan bahwa lembaga swadaya masyarakat pun dilarang. Para aktivis pro-demokrasi di Saudi kerap menjadi korban penangkapan dan penahanan tanpa dikenai dakwaan atau melalui proses hukum.

Mereka menyatakan, kementerian dalam negeri telah menangkap ribuan orang dengan tuduhan terorisme. Dari ribuan orang yang ditangkap itu, sebagian besar diyakini hanya aktivis-aktivis yang menyuarakan aspirasi dan kritiknya terhadap pemerintah.

Untuk itu, organisasi-organisasi hak-hak sipil dan politik di AS membuat petisi dan mendesak pemerintah untuk menggelar persidangan yang fair terhadap para aktivis yang masih dipenjarakan. (ln/prtv)

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Dunia

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang