Komisi di Belanda Bela Siswi Muslimah yang Menolak Jabat Tangan dengan Pria
Dutch Commission for Equal Treatment melontarkan kecaman terhadap sebuah pusat pendidikan di negeri itu, yang melakukan diskriminasi terhadap siswi beragama Islam yang menolak berjabat tangan dengan teman-teman sekolahnya yang laki-laki.
.jpg)
Dalam pernyataannya, komisi yang didanai oleh pemerintah Belanda ini mengatakan bahwa setiap sekolah punya kewajiban untuk tidak menerapkan sikap diskriminatif dan memperlakukan siswa dan siswinya dengan cara yang sama. "Kewajiban itu juga berlaku bagi siswa-siswi yang menolak kontak fisik dengan alasan ajaran agama mereka," demikian bunyi bagian pernyataan tersebut.
Kecaman dari Dutch Commision for Equal Treatment ini berawal ketika sebuah pusat pendidikan di kota Amersfoort menolak formulir pendaftaran untuk menjadi asisten pendidik dari seorang Muslimah. Alasan dari pusat pendidikan itu, karena berjabat tangan adalah bagian dari pendidikan sehari-hari.
Sementara Komisi berpendapat bahwa berjabat tangan di sekolah bukanlah hal yang penting karena masih banyak cara lain dalam berkomunikasi dengan laki-laki.
Fatima Amghar menolak berjabat tangan dengan laki-laki koleganya dengan alasan agama Islam yang dipeluknya melarang kontak fisik dengan laki-laki yang usianya di atas 12 tahun.
Kasus serupa menjadi headline surat kabar-surat kabar di Belanda, ketika seorang imam menolak berjabat tangan dengan Menteri Imigrasi Rita Verdonk dalam sebuah acara di depan publik.
Warga Muslim di Belanda saat ini diperkirakan berjumlah satu juta orang atau sekitar 6 persen dari total penduduk Belanda. Warga Muslim di negeri Kincir Angin ini mengalami banyak tindakan diskriminatif dan penyerangan sejak peristiwa terbunuhnya sutradara film Theo Van Gogh pada 2004 lalu. Gogh dibunuh oleh warga Belanda keturunan Maroko, setelah sutradara itu membuat film yang menuding Islam melakukan kekerasan terhadap perempuan.
Organisasi pemantau penegakkan demokrasi di Eropa, Organization for Security and Cooperation in Europe (OSCE) mengungkapkan keprihatinannya pada akhir Mei 2004 lalu atas makin meningkatnya perlakuan diskriminatif terhadap warga Muslim di Belanda dan 'iklim ketakutan' yang sengaja diciptakan bagi warga Muslim di negeri itu. (ln/iol)
Lainnya (Arsip)
- Inggris Akui Peran Besar Warga Muslim bagi Kemajuan Inggris
Rabu, 29/03/2006 12:06 WIB - Hari ini, Gerhana Matahari Total Melintasi Sejumlah Negara
Rabu, 29/03/2006 12:03 WIB - Warga Muslim yang Murtad di Afghanistan, Akan Dapat Suaka Politik dari Italia
Rabu, 29/03/2006 07:57 WIB - Undang-Undang Imigrasi Ancam Nasib Jutaan Imigran Ilegal di AS
Selasa, 28/03/2006 14:48 WIB - Ismail Haniyah Ingin Dialog dengan Kelompok Negara Kwartet
Selasa, 28/03/2006 13:52 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




