Komikus dan jurnalis asal AS, Joe Sacco menerbitkan komik yang bercerita tentang pembantaian Israel terhadap warga Palestina di Rafah dan Khan Younis, yang terjadi pada tahun 1956. Komik itu resmi beredar di AS sejak hari Selasa (5/1).
Sacco mengatakan, komik yang diterbitkannya bercerita tentang sebuah masyarakat yang berulangkali didzolimi. Ia melibatkan sejumlah periset sebelum membuat komik tersebut dan yang membuat mereka terkejut, mereka sulit sekali mendapatkan referensi dalam bahasa Inggris tentang peristiwa pembantaian itu.
Untuk mengumpulkan informasi atas peristiwa itu, Sacco dua kali berkunjung ke Jalur Gaza antara bulan November 2002 dan bulan Maret 2003. Di Gaza, ia mewawancarai warga Palestina yang menjadi saksi mata peristiwa tahun 1956 itu. Dan akhirnya, komikus berusia 49 tahun itu berhasil menyelesaikan novelnya yang berbentuk komik setebal 400 halaman berisi gambar-gambar komik hitam putih yang menceritakan dengan detil dua hari pembantaian yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina.
Tepatnya tanggal 3 November 1956, Israel melakukan invasi ke kota Khan Younis di Jalur Gaza dan kota Rafah lewat perbatasan Mesir. Tentara-tentara Zionis itu dengan keji mengepung warga kedua kota tersebut dan menembaki warga Palestina di rumah-rumah mereka dan di jalan-jalan. Data PBB menyebutkan, 400 warga Palestina gugur syahid dalam peristiwa itu, 275 orang syahid di Khan Younis dan 111 orang syahid di Rafah.
Sacco mengatakan, peristiwa keji itu tidak berdiri sendiri, tapi bagian dari sebuah perang panjang yang terlupakan. Ia meyakini, bukunya yang mengungkap kekejian Israel tahun 1956 itu juga menjadi gambaran kondisi rakyat Palestina sekarang ini. Ia menolak tudingan sebagai orang Palestina yang mengatakan bahwa dirinya hanya ingin mengeksploitasi penderitaan rakyat Palestina.
Sacco berharap, buku barunya "Footnotes in Gaza" bisa menempatkan perjuangan rakyat Palestina yang masih berlangsung hingga sekarang ke dalam sebuah perspektif sejarah.
"Ketika saya tumbuh dewasa, banyak sekali berita-berita Palestina di televisi dan berita-berita itu selalu dikaitkan dengan terorisme. Saya tidak pernah diberi konteks atas informasi-informasi tersebut, mengapa rakyat Palestina begitu menderita," ujar Sacco yang pernah mendapatkan penghargaan internasional tahun 1996 atas novel komiknya tentang Palestina. (ln/iol)
Ada yang menarik di ajang Islamic Book Fair (IBF) 9th 2010 di Istora Senayan, Kamis (11/3) lalu. Sekelompok .jerapah kecil. menyambangi stand Bank Syariah Mandiri untuk menabung. Wow! Jerapah menabung?!
Impian untuk memiliki rumah barang tentu menjadi impian setiap orang. Berawal dari keinginan untuk memiliki rumah sederhana dengan harga yang murah, ketika mencari, mencari dan mencari bertemulah aku pada seorang wali murid yang tinggal disebuah perumahan, yang walaupun lumayan jauh dari tempat aku mengajar.
Saya sudah menjadi salah satu nasabah bank syari.ah, dan merasa nyaman dengan produk yang ditawarkan juga tidak ada keraguan di hati dengan urusan riba. Alhamdulillah pada tahun 2009 saya dan suami mendapat kesempatan untuk menjadi tamu Allah.
Gampang-gampang susah mencari bankir syariah. Meski stok SDM melimpah, bahkan banyak yang menanyakan ke redaksi ib.eramuslim.com mengenai lowongan bankir syariah, tidaklah begitu saja masalah bankir syariah terpenuhi.
Bank syariah, bagi Fahrizal, adalah sebuah keberkahan tak terkira. Keyakinannya terhadap sistem ekonomi syariah yang rahmatan lil .alamin membuatnya percaya kepada bank yang ber-tagline "Pertama, Murni Syariah". Kenapa?
Melarang atau menutup informasi, tidak akan efektif dalam memfilter pengaruh negatif dari media informasi, terutama internet, karena letaknya bukan di medianya, tapi pada individu itu sendiri, sejauh mana dia memiliki imunitas.
Sosok yang bercitra mulia ini selalu hadir di lokasi-lokasi bencana. Baik bencana alam maupun bencana kemanusiaan. Kadang hadir apa adanya, tanpa seragam dan atribut.